Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 42 Menghadiri Undangan


Hari ini hujan turun cukup deras, meski baru memasuki permulaan musim hujan, namun belum merata tercurah setiap hari, Kadang-kadang panas sepanjang hari, besok mendung namun hujan tidak turun-turun.


Tapi hari ini, pertama kali sejak prediksi musim hujan oleh BMKG di mulai bulan ini, baru di minggu ketiga ini, hujan benar-benar menurunkan air dari langit bak tumpah ruah.


Seluruh permukaan tampak menjadi bersih bermandikan air hujan, bahkan katak pun seakan enggan keluar untuk sekedar melompat-lompat, karena bukannya kesenangan yang di dapat, melainkan rasa perih tertimpa butiran hujan yang seakan sebesar batu.


Saluran pengairan depan rumah warga yang selama musim kemarau nyaris hanya sebatas tumit orang dewasa, kini penuh meluap-luap hingga menuju ke jalanan atau mencari celah-celah yang bisa dilewati.


Bisa dipastikan, mesti hujan hanya sehari, namun bila hujan ini awet hingga malam, tentulah waduk diujung desa akan terisi penuh, pertanda, waktu untuk musim tanam padi siap untuk menabur benih lagi.


Suara tetesan hujan yang sebesar batu itu, nyaring berbunyi di atas atap rumah warga yang sebagian besar masih terbuat dari seng-seng, galvalum atau spandek, berbeda dengan atap genteng tentu tidak menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Namun anehnya, atau malah menariknya, suara derasnya hujan seakan menciptakan perasaan khusus bagi penghuni rumah, karena yang


terasa adalah rasa nyaman dan tenang, membuat semakin tertarik untuk hanya duduk malas di depan televisi, atau menikmati asiknya bergelung di dalam selimut tebal.


Derasnya hujan yang tidak main-main membuat jalanan benar-benar sepi seketika, orang-orang memilih singgah berteduh di depan ruko atau jika yang di dapat adalah warung kopi, tentulah pilihan paling tepat adalah memesan secangkir kopi atau teh panas, lebih luar biasa lagi bila ditemani sepiring pisang goreng, begitulah warga desa, dengan kebahagiaan sederhana.


Kota ini, masih termasuk semi perkotaan karena masih adanya lahan persawahan yang luas serta sungai yang panjang membentang di sepanjang sisi kota.


Maka tidak heran bila di tengah hujan masih kelihatan warga yang sibuk menghalau ternak sapi dan kambingnya menuju kandang, termasuk yang paling kewalahan seorang warga hanya memakai topi caping, berlarian di bawah curahan hujan mengarahkan bebek-bebeknya masuk kandang di pinggir sawah.


Suasana berbeda terlihat di gedung pertemuan, ramai dan cukup sesak, mungkin sekitar seratus tamu undangan memenuhi balai pertemuan untuk mendengarkan pidato pejabat setempat.


Tadinya, kondisi cukup kondusif dan berjalan tertib, para tamu yang merupakan tamu-tamu terhormat yang memiliki pengertian serta kepatuhan pada protokol tampak tekun mengikuti hingga hujan tiba-tiba mengguyur deras.


Bisik-bisik mulai terdengar, dan pembawa pidato cukup faham, tamu kurang bisa menangkap ucapannya yang tertutupi suara hujan.


Karena hujan ini pula, sehingga Raisa terpaksa bertahan di balai pertemuan ini, hanya saja, hatinya tidak senyaman warga lain yang menikmati curah hujan dengan keasikan masing-masing.


Hatinya, entah penyakit hati apa yang telah hinggap di benaknya.


"Rasanya aku perlu memeriksa hatiku ini". Gumamnya sedikit jengkel.


" Kenapa aku harus bersikap begini melihat dua orang itu? ". Gumamnya sendirian.


Raisa sungguh merasa tidak nyaman dengan perasaannya itu, dan ia menjadi gelisah dan tidak tenang karenanya.


" Entah kemana dia orang itu? ". Gerutunya.


" Mau kemana, bikin apa?, kenapa aku harus pusing? aku tidak ada urusan dengan mereka". Keluhnya, semakin resah, lebih kepada dirinya sendiri yang tiba-tiba begitu sensitif.


Semua ini karena Mario dan Siska, tepatnya, ia telah melihat kedua sejoli itu duduk berdampingan di gedung pertemuan kota, bersamaan dengan dirinya yang juga hadir, bedanya, ia duduk di bagian utara dan kedua orang itu, satu berparas tampan dan satu lagi cantik mempesona, yang jujur, nampak serasi itu, duduk di bagian tamu kehormatan di bagian barat, berdampingan dengan tamu-tamu terhormat lainnya.


Pagi tadi memang sudah cukup temaram, tidak seterik kemarin, lalu saat ini pukul 11.30 siang, Raisa datang, meski cukup terlambat karena kehadiran tamu sekolah yang tiba-tiba.


Ia datang menghadiri undangan pertemuan tahunan warga-warga dari berbagai kalangan untuk mendengarkan pidato perihal hasil pembangunan daerah selama setahun.


Tentu saja, bukan hanya pejabat, pengusaha, pegawai dan guru tapi pedagang menengah, kecil bahkan petani pun hadir.


Raisa masih fokus dan tenang memandang kearah podium dimana bapak Walikota yang di undang, sedang memberi pengarahan dan pandangannya.


Ketika hampir usai, Tiba-tiba riuh terdengar dari atap gedung pertemuan suara hujan menjatuhi permukaan atap spandek dengan nyaring.


Saat itulah, suara protokol memutuskan, segera mengajak para tamu untuk berdiri dan menuju ke bagian Selatan ruangan pertemuan untuk menikmati santap siang ataupun mengambil snack yang tersedia.


Baru Raisa mengangkat kepala dan memalingkan wajah, namun yang pertama netranya lihat adalah sepasang sejoli yang nampak mesra, yang wanita, Siska.


Raisa tentu sangat kenal, tengah membisikkan sesuatu ke telinga Mario dan pria itu tampak tenang menyimak, namun matanya tak luput berhasil bersitatap dengan Raisa yang masih menatapnya dalam diam, di tengah gemuruh hujan pula.


"Wih, romantis sekali mereka". Bisik hatinya, namun bukan gembira perasaannya, melainkan desiran aneh yang tidak menyenangkan hati.


Beberapa detik mereka bertemu mata, Siska masih berbisik dan Mario pun masih di posisi yang sama, tapi Raisa segera berdiri pelan dan mengalihkan pandangan.


Berjalan kearah yang berlawanan dengan gerakan tamu-tamu yang menuju meja prasmanan yang berjejer di sebelah Selatan.


Raisa melangkah kearah samping menuju pintu keluar, walau hujan sangat deras, ia merasa perlu keluar mencari udara segar, padahal di dalam tidak panas karena dibantu beberapa kipas angin , air cooler dan ventilasi yang cukup.


"Apa aku pulang saja?". Monolognya dalam hati, ia kehilangan mood untuk melanjutkan pertemuan dan berniat menerobos hujan menuju area parkir yang cukup jauh beberapa puluh meter dari gedung ke tempat dimana mobilnya terparkir.


Raisa melewati lorong yang cukup sepi, semua tamu tentu memilih menikmati makan siang di tengah hari ini, terlebih sekarang hujan deras, siapa juga yang mau memasang diri dihempas angin dan air hujan.


Tapi Raisa memilih jalan lain, hatinya sedang tidak sejalan dengan fikirannya, jika mengikuti sifat dan kebiasaannya sejak menjadi pendidik tentu bukan ini yang dipilihnya.


Tapi hatinya sedang tidak ingin berkompromi, ia memilih tidak bernalar dan melangkah semakin jauh


Ia berdiri diantara trotoar dan lorong tak beratap, tangannya mengibaskan rok lebarnya yang terkena air, mobilnya tinggal 2 meter lagi didepannya, meskipun mungkin masih akan cukup basah karena memakai waktu untuk membuka mobil, baru saja akan berlari menembus hujan.


"Auww... ". Raisa berteriak cukup keras karena kaget dan rasa takut tiba-tiba.


Seseorang tiba-tiba mencengkram lengannya dan menariknya mundur bersembunyi di sudut, cukup mengerikan karena tidak terlihat, sekalipun ada orang yang melintas.


Raisa hendak memberontak, namun kedua tangannya di cengkram cukup keras, lalu tubuhnya diputar menghadap pada orang tersebut sambil mendorongnya ke dinding


"Pak Mario". Suaranya tercekat, jantungnya tiba-tiba berpacu dan berdetak cukup keras seirama air hujan yang masih deras.


Pria itu menatap dalam ke bola mata coklat milik Raisa yang menatapnya lemah, gadis itu merasa kehilangan dirinya dalam hujaman mata biru yang berkabut.


"Apakah pergi dengan dramatis, itu caramu menghindar? " Bisiknya tepat di telinga Raisa, terasa menggelitik


"Aku ingatkan, makin kau menjauh, aku akan menarikmu semakin dekat padaku". rengkuhnya mengangkat kedua lengan Raisa, hingga tubuhnya terangkat dan bibir Raisa kini berada tepat dibawah dagu Mario, tampak jelas kini wajah tampan dengan hidung tinggi ditambah dagu terpahat indah diantara cambang yang tumbuh halus.


"Aku akan merindukanmu nanti, kau gadis keras kepala entah kapan kau akan mengerti". Bisiknya meresahkan, terpaan nafas Mario menyapa bibir Raisa, aroma mint terkuak disana, sangat memabukkan, Raisa merasa semakin lemah hingga ke dalam tulangnya.


" Apa maksud anda begini pak Mario ". Suara Raisa serupa bisikan namun menekan karena resah tak berujung, hatinya lagi-lagi berkhianat, ia terjebak diantara kesal dan kegelisahan hati seorang gadis muda.