Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 35 Mario Orang Pertama


"Pak Mario... ". Panggil Raisa kembali


" hmmh... ". Mario masih dibawah pengaruh imajinasi kotornya, apa daya ia hanyalah pria muda yang cukup kesepian, meski dikelilingi banyak wanita cantik, namun sebagai Ceo yang cukup dingin dan sangat perfect untuk pekerjaannya, sikapnya membuat dinding untuk wanita-wanita berani mendekatinya.


Bahkan Nadya, mantan istrinya akhirnya tidak tahan dan memilih berselingkuh dengan pria pasangan modelnya.


"Ya sayang?". Akhirnya keluar jurus ampuhnya, sesuatu yang mahal keluar dari mulut seorang Mario, namun belakangan ini, lidahnya selalu gatal untuk mengucapkan itu pada Raisa.


" Ish... apa sih pak Mario, ada Mbak Nisa disitu kan? ". Raisa mencebik kesal.


" Oh begitu kah? Apa kalau kita berdua, aku boleh bilang begitu? ". Mario menantang


" Ih.. bukan begitu, aih... sudahlah, pasti Pak Mario lebih parah kalau dilawan". Raisa mendelik jengkel.


" Kalau begitu menyerahlah sayang, dan datanglah padaku". Godanya.


"Mimpi... " Jawab Raisa mencicit.


"Tunggu saja, ini nyata sayang, kau nantikan saja saat itu, bersiaplah". Mario lebih menantang.


" Pak Mario, sudah bercandanya, tolong dengarkan aku". Pinta Raisa cukup halus.


"Aku orang yang sangat serius sayang, percayalah".Mario masih mode menggodanya.


" Apa kututup saja sekarang ". Raisa menyerah.


" Ayolah jangan marah, katakan soal apa? ". Mario memilih serius daripada ponselnya dimatikan, bisa runyam hatinya.


" Begini... Aku baru dapat info pasti, kampusku mengadakan ujian praktek offline, jadi seminggu ke depan aku akan tinggal di kota, soal Naomi, aku minta maaf, aku kembali akan menyerahkan pada Wieke, Sinta atau mungkin ibunya, jika ia bersedia". Raisa tampak ragu menyebutkan yang terakhir.


"Seminggu.. hmmmm... ". Mario berhitung dalam hati.


" Naomi sudah tahu". Mario meyakinkan.


"Seperti kukatakan tadi, infonya baru ketrima, jadi pak Mario orang pertama yang ku beritahu". Raisa mempertimbangkan hal itu sebagai sesuatu yang wajar.


"Pak Mario". Raisa menjadi kesal.


" Kalau pak Mario bercanda terus, ku matikan saja". Kesal Raisa


"Hehehe, kau pasti makin cantik dengan wajah cemberut itu sayang".


" gerrr...., aku akan menutup mulut pak Mario, kalau masih saja bicara aneh". gerutunya sebal.


"boleh, asal pakai bibir". Mario menggaruk kepalanya, karena mendapat pelototan dari Nisa, rupanya Nisa mulai faham, barusan chat singkat dari Raisa..


" Ipar Mbak, sepertinya sedang kesambet, bicaranya aneh".


Melihat ekspresi dan senyum-senyum aneh Mario, Nisa bisa menerka keanehan apa yang dimaksud Raisa.


Bang Romy, memberi kode pada adiknya, jika mereka sudah selesai makan siang, diakuinya, adiknya itu semakin kurang bernalar sekarang, sejak bertemu Raisa.


Pekerjaannya boleh sempurna, proyeknya tetap lancar tanpa hambatan, tapi sepertinya urusan hatinya dalam kondisi parah, adiknya benar-benar demam tinggi.


"Baiklah sayang, lakukan saja yang menurutmu baik, selama kau senang dan Naomi juga tidak keberatan, aku akan menurut padamu". Akhirnya Mario mau menutup rayuannya.


" Apa coba? tidak jelas". Raisa cemberut, ucapan Mario sudah seperti suami memberi peringatan pada istrinya saja.


Hahaha. Mario tidak bisa tidak tertawa. ia benar-benar merasa bahagia jika mengerjai Raisa.


Romy geleng-geleng kepala.


"Sebaiknya kau segera menikah,


segera bawa wanita mu itu ke pelaminan, atau otakmu akan bergeser karena semakin teracuni rasa sukamu itu". Romy menasehati.


" Tentu Bang, begitu aku berhasil menjeratnya, tidak akan kubiarkan dia lepas". Mario tersenyum smirk.


Raisa sendiri dibuatnya menggerutu namun tak ayal hatinya berbunga-bunga, mengingat gombalan manis itu. Meski begitu, hatinya nyeri jika mengingat pria itu memiliki mantan istri yang cantik dan masih menginginkan suami dan anaknya kembali. Nadya pernah menegaskan itu.