
Walaupun acara berlangsung dengan sukses dan meriah, namun sesungguhnya ada yang terasa kurang.
"Ck... " Raisa mengeluh dalam hati, menyesali hatinya yang resah, mengapa ia harus merasa kehilangan?
"Dasar memalukan". Ejeknya pada diri sendiri.
Bagaimana bisa dirinya terus mencari-cari dan bertanya dalam hati.
" Kemana pak Mario? " Bisiknya dalam hati.
"Bukankah ini ulang tahun putri kesayangannya, putri satu-satunya, mengapa ia bisa melewatkan? ". Galau hati Raisa.
Raisa tetap tenang dan berbincang santai dengan para orang tua murid, meski hatinya resah.
Sungguh memalukan, fikirnya. Mengapa dia yang reseh?
" Terima kasih loh dek Raisa, sudah meluangkan tempat dan waktunya untuk ultahnya Naomi ". Ucap Nadya halus.
" Iya kak, Sama-sama, sungguh kami semua, sangat senang, Naomi merayakan ultah di sekolah dengan teman-temannya". Jawab Raisa.
"Sungguh, teman-temannya tidak menyangka kalau Naomi memilih disini dan bukan di kota, padahal kan Naomi bisa memilih di kota di arena bermain yang mewah". Raisa mengakui hal tersebut terus terang.
" Iya, itu keinginan Naomi, papinya juga sudah menyarankan sebelumnya, kalau perayaannya disini saja, mengingat kondisi Naomi yang sudah lebih baik sejak berada disini, kita belum berani mengambil resiko, jadi untuk beberapa bulan ke depan Naomi masih akan disini". Nadya akhirnya mengakui keputusan ini atas pertimbangan dari Pak Mario, mendengarnya Raisa tersenyum, sedikit terjawab rasa penasaran Raisa, ternyata Pak Mario, masih sering menghubungi bu Nadya.
"Tentu saja,.. Hei! ada apa dengan fikirannya? ". Gerutu Raisa di hati.
"Ish...." Cepat-cepat Raisa menghalau fikiran anehnya.
"Tentu kak, kami disini dengan senang hati menerima Naomi dan akan tetap ikut membantu semampu kami, kakak dan pak Mario tidak perlu kuatir". Raisa meyakinkan.
Kemudian pembicaraan Raisa berlanjut bersama ibu-ibu yang masih menemani anaknya bermain di area tempat bermain.
Sementara Naomi, mommynya dan Wieke, adik Mario tetap kelihatan senang dan berbahagia menyalami ibu-ibu yang berpamitan sambil mengucapkan terimakasih.
*
" Bunda.... ". Naomi menghampiri Raisa, meraih jemarinya.
" Iya sayang? ". Raisa duduk Berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Naomi.
" Bunda..lapar, mau disuapin sama bunda...". Pintanya dengan suara khasnya yang manja.
" ough... okey, Naomi mau makan sama bunda Raisa? ". Raisa meyakinkan dirinya, matanya mencari ke sekitarnya, tampak Wieke sedang berbicara di telfon dengan seseorang.
Mata Raisa kembali mencari, diluar ruangan aula, lewat jendela, terlihat Nadya, mommy Naomi, juga sedang serius berbicara di telepon dengan seseorang.
Akhirnya, Raisa menggandeng tangan Naomi, menuju ke sebuah meja pendek, ditariknya dua kursi kecil berwarna biru dan hijau, mengajak Naomi duduk lalu ia pun duduk.
Raisa meraih satu kotak nasi Fried Chicken, kemudian berdiri menuju meja prasmanan untuk mengambil beberapa jenis lauk lalu kembali duduk di depan Naomi.
"Aa...". Raisa menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya, Naomi membuka mulut dan mengunyah makanannya dengan lahap, rupanya princess kecil itu benar-benar lapar sekarang.
Raisa tersenyum bahagia melihatnya, makan dengan tenang.
" Bunda, mau brokoli sama wortelnya ". Naomi menunjuk sayuran di piringnya, Raisa tersenyum mengiyakan.
" Wah...princess sudah lapar rupanya". Wieke muncul sambil mengelus rambut keponakannya lembut.
" Tante Wieke sampai nggak ditungguin ". Wieke pura-pura cemberut.
Naomi tersenyum memperlihatkan gigi kecilnya,
" Iya sayang, maaf yah, tante tadi telponan sama om Arga, ada sedikit keperluan ". Wieke merangkul Naomi lembut.
" he-eh... ". Naomi mengangguk.
" Kok he-eh sih... ". Wieke merajuk
" Eh, iyya... ". Lagi-lagi Naomi tersenyum, kali ini sedikit tersipu malu.
" Dek Raisa, makan gih... biar aku lanjutin suapannya". Wieke sudah menganggap Raisa seperti adiknya, usia mereka hanya terpaut 2 tahun, Wieke yang lebih tuatua, karena itu dalam keseharian mereka berbicara layaknya seperti teman.
"Iyya kak, biar Naomi selesai makan dulu". tolak Raisa halus.
" Sinta, bu Mia, ayo kita makan sama-sama yuk, mari.... ".Wieke memanggil satu-satu yang masih tinggal untuk makan bersama.
Akhirnya mereka makan ramai-ramai dalam suasana yang akrab seperti sebuah keluarga.
Sejak Naomi sering tinggal untuk dititipkan sampai sore, bahkan bermalam di rumah bu Raisa di sebelah, mereka menjadi akrab dengan anggota keluarga Naomi, tante, beberapa asisten papanya bahkan bu Nadya, mommy Naomi.
Itu karena Naomi terkenal sebagai murid yang ramah, ceria, banyak teman dan sangat cerdas, namun mereka pun sudah tahu, alasan Naomi, gadis kecil putri seorang Ceo yang kaya raya.
Mereka semua yang terlibat di sekolah, sudah tahu kalau putri cantik menggemaskan itu sengaja dititipkan ayahnya, untuk bersekolah di tempat jauh dari keramaian kota dan lingkungan yang masih hijau dan subur ini.
Bukan cuma untuk menghirup udara pedesaan yang segar, namun sebagai upaya pengobatan atas penyakit yang di derita Naomi, yang bisa muncul secara tak terduga dan belum diketahui penyebab pastinya, karena alergi atau virus tertentu.
Karena itulah papanya, sengaja menjauhkan anaknya dari berbagai polisi dan mempercayakan kepada sekolah bu Raisa, dengan harapan ada perubahan pada diri Naomi.
Dan itu sudah mereka tahu, memang benar, telah nyata beberapa perubahan yang membuat kondisi Naomi menjadi lebih baik sejak tinggal di kota kecil ini.
"Naomi.... sini sayang, ini papi.... " Sedikit berteriak Nadya memanggil Naomi yang sudah menyelesaikan makannya.
Gadis kecil itu spontan menoleh dan memandang mommynya dengan wajah berbinar gembira.
"Papi... ". Nyaris menyerupai teriakan
Wieke, Raisa dan yang lain ikut tersenyum sumringah melihat kegembiraan yang sangat besar, ditunjukkan oleh Naomi.
Mereka semua yakin, Naomi sangat merindukan papinya, yang sudah hampir 2 bulan tidak datang menemui putrinya.
Naomi berlari kecil menyusul Mommynya yang tetap menunggu diluar, di teras sekolah, sambil duduk di sofa.
Entah merasa nyaman dengan pemandangan diluar yang memang cantik dengan banyaknya jenis bunga-bunga, atau tidak ingin perbincangannya di telepon di dengar orang lain.
Raisa tersenyum bahagia, melihat tawa Naomi, sepertinya panggilan video dengan papanya itu begitu membuat anak itu senang, ia kadang tertawa terkekeh-kekeh, kadang terdengar merajuk, lalu asik bercerita panjang tentang banyak kejadian selama papanya tidak di tempat.
Raisa bersama yang lain, kemudian tidak lagi memperhatikan Naomi dan ibunya, mereka sudah disibukkan dengan urusan masing-masing.
Raisa sudah ijin ke dalam karena harus mempersiapkan beberapa berkas, ia akan mengikuti Seminar di kota dan akan berangkat sebentar malam.
Beberapa masih tinggal, membantu berbenah dan beres-beres di aula.
Wieke juga sudah pamit sebelum Raisa masuk, ia akan mengangkut hadiah-hadiah milik Naomi yang ditaruh dimobilnya.
"Sin... apa bu Nadya dan Naomi sudah balik ke hotel? ". Raisa muncul dari dalam, terlalu sibuk dengan urusannya, Raisa melupakan kalau tadi Naomi sedang berbicara dengan papanya.
" iya kak, tadi Naomi mau nyusul kakak ke dalam buat pamitan, cuma maminya bilang, mungkin kakak lagi istirahat sih". nampak raut muka Sinta lain mengucapkan hal itu.
"Tidak masalah, Sin,kenapa aku juga tadi tidak ingat keluar". Raisa sedikit menyesali diri.