
Kehadiran Cathy, demikian Naomi memberi nama pada anak kucingnya. Tidak nampak mengkuatirkan, tidak ada gejala-gejala munculnya penyakit kulit pada Naomi. Raisa cukup lega.
Raisa sudah menelpon Pak Mario semalam, saat Naomi tidur. Penting untuk menceritakan hal ini pada pria arogan itu, Raisa tidak mau ini menjadi alat bagi pria itu untuk menekannya di kemudian hari.
Raisa tidak ingin berurusan dengan pak Mario. Jangan sampai pria itu bertindak buruk padanya, bila sesuatu terjadi pada putrinya. Apalagi dirinya dipercayakan anaknya. Sebagai pendidik Raisa harus berhati-hati. Karena sikapnya dapat berdampak pada citra sekolahnya.
Sulit bagi Raisa untuk berhadapan langsung ataupun berbicara berdua dengan pria itu, belakangan ini tatapan pria itu padanya jauh lebih intens. Sesuatu yang lain ditangkap Raisa.
Terakhir mereka bertemu dalam jarak yang dekat, sebelum pulang sekolah sesaat setelah kegiatan outbound.
Mario menatapnya dalam. Entah kenapa jantung Raisa berdetak cepat
dan berdebar-debar tidak menentu, membuatnya nyaris salah tingkah.
Mengapa pandangannya itu terasa sangat berbeda? Raisa sungguh tidak mampu mengartikannya. Mungkin lebih baik jika pria itu menatapnya dengan tatapan jahil atau menggoda. Raisa dapat menghadapinya. Raisa bisa mematahkan godaan itu dengan kata-kata nya yang menantang.
Namun, ditatap dengan pandangan dalam, dan sorot mata teduh itu. Raisa menjadi bingung dan seolah tenggelam dalam tatapan mata biru kelamnya.
Jikalau dia seorang kekasih, mungkin Raisa akan hanyut dalam tatapan itu.
Raisa memiliki gang, dan mereka disegani kaum cewek maupun cowok. Kelompok mereka mengkhususkan diri pada kegiatan party - party, kongkow di mall namun tidak muda ditaklukkan kaum cowok. Mereka angkuh dan punya daftar kriteria-kriteria cowok idola yang akan mereka jadikan teman atau kekasih.
"ehemm hmm... berat nih... " gumam Raisa sendiri. Kalau sudah begini perasaannya. Bagaimana nanti berhadapan dengan papa anak ini.
Raisa tidak ingin ada perasaan khusus disini. Selain karena ia tidak ingin terlibat masalah hati dengan siapapun saat ini. Terlebih lagi dengan pria arogan yang satu itu. Sudah menyebalkan, status pun tidak jelas,
punya anak, tapi tidak tahu pasangannya dimana? Suka main hati pula. Jangan-jangan akan muncul nanti
wanita-wanita yang mengaku kekasihnya atau ibu dari putrinya.
Sungguh tidak jelas. Raisa mengeluh sendiri.
Dipandanginya Naomi dari dalam rumah. Hari ini hari libur, sejak pagi mereka masih di rumah saja. Rencananya, ia akan mengajak Naomi ke lapangan, sebentar malam ada pasar malam, jadi seharian ini, Raisa mengajak Naomi istirahat di rumah saja.
Dan lihatlah, gadis kecil itu, tudak mau kehilangan momen bersama si Cathy. Seharian ini Naomi sibuk mengurusi kucing kecilnya, setelah kemarin mereka membeli berbagai bahan keperluan si Cathy, kini Naomi sibuk menata alat bermain untuk Cathy, biar tidak bosan katanya. Cathy perlu alat-alat bermain, seperti Naomi yang suka main luncur, ayunan. Hehehe.ada-ada saja
Raisa tetap memberi pengertian pada Naomi kalau Cathy ditaruh diluar bersama kandangnya. Bagaimana pun Raisa masih harus memantau perkembangan Naomi. Naomi belum sepenuhnya sembuh. Sudah 3 bulan kehadirannya di kota ini, sejak itu baru sekali ini penyakit itu muncul. Namun menurut Mario, tetap diwaspadai karena biasanya tiba-tiba datangnya, di saat mereka merasa sudah melindunginya, menjauhkan dari berbagai kemungkinan penyebab, ternyata bukan jaminan penyakit itu tidak muncul.