
Hampir 3 minggu Mario tidak muncul-muncul. Darren juga bilang begitu. Di kantor tidak terdengar sama sekali suaranya, saat Darren kesana untuk menerima bonus. Biasanya upah diterima setiap minggu di lokasi proyek, namun khusus bonus, para pekerja mendatangi kantor cabang karena disana juga selalu diadakan acara makan-makan di hari itu. sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran pekerjaan.
Hanya beberapa kali, Mario menelpon putrinya, menanyakan kabarnya. Apalagi sejak Raisa mengetahui kebenarannya. Pria itu bukan hanya sebagai Kepala Proyek. Melainkan Seorang Ceo Perusahaan konstruksi dan Pengembang Kota yang cukup besar dan sudah dikenal dikalangan pebisnis. Mengapa Raisa tidak terfikir,
ketika dengan cepatnya, Pak Mario mengantongi Berkas proyek terbaru yang telah di revisi, dan seolah tidak memikirkan untung ruginya, lahan miliknya dikembalikan begitu saja tanpa proses berbelit dan tidak memerlukan berbagai persyaratan.
Kenyataan ini diketahuinya ketika Raisa
diundang menghadiri acara peresmian pembukaan dan pelaksanaan beberapa proyek pembangunan di daerah mereka yang akan segera berjalan mulai minggu depan. Itu artinya, segera mobil-mobil pengangkut bahan bangunan dan buldoser akan tiba dalam minggu ini. Kabar dari Darren didengarnya, semua peralatan itu, akan diletakkan cukup jauh dari PAUD, sehingga tidak akan mengganggu aktivitas belajar anak PAUD.
Dan Raisa berhasil mendapat sketsa kopian dari Erik, asisten Mario, rencana pembangunan Resort yang tadinya mencapai tempatnya, kini justru diubah, di sekitar tempat itu nantinya akan menjadi taman-taman cantik yang akan dibuatkan bangku-bangku dan kolam-kolam ikan serta relief-relief.
Kenyataan, bahwa Mario mempertimbangkan keberadaan sekolahnya, membuat Raisa merubah pandangannya terhadap pria ini, sedikit demi sedikit, ia harus mengakui, pria ini tidak sepenuhnya arogan. Pria ini masih memiliki empati pada orang-orang kecil seperti dirinya.
Di tengah duduk, menemani Naomi bersama Sinta. Tiba-tiba Naomi berteriak girang...
"Papa ...... ". Naomi menghambur ke pelukan papanya begitu melihat pria gagah dengan tinggi 180 centimeter itu.
Raisa tidak menyadari kedatangannya, bahkan tidak mendengar suara mobil memasuki area sekolah, yang saat ini sepi, karena hari libur. Melihat pria itu, Sinta memilih masuk ke dalam rumah. Raisa merasa dejavu, berdiri di ambang pintu seperti ini, menyaksikan kedua ayah dan anak itu.
Naomi menarik tangan papanya mengajak masuk ke rumah,
Ketika hendak melewati Raisa, tangan Mario tiba-tiba meraih tangannya ikut masuk.
Deg.... terasa terbakar, tangannya saat tersentuh tangan pria itu. darahnya berdesir dan jantungnya memompa cepat. Raisa tercengang, terlebih kemudian suaranya sangat dekat dan berat...
"Hai bu guru cantik, apa kabarmu? Bolehkan kalau aku merindukan bu guru? " Mario mengedipkan mata ke Raisa, membuat jantung gadis muda itu semakin merasakan debaran.
Sinta muncul membawa minuman dan makanan ringan, menghentikan kontak. mata keduanya. Raisa menggantikan menghidangkan secangkir teh dan sepiring pisang naget buatan Sinta dengan canggung yang berusaha ditutupinya karena lagi-lagi pandangan intens dari Pak Mario seolah hendak mengulitinya.
Beberapa saat pria itu terus bercanda dengan putrinya sembari menjadikan dirinya bahan gosip dengan putri kecilnya.
"Oh good..." keluh Raisa dalam hati.
Bocah lugu itu bilang. Sangat suka tinggal bersamanya dan mereka melakukan banyak hal setiap hari, tidak ketinggalan pula, celotehnya tentang Cathy yang semakin hari semakin besar dan csntik.
Dan Jawaban papanya sungguh sangat mengagetkan Raisa.
"Bagaimana kalau bu guru jadi bunda Naomi di rumah".
" Hah..." Raisa membelalak, antara terkejut, marah juga Bingung.
"Hahaha... " Mario tidak dapat menahan tawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Raisa.
Raisa hampir tersedak mendengarnya.
Pria ini benar-benar keterlaluan. Anaknya diperdengarkan kata seperti itu? Bagaimana perasaannya, anak itu tentu akan mengadu pada mamanya. Meski hingga kini belum jelas keberadaannya. Masih hidup kah atau entah berada dimana diluar sana. Sedang keluar negeri seperti mami Raisa, Sedang mengejar karir kah? Raisa di penuhi tanda tanya, namun enggan mencari tahu.
Baginya, dirinya hanyalah seorang guru, guru anaknya. Kebersamaan mereka karena adanya penitipan itu. Keterlibatan mereka karena urusan lahan. Pertemuan mereka karena masalah Darren. Dan itu semuanya sudah selesai. Masalahnya sudah pun terselesaikan.
Untuk selanjutnya, ia akan meminta Mario mencari pengasuh pribadi untuk putrinya. Raisa tidak ingin lagi jauh terlibat kecuali urusan sekolah Naomi. Kalaupun Naomi masih dititip, maka itu akan ditangani sesuai keadaan sekolah hingga pukul 5 sore, bukan lagi ikut tinggal dan bermalam dirumahnya. Begitulah tekad Raisa, setelah berfikir lama dan mendiskusikan nya dengan Sinta semalam.