Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 51 Bersiaplah, Kita Menikah


"Apa maksud anda begini? Kenapa kau menahanku disini? apa salahku? " Sungguh Raisa ingin menangis, ingin meneriaki dan memakinya, namun ia sudah sangat ketakutan tadi.


Kalaupun ia tidak berteriak histeris itu karena Raisa selalu berusaha tenang, namun suaranya tercekat, ia nyaris tidak bisa mengeluarkan suara karena begitu ketakutan.


Hingga suaranya hanya serupa seruan tertahan, ditambah lagi matanya yang sudah berkaca-kaca.


Raisa hanya seorang gadis muda, meskipun ia sedikit memiliki ilmu beladiri namun kejadian hari ini begitu menyesakkan dadanya, ia terus berfikir sesuatu yang buruk akan menimpanya.


Tempat ini sangat jauh dari kampung bahkan tidak ada keramaian, hanya gunung batu, ladang, sungai dan sawah diluar sana.


Matanya masih menatap nanar, bahkan tanpa terasa, air matanya menetes deras karena begitu frustasi dengan keadaannya sekarang.


Raisa merasa lemah di sekujur tubuhnya, gadis itu terduduk di pinggir ranjang.


*


Mario berdiri di ambang pintu, wajahnya sedikit berubah, ketika tadi wajahnya dingin dan datar, kini berganti iba dan mungkin rasa bersalah terpancar disana.


Raisa menangis tanpa suara, hanya buliran bening terus membasahi wajah cantiknya, tampak sangat terpukul.


Hati Mario yang tadi diliputi kemarahan dan kecemburuan, kini berubah sungguh tidak tega, bagaimana bisa ia menyakiti wanita yang disukainya?


Tadinya Mario ingin mengancamnya, bahkan ia akan berbuat nekad seandainya Raisa menolaknya.


Mario sudah gelap mata, bahkan peringatan Erik, Asisten kepercayaannya tidak diindahkan sama sekali.


Sebelum Raisa sampai tadi, mereka sudah tiba beberapa jam lebih cepat dan kedua pria yang tidak berbeda jauh dalam umur bahkan tinggi badan Mario yang 180 cm tidak jauh berbeda dengan Erik, keduanya tadi sempat berdebat karena Raisa.


"Jangan gegabah Bos, fikirkan tuan besar dan nyonya besar, anda bisa dalam masalah". Erik mengingatkan, mengingat tadi bos nya itu mengucapkan sesuatu yang mengerikan mengenai pemaksaan.


" Diam Rik, sekali lagi kau bicara, ku potong gajimu 3 bulan". Gertak Mario.


"Eh bos, ini ..kan tidak ada hubungannya? Erik kaget, mana mungkin dia rela gajinya dipotong.


" Kalau begitu diamlah, jangan ikut campur". Mario menatapnya tajam, Erik menunduk akhirnya.


Tadinya Mario bermaksud hanya menggertak Raisa, menakut-nakutinya, kalau dirinya tidak akan menahan diri lagi, dia akan memaksa Raisa untuk menikah dengannya, dengan atau tanpa persetujuannya.


Namun melihatnya menangis, Rahang Mario mengeras, dia tidak akan menahan diri ataupun berbelas kasih lagi, kepalang basah, nyemplung saja sekalian, pria itu tersenyum miring.


"Aku ingin kau melihat dan mendengar suara seseorang". Mario berjalan mendekati Raisa yang tertunduk tak mau menatapnya.


Mario mengangkat ponselnya dan mengaktifkan video dan speaker.


" Saya serahkan Raisa... ", belum juga kalimat orang dalam video selesai, Mario menghentikan videonya. Raisa mengangkat wajahnya cepat karena kaget mendengar suara itu.


Pandangannya tertuju pada layar ponsel Mario, tampak disana seorang pria yang sangat dia hafal suara dan wajahnya, wajah yang teramat disayanginya, papinya.


"Saya serahkan Raisa sepenuhnya pada pak Mario". Mario kembali melanjutkan video itu.


" Apa maksudnya? ". Raisa berteriak tertahan.


" Kau mendatangi papaku? ". Tanyanya dengan tatapan tak percaya


Mario berdiri dengan wajah datar dan arogan, hari ini Raisa melihat pria itu sangat berbeda.


" Inikah wajah aslimu? ". Teriak Raisa lagi, semakin emosi. Mario diam saja diteriaki.


" Hubungan kami saling menguntungkan, perlu kau tahu, papa mu tidak lama lagi akan bebas, pengacara ku sudah menyerahkan semua bukti yang meringankan hukumannya ". Mario merasa ide memberitahu Raisa buruk tapi tidak ada jalan lain.


" Kenapa kau mendatangi papaku? apa maumu? ". Airmata Raisa semakin luruh, melihat wajah papanya di video, hatinya trenyuh, apa yang sudah pria ini sampaikan pada papanya yang malang.


" Kau sudah mendengarnya barusan, sekarang dirimu adalah milikku, jadi bersiaplah, kita menikah". Mario berbalik meninggalkan Raisa yang melotot tak percaya.


Tangan Mario terkepal, hatinya terasa sesak melihat gadis itu menangis.


Tanpa Raisa sadari, Mario melangkah cepat keluar dengan mata tiba-tiba berkabut, entah benar atau salah, tapi pria itu sudah memutuskan.


"Mbok, ajak beberapa orang untuk mendandani calon istriku, sekarang! ". Perintah Mario tegas tanpa menoleh, pria itu berjalan ke kamar disebelah kamar yang ditempati Raisa.


" Rik.. " panggilannya sedikit keras.


Erik datang dengan cepat, ia tidak mau lagi mendapat amukan, bos tampannya ini, jarang marah, tapi kalau sudah marah sangat mengerikan.


"Rik.... bagaimana penghulu yang kuminta? " Suaranya tegas.


"Siap bos, sudah ada di depan". Jawab Erik bangga, bukankah dirinya memang asisten yang selalu bisa diandalkan.


Apalagi dalam situasi genting begini, Erik tak mungkin main-main, atau dirinya akan dapat masalah.


Sama ketika beberapa tahun lalu, mendapati kenyataan, istrinya memiliki hubungan gelap, pria yang biasanya dingin dan sangat sibuk itu, tiba-tiba berteriak, melempar barang didekatnya hingga ruangan kantornya berhamburan, kepala Erik bahkan terkena lemparan.


Dan puncaknya ketika ia meminta Erik segera membuatkan surat gugatan ke pengadilan.


Kenyataannya, meskipun sudah melakukan mediasi, hatinya tetap tak bergeming, sangat sulit untuk memaafkan.


Hari ini, kekerasan hatinya kembali diperlihatkan, namun situasi berbeda, kali ini Mario memaksa memiliki seseorang yang belum memberi jawaban apapun.


Beberapa jam sebelumnya, mendatangi papanya di penjara dan mengutarakan keinginannya menikahi Raisa secara tiba-tiba, membuat orang tua itu ikut mengiyakan begitu saja.


*


Sementara di kamar, si mbok mendatangi Raisa..


Raisa yang masih menatap lurus dan terdiam, tidak percaya dengan kenyataan yang tiba-tiba ini, mencoba mencerna ucapan papinya,


"Menyerahkan pada pak Mario? apakah papinya ditekan? apakah papinya diancam? tapi apa tadi katanya? papi akan segera bebas? benarkah? tapi tidak mungkin pria itu berbohong". Raisa bermonolog dalam hati.


"Mari nona, kami membantu nona berdandan, tuan sudah menunggu". ucap si mbok halus.


Raisa hanya diam, membiarkan MUA bekerja cepat, entah dari mana datangnya, karena tadi tempat itu begitu sunyi.


Kalau saja dalam suasana normal, mungkin Raisa akan tertawa, seolah sedang bermain peran ala anak PAUD, serba ekspres, namun yang ini menyangkut hidupnya, masa depannya.


Raisa terduduk dengan resah.


"Nona sangat cantik, serasi sekali dengan tuan muda". si mbok dan beberapa orang di ruangan itu tak henti memandang kagum.


Gadis berdarah campuran Indonesia-latin itu, memiliki wajah sempurna dengan hidung mungil mancung, alis terbentuk alami, dagu lancip, mata coklat bersinar akan bersanding dengan Mario, pria tampan bermata biru kelam ayahnya Indonesia, ibunya Australia, alis tebal hitam, rahang persegi, hidung mancung serta dagu terbelah dengan bulu-bulu halus disekitarnya.


Raisa tak mampu tersenyum mendengar pujian untuk dirinya, bisakah ia tersenyum? ia akan menikah, mendadak dan tidak ada papi, mami atau Darren dan Sinta.