
Mungkin saja saat itu, Mereka sempat mengutak atik ponselnya, Raisa merasa curiga.
Kecurigaan Raisa belum terjawab, Mario membuka pintu dan masuk dengan kondisi sudah berpakaian rapi, pria itu pun rupanya sudah mandi.
Harum maskulin menyeruak, tubuhnya harum dan penampilannya sangat menggoda wanita , memandangnya saja bisa menggetarkan hati, namun Raisa hanya meliriknya dengan sudut mata.
Karena Raisa duduk di sofa dan di sampingnya masih kosong, Mario spontan mengambil tempat di sisi Raisa, tangannya meletakkan sebuah map di meja, lalu berucap..
"Oh aku sudah merindukanmu sayang, bagaimana aku akan betah di Amerika nanti, hemm? ". Mario meraih jemari Raisa dan mengecupnya, membuat pipi wanita itu bersemu merah, mau menarik tangannya pun percuma.
Namun Raisa sama sekali tidak bergeming, ia tidak menanggapi kehadiran Mario dengan sikap antusiasme seorang istri menyambut suaminya.
Bagaimana mungkin ia menunjukkan kegembiraan yang nyata dan spontan, mereka menikah saja karena pemaksaan pria itu.
Apakah Mario mengharapkan pelukan dan suara mendayu penuh rayuan manis? sementara Raisa belum lagi hilang keterkejutannya dari sikap semena-mena seorang Ceo Arogan yang menculiknya.
Meskipun diam-diam jauh di lubuk hatinya sudah tertulis nama seorang Mario yang kerap membuatnya panas dingin akibat ulahnya, tidak serta merta Raisa akan luluh dan memasrahkan dirinya.
Raisa memiliki perasaan dan ia juga seorang wanita dengan harga diri tinggi, wajah tampan dan memiliki kekuasaan saja tidak cukup untuk meruntuhkan imannya.
Kekayaan dan kemewahan sudah pernah dilakoni dalam hidupnya dan kenyataan pahit yang dialami keluarganya cukup untuk memberinya pelajaran, keduanya bukan yang terpenting untuk mengharapkan kebahagiaan.
Loyalitas pada keluarga, kesetiaan dan perasaan kasih lebih mendominasi dalam tujuan hidupnya.
Raisa mengharapkan ketenangan, pengertian dan perasaan saling mendukung.
Tidak apalah hidupnya jikalau harus dijalani dengan sederhana, ia sudah terbiasa, ia sudah bisa berdamai dengan keadaannya.
*
Akhirnya, Mario hanya bisa menghela nafas berat, Raisa masih membentengi dirinya, memberi jarak, sekalipun mereka sudah disahkan secara agama dan negara.
" Sshh... kau masih marah padaku? ". Mario tersenyum tipis.
" Kuharap kau menyimpan map ini, semua yang diperlukan untuk membuktikan hubungan kita sudah sah, ada disitu, termasuk buku nikah, aku pun menyimpan untukku ". Mario menatap mata Raisa dengan sorot teduh.
" Aku tidak bermaksud menyakitimu, anggaplah aku keterlaluan, sungguh aku ingin memberimu pernikahan yang meriah, namun kau berhasil memprovokasi dengan ulahmu menerima pria itu, aku tau kau ingin menghindari ku, kau salah jika berfikir aku akan diam saja". Mario bicara dengan nada rendah namun tegas.
"Kau keterlaluan, kau bahkan tidak memikirkan putrimu, keluarga kita berdua dan juga Nadya, dia masih ist.... " belum lagi ucapan Raisa selesai...
"Stop, berhenti membawa-bawa Nadya didepanku, apalagi menganggap masih ada hubungan diantara kami... ". Mario berdiri dengan rahang mengeras.
" Bersiaplah, kita akan segera kembali". Mario meninggalkan kamar itu dengan langkah lebar, punggung dan bahunya yang lebar, terbalut kaos ketat, tampak sangat perkasa.
Raisa menatap map didepannya dengan perasaan gamang, meskipun hatinya meragu tak urung diraihnya juga map tersebut untuk dimasukkan ke ranselnya.
Raisa melangkah keluar dari villa dengan diantar si mbok, wanita itu menyalaminya dengan perasaan haru, serta memintanya untuk bersabar.
wanita itu, menurut pengakuannya sudah lama ikut mengabdi pada orang tua Mario, dan sudah sangat mengenal mereka sebagai orang-orang baik.
Mario sudah berdiri di dekat mobil dan membuka pintu untuk Raisa dan menatap wanitanya dengan pandangan dalam dan datar.
Sesaat setelah menutup pintu, pria itu masuk dari sebelah yang lain, mereka duduk bersebelahan namun tidak saling sapa.
Erik duduk di depan di samping supir, dengan perasaan bersalah, karena Raisa sedikitpun tidak menyapanya.
Sebelumnya, hubungan mereka sangat baik dan cukup akrab, mengingat Erik yang paling sering mengantar jemput Naomi sebelum Wieke datang.
Erik dan Raisa layaknya kakak, adik, Raisa tidak pernah canggung atau pun mendiamkan Erik, namun kini kekakuan ikut merayapi mereka.
"Ck.... kenapa situasi ini ikut menimpanya, kenapa tidak Mario sendiri yang diabaikan, bukankah ini idenya, Erik menyalahkan bos bucinnya.
Sepanjang jalan Raisa hanya memandang keluar, tidak dihiraukannya Mario yang duduk di sampingnya, mereka larut dengan fikiran masing-masing.
Mario sejak tadi sibuk dengan laptopnya, hanya ujung matanya menangkap kepala Raisa yang mulai terantuk-antuk berusaha menahan kantuk.
Mario menutup laptopnya, melihat kepala Raisa mulai bersandar di bahu kursi, Mario beringsut mendekati.
Dibiarkan bahunya menjadi sandaran wanita cantik yang dipujanya itu, diam-diam Mario menatap bibir ranum yang mengundang hasrat untuk menyentuhnya.
Mario merasa sedikit frustasi, keinginannya untuk menyentuh wanitanya, namun cukup banyak yang dikhawatirkannya.
Raisa tidak salah dengan semua pertimbangannya, namun ia pun tidak ingin berlama-lama membiarkan Raisa menjadi incaran banyak pria.
Mario bukan tidak tahu, ada banyak pria-pria yang sering menghubunginya, untungnya Raisa bukan jenis gadis yang mudah dipengaruhi apalagi hanya rayuan gombal.
Sesuai prinsip gangnya sewaktu sekolah, gadis ini memang terlihat acuh pada kaum pria, meskipun mereka tetap berdampingan dalam situasi pekerjaan.
Mario yakin bukan tidak mungkin Raisa sedang mempertimbangkan salah satu pria itu untuk dijadikannya kekasih.
Mario tersenyum tipis, Raisa mengabaikan dirinya, dia bukan tipe yang dimasukkan dalam salah satu kriteria pilihan gadis itu.
Tapi biar saja, dia tidak perduli.
Saat menyadari gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, ia jadikan itu kekuatan untuk mengikatnya.
Mario menyentuh bibir ranum merekah dengan jarinya sangat pelan agar Raisa tidak terbangun, dadanya bergemuruh ingin menyatukan dengan bibirnya.
"Ck... ssh.... ". Mario hanya bisa mendesah resah, memiliki tapi tidak ada keberanian, apa artinya? hanya membuat kepalanya pusing, tapi lebih pusing lagi jika wanitanya dimiliki pria lain.
Akhirnya Mario hanya duduk bersandar membiarkan pundaknya jadi tumpuan, Raisa tertidur dengan lelap sementara Mario berkali-kali memejamkan mata menikmati wanginya rambut Raisa yang tergerai.
Mario belum memikirkan alasan apa yang akan diberikan pada papa mamanya nanti, pada saudara-saudaranya, termasuk si kecil Naomi, putrinya.
Mario yakin Raisa pun bingung alasan apa yang akan dia berikan pada orang-orang disekitarnya.
"Hehh... ". Lagi-lagi Mario mendesah, keputusannya memang mendadak sekali, ia membuat wanita kesayangannya kewalahan nanti untuk menjawab pertanyaan.
Mario beralih menatap mata Raisa yang masih terpejam, pelan diarahkan bibirnya mengecup kelopak mata indah itu dengan penuh perasaan.
" Maafkan aku sayang, memberimu masalah, aku berjanji, setelah ini semua, aku akan memberimu kebahagiaan ". Mario bergumam pelan di telinga Raisa.
Raisa merasa sesuatu menggelitik di dekat telinganya, perlahan membuka mata dan terkejut mendapati jarak mukanya dengan Mario teramat dekat, membuatnya membelalak.
Namun belum juga bergerak, Mario sudah merengkuh bahunya dan berucap.
"Shut.... diamlah, biarkan begini sebentar, please?! ". Pintanya, jarinya menyentuh bibir Raisa mencegahnya untuk protes.
" Dengar sayang". Bisiknya sangat pelan
"Sebentar lagi kita sampai, maaf aku hanya mengantar mu pulang, setelah itu aku langsung kembali, pekerjaanku di Amerika masih banyak, jaga ini untukku, okey". Bisiknya menyerupai gumaman sembari menunjuk dada Raisa.
Raisa belum sempat berucap, Mario menyambung lagi.
" Terserah kau mau menyimpan berita ini atau mau mengungkapkan pada semua orang, aku tidak akan mencegahmu, aku akan mengakuinya, lagi pula kau memegang dokumennya".
"Bodoh, bagaimana aku berani mengakuinya bila orang yang menjadi objek, salah satunya tidak ada disini". Raisa mencebik kesal.
Baru kali ini ada yang berani mengatasi Ceo ini bodoh, Erik dan sopir pribadi Mario, sampai membelalak kaget, takut reaksi Mario akan marah
Namun Mario tidak menunjukkan kemarahan, melainkan merengkuh bahu Raisa dan terkekeh kecil.
"Hehehe, jangan marah sayangku, sekarang berikan aku suplemen, aku membutuhkannya nanti". Spontan direngkuhnya Raisa dan disesapnya bibir itu sangat lembut dan menghanyutkan.