Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 22 Berangkat Bersama Darren


Raisa hanya mendengar dari Sinta, bagaimana pertemuan sebuah keluarga kecil itu.


Mario dan Nadya berpelukan. Bahkan Nadya mencium pipi Mario dan Mario membalas melakukan hal yang sama. Wajah Raisa datar mendengarnya, sikapnya pun tetap tenang, tidak menunjukkan kegelisahan, namun lain dipermukaan lain pula dalam hati. Siapa yang tahu, hati Raisa sedikit pilu mendengar nya.


Selanjutnya, menurut Sinta, mereka ijin mengajak Naomi untuk pulang cepat. Mereka pergi bersama dalam 1 mobil.


Orang-orang yang melihat, menjadi takjub dan terkagum-kagum menyaksikan pasangan suami istri dengan anak mereka yang tampak sangat serasi dan sempurna.


Seolah-olah baru kali ini mereka melihat keluarga yang luar biasa. Sinta bercerita tanpa menutup-nutupi kenyataan yang ada. Sinta sebenarnya tahu, ada sesuatu yang terjadi diantara bos, kakak angkat dan sahabatnya itu, namun Sinta juga tahu Raisa berusaha untuk tetap normal dan tidak terlibat dalam urusan hati dengan Ceo yang katanya duda namun istrinya sekarang muncul secara terang-terangan menunjukkan haknya itu, bukankah lebih baik jika Raisa tahu segalanya.


Sinta tahu Raisa selalu mampu mengatasi dan melewati segala hal dengan tegar. Sesuatu yang dikagumi Sinta dan dijadikannya contoh untuk dirinya.


Raisa memilih pergi mengunjungi Darren yang sedang di rutan untuk dimintai keterangan. Darren bukan ditahan, namun, agar proses persidangan dan proses pencarian bukti-bukti lebih cepat terlaksana.


Darren diminta bekerjasama untuk tidak pergi jauh. Selain itu, bagaimana pun gadis yang menjadi pacarnya turut terlibat, ditakutkan Darren akan melakukan tindakan nekat untuk menyelamatkan pacarnya itu.


Darren sebenarnya masih sangat shock. Gadis yang disukai nya untuk pertama kali ini, ternyata seorang yang terlibat dalam masalah hukum. Kenyataan pahit ini terutama masalah terjerat hukum ini sangat memukul Darren, dan Raisa, hanya Raisa mungkin yang akan faham, apa sebabnya.


*


Raisa berangkat bersama Darren pada malam hari dengan menggunakan bus malam. Raisa mengambil keputusan ini tiba-tiba. Raisa menyadari Darren adalah salah satu alasan dia mampu bertahan. Darren bukan cuma adik Satu-satunya. Darren juga amanah papanya, untuk ia jaga dan berada dalam pengasuhan yang baik.


Raisa sadar, berada di kota itu, mungkin akan berat untuk Darren, mengingat pacarnya sudah di tangkap. Itu merupakan pukulan buat Darren, di samping itu, kembali ke sekolah dalam waktu dekat ini kurang bersahabat bagi Darren, siapa yang bisa menahan teman-teman nya untuk tidak menggosip kan masalah Darren, apalagi Desy juga sempat bersekolah disana. Pastilah mereka akan jadi topik pembicaraan yang hangat selama beberapa waktu ke depan. Bagaimana kalau Darren emosi? lalu bertindak kasar pada teman-teman nya? Raisa tidak berani melihat kenyataan itu lagi.


Karena itulah, Raisa membuat keputusan dengan Cepat. Apalagi melihat Darren yang selama 2 hari ini, sejak peristiwa penyergapan itu, sering duduk termenung. Entah bagaimana perasaannya dan apa yang difikirkan? Raisa cukup kalut melihatnya.


Semalam Raisa berbicara banyak dengan Sinta. Untuk sementara, sekolah dititip pada gadis itu, yang sudah dianggap sebagai adik dan orang kepercayaan Raisa. Raisa akan membawa Darren ke suatu tempat yang dirasa lebih baik. Mungkin disana Darren bisa menenangkan diri dan berfikir lebih dewasa dan tenang.


Darren yang diberi tahu oleh Raisa perkara ini, sepertinya menurut saja. Sedikitpun tidak menunjukkan perlawanan atau menentang keputusan Raisa.


Mobil yang membawa mereka menyusuri kegelapan malam, melintasi jalan-jalan desa berbatu-batu dan sedang dalam proses perbaikan. tubuh mereka terguncang-guncang, diatas kendaraan. Raisa mengeratkan jaketnya, malam sudah cukup larut. Darren nampak memejamkan mata. Raisa tahu, Darren tidak tertidur lewat gerakan matanya. Raisa mengamati pemandangan diluar. Raisa juga sudah tahu, proyek perbaikan jalan ini juga salah satu proyek milik perusahaan Pak Mario, hampir seluruh proyek perbaikan infrastruktur dan sarana prasarana di desa ini dipegang oleh perusahaan milik Pak Mario.


Raisa menghela nafas panjang. Ia sudah salah dalam menilai pria yang kemungkinan berusia 30 an tahun itu.


Raisa merasa sudah salah menilai seseorang. Menganggap nya seorang yang suka merayu wanita-wanita serta berniat buruk, terutama kepadanya.


Cih... Raisa merutuki dirinya sendiri. Dia terlalu berlebihan. Ada apa dengan dirinya? Mengapa begitu konyol menilai seseorang. Jelas pria itu orang berwibawa dan memiliki tanggung jawab penuh. Tidak mungkin orang seperti itu akan gegabah dalam bertindak. Mungkin saja sikapnya karena Raisa sejak awal sudah menunjukkan sikap permusuhan. Sehingga dengan tegas pula ia bersikap seperti itu. Raisa sesesungguhnya sedikit malu hati menyadari sikspnya yang terlalu buruk menilai seseorang tersebut.


Raisa berjalan pelan menyusuri taman-taman yang cukup panjang.


Seorang pria, tiba-tiba muncul dan selalu terang-terangan menggodanya. Betapapun Raisa coba menampiknya dan mengelak, tak urung sikap itu membuat nya sedikit berbunga-bunga.


Dirinya hanyalah seorang gadis muda. dan normal. Di puji, ditatap dengan tatapan memuja, bagaimana bisa iia tidak suka. Diam-diam tentu saja Raisa tergoda dan kadang-kadang merindukan sikap itu bila Mario menujukkan sikap acuh karena kesibukannya. Mereka seperti dia orang pemuda pemudi yang bermain tarik ulur. Kadang perhatian kadang acuh, kadang menunjukkan kerinduan namun sering pula yang kelihatan


Beberapa kali, Mario menghubungi Raisa, Raisa memilih mengabaikan, Lagi-lagi chat itu dibiarkan centang dua, tidak dibacanya. Namun kemudian teringat ketika dia berbuat begitu, dan Mario muncul dengan sikap arogannya, segera membawa dirinya dengan sikap memaksa.


Raisa sedikit ngeri jika itu terulang lagi. Apalagi jantungnya tak bisa ditenangkan bila mereka berada pada jarak cukup dekat. Itu akan semakin parah bila Mario menggunakan caranya, yang suka berlaku sedikit tidak sopan dengan membisikkan kata-kata yang menggoda nya. Meskipun Raisa gadis kuat dan tidak mudah dijatuhkan. Bahkan Raisa bisa membalikkan keadaan dengan ikut berpartisipasi mengucapkan kata-kata yang bisa berbalik menyerang seseorang yang membuat nya marah, namun berhadapan dengan Mario, Raisa harus jujur, ia sedikit kehilangan diri dan sikap bar-bar nya. Itulah mengapa ia kemudian memilih membalas chat itu pada akhirnya.


"Maaf aku sedang mengikuti pelatihan kepala sekolah".


Beberapa hari ini, sebelum kedatangan ibu Naomi, Raisa sudah menghindar. Naomi hanya diajaknya bercanda di sekolah, bagaimana pun tidak ada yang bisa menolak kehadiran bocah menggemaskan itu. Namun Raisa terpaksa menolak tiap Naomi minta ditemani menunggu papinya. Raisa sudah akan keluar sekolah sebelum waktu pulang, ia cukup aman karena memang harus mengikuti rapat.