Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 53 Maafkan Aku


"Aku akan kembali ke Amerika besok pagi". Akhirnya keluar juga kalimat dari bibir Mario.


Raisa menatapnya dalam diam, hanya debaran dadanya terlihat menahan segala perasaan di hatinya yang terluka.


Raisa belum lagi selesai menetralkan debaran jantungnya, pria itu sudah kembali memberi kejutan dengan kalimat yang lebih membingungkan.


Apa maksudnya? menikahinya, menyentuhnya sebentar lalu meninggalkannya disaat Raisa nyaris kalah dan merelakan dirinya.


"Apa mau pria ini sebenarnya? ". Raisa hanya bisa memegang ujung gaunnya kesal.


" Istirahatlah, setelah sore kita keluar dari sini". Mario menatap Raisa dalam lalu melangkah mendekati pintu, pria itu keluar dan menutup pintu, meninggalkan Raisa yang diliputi kebingungan, juga jantung yang berdebar gelisah.


*


Raisa akhirnya tertidur, tubuh dan hatinya merasakan kelelahan, gadis itu tertidur tanpa mengganti gaunnya.


Mario masuk ke kamar saat Raisa terlelap, ditatapnya wanita yang sudah membuatnya tidak bisa bernalar jernih itu.


Tubuh molek dengan paras cantik dan bibirnya yang selalu menggoda keinginan Mario untuk menyentuhnya sejak pertama mereka bertemu.


Baru saja, Mario begitu berat harus memutuskan gairah yang sudah sampai dipuncak ubun-ubunnya.


Mario pergi dengan cepat ke kamar sebelah, menyiram seluruh tubuhnya, membasahi dirinya di bawah pancuran agar keinginan menyentuh Raisa segera padam.


"Kau sungguh cantik sayang, sangat menarik". Mario tersenyum memandangi wajah Raisa.


"Maafkan aku... ". Mario berlutut di depan ranjang itu, dengan kedua tangan menyentuh pinggir kasur dimana Raisa tertidur, sayang Raisa tidak melihatnya.


" Maafkan. ....aku sudah memaksamu terjebak untuk menikah denganku". Bisik Mario sendu.


"Aku tidak bisa melihatmu dekat dengan pria lain, kau mencoba mengabaikan ku, perasaanmu, hatimu teramat baik tidak ingin menyakiti orang lain, biar aku yang memutuskan untuk kita berdua". Suara Mario rendah.


" Aku lakukan ini karena aku sangat menyukaimu, mungkin rasa ini cinta, maafkan... aku belum bisa mengucapkannya didepanmu". Mario sekali lagi berbicara nyaris berbisik, tangannya ingin menyentuh wajah Raisa, namun ditariknya lagi.


Raisa sangat nyenyak, wajah itu terlihat tenang dan damai, sangat mempesona sekaligus memabukkan.


"S****t.. " Mario mengusak rambutnya frustasi, diusapnya mukanya dengan perasaan menggebu.


Mario berdiri meraih selimut, lalu menyelimuti tubuh Raisa, kemudian melangkah keluar.


*


Raisa terbangun ketika merasakan semilir angin menerpa kulitnya, dipandanginya seisi kamar, tidak ada yang berubah, mungkin Mario tidak pernah masuk lagi, sejak keluar tadi.


Raisa hendak meraih tas ranselnya yang berada diatas meja , namun matanya tertuju pada paperbag besar di sudut tempat tidur, diraihnya paper bag itu untuk melihat isinya.


Ternyata beberapa stelan baju wanita, sebuah bathrobe dan handuk, berikut perlengkapan mandi, Raisa menghela nafas.


"Ck.... dia memang sudah merencanakan semuanya". Fikirnya.


Tak ingin terlalu banyak berfikir, Raisa segera meraih perlengkapan mandi dan masuk ke kamar mandi.


Kamar mandi itu lumayan besar dan terdapat vitrage antara tempat mandi dan ruang kosong dimana ada cermin dan nakas kecil sehingga memungkinkan Raisa berganti baju didalamnya.


Raisa keluar kamar mandi sudah selesai berganti baju.dan merapikan rambutnya.


Ternyata sudah ada si mbok yang tadi pagi menemani berdandan.


Si mbok tersenyum sopan dan hormat begitu melihat Raisa keluar.


"Silahkan makan dulu non, ini si mbok antar kesini atas perintah tuan muda, neng pasti lapar, sejak pagi belum makan apa-apa". Si mbok menunjuk hidangan diatas meja dekat sofa.


"Saya tinggal dulu non, sebentar saya kembali kalau non sudah selesai". wanita itu undur diri.


" Baik mbok, silakan ".


Raisa memandangi hidangan yang tersaji, sangat lengkap dan cukup mewah.


" Apakah tadi sempat ada perjamuan? ". Raisa berfikir mengingat tadi dirinya hanya berasa di dalam kamar saat akad nikah berlangsung.


" Mungkinkah ada beberapa tamu tadi? minimal para saksi". Gumam Raisa, sedikit kecewa kala mengingat ia bahkan tidak memiliki saksi dari fihaknya.


Pernikahan macam apa yang dilakoninya ini? Ia belum pernah menikah, setidaknya ia berhak mendapatkan resepsi pernikahan, minimal sebuah perjamuan sederhana dimana ia bisa mengundang keluarga terdekat dan rekan-rekan seprofesinya.


Untuk menyesalinya pun sudah terlambat, ia perlu berfikir saat ini, apa yang akan disampaikannya pada orang-orang terdekatnya nanti?


Pada Sinta, dan Darren, apa yang akan disampaikan pada kedua keluarga paling dekatnya itu?


Mbak Nisa, apakah kakak ipar Mario itu tahu? rasanya tidak mungkin kak Nisa mengijinkan pernikahan model begini.


Wieke dan juga Naomi. Adik Mario itu pasti tidak tahu, tidak ada tanda-tanda Mario akan segila ini? bukankah semua tahu, Mario sedang di Amerika.


Lalu Nadya dan Sisca. Keduanya memiliki kepentingan pribadi dengan Mario, Raisa tidak dapat membayangkan dirinya akan disebut palakor.


Raisa, si ibu Kepsek punya affair dengan Bos Proyek Arena olahraga di belakang sekolahnya, alamak...


Raisa menikmati makan siangnya, yang sudah terlambat itu dengan separuh hati.


Si mbok sudah selesai merapikan peralatan makan yang digunakan Raisa barusan.


Raisa berdiri di dekat jendela memperhatikan sekeliling villa yang cukup indah dengan teman-teman bunga yang nampak terawat.


Ternyata ada sebuah air terjun buatan yang menempel di dinding nampak indah menghiasi taman di sudut villa.


Air terjun yang terhubung langsung dengan kolam ikan berukuran kecil di depannya, beberapa tanaman air tampak terapung di permukaan kolam.


Raisa dapat mendengar suara gemericik air dari tempatnya berdiri di dekat jendela, suara air jatuh itu menimbulkan perasaan damai dan menenangkan.


Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama, serombongan penunggang kuda muncul dari balik tebing.


Raisa yang merasa tertangkap basah, merasa bodoh dengan situasinya, pelan ia memundurkan tubuhnya ke dalam kamar ketika menyadari salah satu penunggang kuda adalah Mario.


Pria itu nampak mempesona menunggangi seekor kuda coklat, mengenakan jeans dan kaos hitam ketat menampilkan tubuhnya yang berotot.


Malang bagi Raisa, karena Mario sempat menangkap bayangannya yang berusaha bersembunyi.


Namun itu lebih baik bagi Raisa, alangkah konyolnya jika ia tetap disana menunjukkan wajah permusuhan dibawah tatapan orang-orang desa yang mungkin saja sudah tahu keadaan mereka.


Raisa memundurkan tubuhnya dan memilih duduk kembali di sofa sambil memainkan ponselnya, ia mencoba menghubungi nomor ponsel Sinta.


Stafnya, sekaligus adik orang yang sudah seperti adik itu tentu mulai mencemaskan dirinya.


Semalam mereka sudah saling menghubungi, Raisa sudah mengatakan ia akan menaiki Mobil penumpang yang berangkat pagi.


Seharusnya sekarang ia sudah sampai mengingat jarak kota dan daerah tempat tinggalnya memakan waktu 7 jam perjalanan.


"Ck.... " Raisa berdecak, ponselnya belum dapat terhubung, entah mengapa ia merasa Mario sudah melakukan sesuatu hingga ponselnya tidak berfungsi.


"Yah... mungkin saja, Raisa teringat, tadi pagi saat masuk ke kamar kecil, ponsel ada di dalam tas ranselnya, dan tas ransel itu masih ada didalam mobil, lalu bagaimana tas ransel itu bisa ada di kamar ini?


Mungkin saja saat itu, Mereka sempat mengutak atik ponselnya, Raisa merasa curiga.