
Sinta segera membuka pintu saat terdengar ketukan, dia sudah tahu yang datang adalah Raisa, karena dia sudah dihubungi sejak beberapa jam yang lalu.
Yang sangat ingin diketahui Sinta adalah kemana Raisa seharian? mengapa baru tiba tengah malam?
Sementara sejak kemarin malam, Raisa sudah mengabarkan akan pulang dengan mobil pagi.
Tapi sampai malam hari, Raisa belum juga sampai bahkan teleponnya susah dihubungi, sejak pagi terlihat tidak aktif.
Lalu tiba-tiba saja sore harinya mengabarkan akan tiba beberapa jam lagi.
Sinta fikir, Raisa kehabisan kuota internet dan belum sempat membeli saat di jalan tadi, meskipun cukup mengherankan mengingat Raisa selalu tepat waktu mengisi kuota.
"Kak Raisa bikin Sinta cemas, tidak biasanya kak Raisa telat begitu sampainya, berjam-jam lagi". Sinta berceloteh sambil meraih tas Raisa berikut beberapa bungkusan.
Raisa terpaksa hanya senyum, di liriknya beberapa bingkisan tambahan yang diturunkan Erik tadi, jelas itu bukan miliknya.
Oleh-oleh yang dibawa Raisa hanya 1 kantongan besar, tapi ini bertambah menjadi 5 kantongan.
Tidak mungkin Erik tidak menyadari, ini pasti ulahnya atas instruksi Mario.
"Eh... Rik, kenapa banyak bagitu, itu bukan milikku". Cegah Sinta tadi.
" Ah syukurlah, kantongan ini menyelamatkanku". gumam Erik tidak kedengaran.
"Apa Rik, apa maksudnya? ". Raisa tidak mengerti, ada apa dengan Erik?
" Ah bukan apa-apa, kantongan ini oleh-oleh buat dek Raisa". Lega Erik akhirnya karena kantong-kantong ini, Rsisa mau menyapanya lagi.
"Kak... ". Sinta memanggil Raisa yang nampak termenung.
" Ah maafkan kakak Sin, kuota habis tiba-tiba", Raisa terpaksa beralasan kuota habis.
"Tuh kan, Sinta juga fikir begitu". Sinta mengiyakan ucapan Raisa.
" Kak Raisa tidak naik mobil yang biasa? ". Masih Sinta yang bicara
" iya". Jawab Raisa pendek
"Mobilnya sudah pergi? ". Sinta celingukan, biasanya sopir langganan menunggu hingga penumpangnya dibukakan pintu, apalagi sudah larut begini.
" Iya, melihat lampu dinyalakan, langsung pergi, buru-buru katanya, masih ada tujuannya ". Raisa beralasan, pasalnya, tidak mungkin ia berkata kalau dirinya diantar Mario.
Bukan tidak mungkin, lebih tepatnya Raisa belum bisa menjelaskan, hatinya teramat letih melewati seharian yang menegangkan, saat ini Raisa hanya ingin berbaring.
Raisa tahu, mobil Mario masih ada di sudut gerbang sekolah, mungkin menunggu sampai Raisa dibukakan pintu.
Raisa melirik dengan sudut matanya, tampak pria itu berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku, berdiri diluar sana, menunggu dirinya untuk masuk.
"Ck.... ". Raisa mencebik kesal.
" Seperti anak gadis pulang malam, yang takut ketahuan saja". Raisa bergumam kesal.
"Ya kak? ". Sinta menoleh seakan tadi didengarnya Raisa berucap sesuatu.
" hmmh... tidak ada, ". Raisa menggeleng.
" Sore tadi, Naomi sudah menelpon beberapa kali, mengira kak Raisa sudah sampai, katanya nomor HP kakak sulit dihubungi". Sinta menjelaskan keadaannya.
"Iya kan, kuota juga alasannya". Raisa tiba-tiba merasa hatinya menciut mengingat apa yang telah terjadi.
" Oh Tuhan, bagaimana keadaan besok-besok? " Resah hatinya memikirkan.
"Diam-diam ia sudah menjadi ibu sambung". Raisa merasa seolah sudah berlaku jahat pada bocah lugu itu.
" Oh ya, apa ada sesuatu yang disampaikan Naomi? ". Raisa mencoba sebiasa mungkin.
"Dia ingin penyakitnya segera hilang, jadi kalau papinya atau bundanya bepergian, ia akan ikut, begitu katanya kemarin, dia bosan katanya, penyakitnya jadi alasan dia ditinggal". Sinta terkekeh saat menceritakan ulah Naomi.
" Ya ampun, anak itu tambah dewasa saja kata-katanya". Raisa tak urung tertawa kecil.
"ya itu kak, semakin banyak saja istilah baru yang difahaminya". Sinta geleng-geleng kepala.
" Dia juga memprotes Wieke, karena kemarin Naomi menjelang malam baru di jemput, Sinta menambahkan.
"Oh ya, bilang apa Naominya?" Raisa cukup penasaran,
"Naomi bilang, Bunda Sin, ini kan sudah sore, Naomi sudah mandi, sudah tidur, sudah makan, tapi tante Wieke juga belum datang, apa wanita-wanita dewasa sangat sibuk sampai bisa melupakan anak kecil sepertinya, nanti kalau besar, dia tidak akan seperti itu katanya, kan kasian, menunggu itu tidak menyenangkan, begitu kak bahasanya". Sinta sudah tersenyum-senyum menceritakan ucapan Naomi.
Raisa ikut membelalak dan akhirnya tidak bisa menahan tawa, gemas rasanya, tiba-tiba kerinduan makin menjalarinya, rindu pada Naomi nya yang pintar, putri kecil tuan Mario itu.
"Ah makin dewasa saja anak itu". Raisa mendesah sambil tertawa kecil.
" Menggemaskan ". Raisa semakin merindukannya.
" Nah itu kak, aku sampai tidak tahan, tadi tidak sadar ku cubit pipinya karena gemas ". Sinta tersenyum.
" Apa mommnya tidak ada? ". Raisa menanyakan keberadaan Nadya.
" iya kak, sejak kemarin mommy Naomi tidak mengantar, menurut Wieke sih, ada pemotretan di Singapura selama 2 minggu.
"Oh gitu yah, ya sudah, masuk yuk, kamu pasti ngantuk, maaf sudah mengganggu istirahatmu". Ucap Raisa pelan.
*
Malam semakin larut, hening di dalam kamar, tampaknya Sinta sudah tertidur kembali, tinggal Raisa belum dapat memejamkan mata.
Berkali-kali Raisa mencoba menutup mata, namun ia tetap terjaga, suara burung-burung malam masih terdengar, bahkan desiran angin dan terpaan dedaunan di kaca jendela kamarnya di luar pun bisa didengarnya.
Dulu, pertama kali menetap disini, Raisa sedikit aneh dengan bunyi-bunyi aneh di waktu malam, suasana sekitar yang masih sarat hutan dan sawah membuat banyak burung-burung malam.
Akhirnya lama kelamaan, Raisa dapat membiasakan diri, ia bukan lagi tinggal di kota, saat malam pun kadang terdengar suara musik atau deru kendaraan, melainkan di daerah pegunungan yang cukup sepi.
Mungkin tidak lama lagi, di sekitarnya ini akan muncul suara-suara deru kendaraan dan kebisingan lainnya, bila resort dan proyek arena olahraga selesai.
Akan banyak orang berdatangan untuk mencoba menikmati fasilitas itu.
Raisa mendesah pelan, memandang langit-langit kamar yang temaram, hanya bias sinar bulan yang menerobos masuk lewat lubang ventilasi jadi penerangan kamar ukuran 3 x 4 meter itu.
Raisa masih sangat bingung dengan situasinya sekarang, semua terjadi tiba-tiba, yah sekarang statusnya seorang istri, dan konyolnya, pernikahan mereka terjadi karena pemaksaan.
Meskipun Raisa mengakui jauh di dalam lubuk hatinya, telah terukir nama seorang Mario, mungkin karena seringnya pria itu menggodanya, mengiriminya chat, walau sekedar menyapa atau rayuan gombal.
Lama kelamaan gangguan itu berubah menjadi getaran-getaran halus tiap mereka bertemu.
Seringnya mereka berinteraksi di bulan-bulan awal kehadiran Naomi, selain urusan tanahnya juga urusan perkembangan keadaan Naomi, semua itu menimbulkan perasaan khusus diantara mereka.
Malam ini, Raisa kembali merenungi semuanya, sekuat apapun ia mencoba tidak mempunyai perasaan dan berusaha menghindari Mario, itu sudah gagal.
Ternyata Mario benar-benar ingin menjeratnya, ternyata apa yang pernah diucapkannya dulu benar-benar dibuktikannya, Raisa tidak pernah menduga keinginannya sekuat itu.
Raisa selalu berfikir, pria itu hanya bermaksud menggodanya, seperti para pria yang sering mengirim salam atau mengirim chat perkenalan.
Pria ini jauh lebih berbahaya, Raisa mendesah sekali lagi, diam-diam pipinya merona saat mengingat bagaimana pria itu telah memaksa untuk menciumnya.
Raisa sungguh terguncang dengan semua kelakuannya, membuat jantungnya tidak sehat, namun ada perasaan senang yang juga menjalarinya.
Akhirnya Raisa hanya bisa menutup mukanya dengan bantal, semakin memikirkannya semakin resah dan gelisah jiwanya.