Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 49 Hilang Kendali


Sesungguhnya bukan Mario tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, kalau ia memaksakan diri, bisa saja dirinya sering kembali.


Namun Mario sengaja melakukan itu, pekerjaannya disini lebih memerlukan kehadirannya di banding proyek-proyeknya di tempat lain yang masih bisa diwakilkan.


Selain itu, ia tidak ingin terlalu sering bertemu Raisa, berada di dekatnya, seolah menjadi sebuah bumerang bagi pria dengan pengendalian diri kurang sementara hasrat selangit itu.


Bagaimana bisa dirinya lalu lalang di sekitar Raisa jika keinginannya hanya ingin menggoda dan menjahili gadis itu.


Andaikan bisa memaksakan kehendak, ingin langsung dikawininya, eh dinikahinya segera gadis itu.


Namun Mario tahu, Raisa menyimpan banyak kekhawatiran tentang status Mario yang berhubungan dengan Naomi dan Nadya.


Mario sangat yakin, Raisa pun sudah memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, beberapa kali menemui gadis itu secara langsung dan hanya berdua saja, ia bisa meyakinkan dirinya, Raisa juga menyukainya.


Buat Mario, itu sudah cukup, ia sudah tahu segala hal tentang Raisa, mengetahui gadis itu tidak pernah dekat dengan seorang pria manapun dan hanya dirinya yang pernah begitu dekat secara fisik dan menangkap bahasa tubuh gadis itu, Mario yakin Raisa memiliki perasaan yang sama dengannya.


Mario, bisa saja segera menyingkirkan Nadya dan membuat mantan istrinya itu tidak pernah lagi mengusik kehidupannya, namun Mario juga memikirkan Naomi.


Untuk saat ini, Naomi masih membutuhkan dukungan dari semua keluarganya untuk kesembuhannya.


Karena itulah Mario mengijinkan Nadya untuk secara teratur mengunjungi Naomi agar anaknya tidak kehilangan perhatian ibunya.


Namun Mario tidak mungkin berada di sekitar Nadya disaat wanita itu mengunjungi anaknya, karena itu akan membentuk stigma jika masih ada hubungan diantara Nadya dan dirinya.


Orang-orang bisa saja beranggapan, mereka tetap pasangan suami istri yang saling mencintai, saling mendukung.


Sementara dirinya sesungguhnya benar-benar telah meninggalkan Nadya, Nadya tahu betul dengan keputusan Mario ini, bahkan mereka sudah menandatangani surat masing-masing berikut semua surat pembagian harta yang diberikannya pada Nadya, sebagai ibu Naomi.


Mario sengaja menghilang, agar Raisa tidak merasa dipermalukan, oleh segala bentuk kekonyolan Mario, karena Mario sungguh berubah menjadi sosok yang sangat berbeda ketika berhadapan dengan Raisa.


Mario sangat menginginkan Raisa, hanya Tuhan yang tahu bagaimana Mario menahan diri hingga kepalanya terasa pusing tujuh keliling.


Mario harus menyelamatkan dirinya, menjauh dari Raisa atau kalau tidak ia bisa saja menyekap wanita itu dan membungkamnya dengan bibir, seperti yang dilakukannya sebelum menghilang.


Hampir saja Mario hilang kendali, ,Mario bukan memikirkan dirinya ataupun imagenya, semua itu tidak penting lagi ketika Nadya menodai ikatan suci mereka.


Perasaan terhormat Mario sudah hilang sejak saat itu. Kalau Mario mau ia bisa melakukan lebih dari perbuatan Nadya untuk melampiaskan kekesalan ataupun memenuhi hasratnya.


Hanya saja Mario merasa bersalah pada bayi kecilnya, Naomi, anaknya itu tumbuh dengan membawa kelainan dan Mario fikir itu karena keegoisannya.


Karena itu Mario tidak pernah lagi terfikir dengan wanita lain lagi setelah meninggalkan Nadya, dirinya fokus pada pekerjaan serta Naomi dan kesembuhan putrinya itu.


Hingga bertemu Raisa yang mampu merubah segalanya.


Mario yang tadinya mungkin nyaris melupakan, bagaimana rasanya menyentuh seorang wanita dengan gairah yang nyata.


Tiba-tiba saja dirinya berubah 180 derajat, menjadi pria konyol dan tengil yang tidak memperdulikan etika dan semacamnya.


Mario hanya terfikir untuk menjahili Raisa, Hari-harinya terasa lebih semangat dan bermakna bila berhasil membuat wanita itu bersemu merah.


Erik mengatakan padanya, kalau ia sudah terkena virus bucin atau cinta akut, dan Mario hanya terbahak-bahak mendengarkan.


Sayang, Raisa, gadis itu adalah gadis dengan sejuta pertimbangan, dan Mario tahu apa sebabnya.


Mario sudah tahu bagaimana perjuangan Raisa untuk bangkit dari kesedihan dan keterpurukan setelah masalah orang tuanya.


Mario menghargai itu, Mario ingin tetap menjaga gadis itu, hingga kuliahnya selesai termasuk masalah kedua orang tuanya.


Mario sudah menempuh semua jalan penyelesaian, membantu menyadarkan mama Raisa termasuk mencarikan dukungan untuknya.


Membantu ayahnya untuk mendapatkan kepercayaan rekan-rekannya dahulu dan sedikit membersihkan citra buruknya karena Mario berhasil menemukan satu bukti, keterlibatan pihak lain untuk menjatuhkannya.


Sebenarnya tidak lama lagi, ayah Raisa akan keluar penjara, pria tua itu tidak perlu menjalani masa hukuman hingga selesai sebagaimana putusan hakim karena Mario telah membantu memenuhi beberapa syarat kebebasannya.


Mario tidak mengatakan semua itu pada Raisa karena yang diinginkannya dari wanita pujaan hatinya itu adalah penyerahan diri dan perasaan suka yang sama pada Mario dan bukan karena ucapan terimakasih terlebih rasa berutang budi.


Mario menantikan saat itu tiba dengan tenang sembari menanti Raisa menyelesaikan urusannya, Mario dapat bersabar, ia sudah melewati beberapa tahun tanpa wanita, melewatkan beberapa lama lagi bukan masalah yang sulit.


Namun melihat video hari ini melenyapkan semua kesabarannya, ia akan segera kembali untuk menunjukkan seberapa besar kecemburuannya, tidak akan dibiarkan siapa pun merusak yang sedang dibangunnya.


*


*


Raisa sedang bersiap-siap untuk kembali ke daerahnya setelah mengikuti seminar dan workshop selama 2 hari, ditambah sehari untuk mengunjungi papanya serta mengunjungi seorang kerabat jauh untuk suatu urusan.


Seseorang melakukan panggilan di ponselnya, Raisa segera keluar karena mobil penumpang yang di pesan telah datang.


Sopir memasukkan tas Raisa di belakang lalu membukakan pintu untuk Raisa, Raisa masuk di. kursi penumpang bagian tengah, dilihatnya seorang wanita, mungkin sedikit lebih tua darinya tengah duduk sendiri di kursi di sisi berbeda dengan dirinya.


" Cuma kami berdua bang, hari ini? atau ada yang dijemput nanti". Tanyanya memastikan.


" Iya mbak, hari ini tidak banyak penumpang lain selain mbak, barang titipan yang banyak". jawabnya menghilangkan keheranan Raisa.


"Oh.... ". Raisa mengangguk mengerti.


Mobil melaju meninggalkan kota di pagi yang masih cukup buta itu, riak-riak kehidupan belum lagi menampakkan aktifitas berarti.


Hanya satu dua pejalan kaki di subuh itu, beberapa pedagang sayur keliling juga tampak membetulkan letak sayuran sebelum berangkat, terlihat saat mereka melewatinya di pasar tradisional.


Semburat merah masih nampak seperti benang merah di ufuk timur, angin sejuk menerpa wajah cantik bak wanita latin itu karena mommy nya memang dari sana.


Raisa serasa masih ingin memejamkan mata, perjalanan masih akan memakan waktu 7 jam perjalanan untuk sampai ke tempat tinggalnya.


Raisa merasa matanya begitu berat, ia mungkin barusan mengalami yang disebut microsleep, ketika tiba-tiba merasa kesadarannya hilang selama beberapa detik.


Raisa mencoba memperbaiki duduk agar dapat mengembalikan kesadarannya kembali, ketika mengangkat kepala dan melihat keluar melalui jendela mobil, Raisa merasa ada sesuatu yang aneh.


Awalnya Raisa diam saja, namun semakin diteliti semakin nyata kalau jalanan ini bukan jalanan yang biasa dilewati oleh mobil penumpang pada umumnya sebagai rute pulang pergi dari daerah kekota.