Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 6 Cobalah Bertanggungjawab


Kalau benar Mario menginginkan ditemani berkeliling. Raisa harus mengatur jadwal itu di minggu-minggu awal bulan depan. Menurut pengakuan Mario, dia akan kembali pekan depan. Meskipun Raisa begitu ingin adiknya, Darren. Tetap bekerja, Raisa juga tidak ingin semurah itu. Ia tidak akan merubah jadwalnya. Biar saja Mario menunggu. Selain itu, Raisa cukup dipusingkan dengan Darren, kemana anak itu, tiga hari ini tidak pulang ke rumah.


Raisa mendapat bukti, jika Darren sedang dekat dengan seorang gadis. menurutnya Sinta yang dimintanya mencari tahu, meski awalnya Sinta enggan, takut Darren marah padanya. Bagaimana pun Darren, adik dari bos nya. Tapi karena Raisa sendiri yang mendesak, terpaksa, Sinta diam-diam mencari tahu.


Kabarnya, Darren, sudah punya pacar. Gadis cantik, pindahan dari kota, Tinggal di rumah pamannya. Sekolah di sekolah yang sama dengan Darren dan merupakan kakak kelasnya. Namun berita buruknya. Gadis itu suka bolos sekolah. Raisa terkejut. Rupanya inilah penyebab perubahan Darren belakangan ini. Gadis inilah yang mempengaruhi Darren datang terlambat.


"Katakan saja, Sin, kenapa disembunyikan, Darren itu adikku, lebih baik mendengar kabar buruk sekarang, daripada nanti semakin parah". Sinta nampak tertekan. Tidak sanggup bertindak terlalu mencampuri urusan orang lain, terlebih seorang laki-laki. Tapi tatapan Raisa yang seolah menuntut, menginginkan dirinya bicara apa adanya. Akhirnya Sinta membuka mulut.


" Sudah 2 hari Darren tidak masuk sekolah ". Ucap Sinta pelan.


" Kabarnya, mereka tidak ada disini, mereka ke kota ikut rombongan tante gadis itu, mereka pedagang keliling dengan mobil box barang".


" ya Tuhan, Darren.... " keluh Raisa tertahan.


"Kenapa anak itu? Apa aku sudah membuatnya marah? ".Raisa menyesali dirinya sendiri. Ia merasa sudah berbuat salah.


" Mbak... , jangan menyalahkan diri, mbak Raisa sudah menjadi kakak yang terbaik ". Sinta berusaha menghibur Raisa. Wanita yang sudah dianggap nya kakak sendiri.


" Mbak tidak boleh menyerah, Darren cuma sedang jatuh cinta". Bisik Sinta, yang membuat Raisa menoleh.


"Sin... tolong, jangan membela nya sekarang, aku sedang dibuatnya pusing dengan tingkah lakunya. Semua orang juga pernah jatuh cinta, tapi kenapa harus bolos? Cinta yang baik, tidak akan merusak". Raisa bimbang memikirkan adiknya. Cinta yang diberikannya sebagai kakak, memang dan pasti berbeda rasanya dibanding mencintai seorang sebagai seorang pria. Tapi... Darren....!!!


Ingin rasanya Raisa memukul adiknya itu. Tidak bisakah dia sedikit dewasa? Melihat perjuangan kakaknya ini, agar mereka bisa tetap bertahan, walau pahit?. Tidak bisakah dia bertindak layaknya laki-laki bertanggungjawab walau untuk dirinya sendiri?


Kenapa anak itu, tidak pamit padanya?


Tentu karena takut dihalangi. Raisa mengeluh dalam hati. Bukankah ia tidak pernah mengekang Darren. Mengapa harus sembunyi-sembunyi. Selama ini mereka cukup terbuka satu sama lain.


"Akh.... ". Raisa cukup dibuat pusing oleh masalah Darren. Namun lagi-lagi ia belum bisa keluar mencari Darren sendiri. Selain menanti adiknya itu memberi penjelasan.


Minggu ini sudah memasuki bulan baru, merupakan minggu tersibuk di bulan ini, kegiatan anak-anak PAUD yang sudah terjadwal. Raisa memperhatikan kalender nya yang sudah padat.


Minggu pertama Supervisi kepala Sekolah dan guru. Di Senin, hari ini Raisa cukup sibuk sepanjang hari mulai dari menerima tim pengawas, Hari Selasa lanjut lagi rapat guru, Hari Rabu mengantar anak-anak outing class ke Perpustakaan Desa lalu lanjut dengan Menerima tamu Dinas di hari Kamis. Menjelang akhir pekan, baru Raisa sempat membuka media Whatsapp nya.


"Apa Masalah Darren sudah beres? " Raisa mengerutkan kening. Dibukanya kemudian isi chat itu seluruhnya.


"Rupanya... nona Raisa tidak mau diajak kerjasama, Kenapa telpon ku tidak diangkat, atau sudah tidak menginginkan melihat PAUD itu berdiri? ". Ancaman itu mengingatkan Raisa pada Pak Mario.


Secepatnya, Raisa menekan nomor tersebut, melakukan panggilan.


" Halo... nona Raisa, apa kabar? ". Suara berat dan seksi. Bagaimana pun Raisa harus mengakui, pria itu punya pesona luar biasa. Tapi mengingat ancaman nya, Raisa menjadi tidak terpikat sama sekali.


" Hmmmh... benar Tuan Mario yang terhormat ". Raisa mau tidak mau memunculkan kekesalannya. Orang ini bisa- bisanya mengirimkan chat mengancamnya.


" Boleh tahu, kapan Tuan Mario mau diajak melihat-lihat". Berat Raisa mengiyakan syarat itu. Tapi ia berada di posisi membutuhkan bantuan dan kerjasama pria ini. Mau tidak mau, ia harus bisa mempertahankan kesadarannya dan tidak berlaku bar-bar.


Terdengar kekehan di ujung sana. Bibir Raisa memunculkan geraman. Pria menyebalkan.


"Aku menunggu jadwal dari anda, Nona, bukankah beberapa hari ini sedang sibuk, katakan saja jika sudah siap, sekarang aku masih di kota. Aku hanya ingin mengabarkan, Darren, sudah bisa bekerja kembali, Pak Dimas ada disini dan kami sudah membicarakannya".


" Baik Tuan. Terima kasih untuk bantuan anda". Bagaimana pun Raisa bersyukur jika Darren bisa bekerja kembali. Agar ia bisa tetap mengontrol dan memantau adiknya itu.


Namun sejak kemarin. Darren belum mau bercerita. Sekembalinya dari kota. Anak muda itu tidak mau banyak bicara, darimana, bikin apa, dan kenapa tidak mengenalkan pacarnya.


"Wah... kakak, rupanya sudah mencari tahu, jadi untuk apa bertanya lagi". Kilahnya.


" Pasti Sinta kan? yang cerita, dasar cewek tidak laku". Gerutu Darren


"Darren!...jangan meremehkan Sinta, ya", kenapa menuduh Sinta begitu". Raisa geram. Sungguh terlalu, Raisa merasa kini, kalau Darren sepertinya kesal pada Sinta. Apa salah gadis itu?


" Jangan bawa-bawa Sinta, ini tentang kita berdua Darren. Adikku itu kamu, kenapa kau membuat kakak begitu kuatir? " Raisa meninggikan suaranya.


"Kenapa kakak begitu kesal. Aku sudah besar kak, aku bisa memutuskan yang baik untuk diriku".Keluh Darren sambil membuka kulkas dan meneguk air dari botolnya langsung.


" Kalau begitu cobalah bertanggungjawab. bicarakan dengan kakak seperti biasa. Kalau kau menjauhi kakak, bagaimana kita bisa mempertahankan keluarga kita? ". Parau suara Raisa, akhirnya ia ingin menangis. Jika sudah begini. Muncul juga rasa sedih dihatinya yang mulai merasa sesak.