
Saat ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, Raisa sudah terbangun, memang tidurnya tidak cukup nyenyak semalam.
Bahkan nyaris ia hanya tertidur jam 2 jam, karena matanya dan juga hatinya yang tidak bisa diajak kompromi.
Sejak semalam, hanya wajah Mario dan Mario saja yang terus berkelebat di pelupuk matanya.
Mario dan sentuhan-sentuhanya itu kembali bermain-main mengganggu malamnya, tubuhnya terasa panas, panas yang aneh.
Karena fikirannya terus saja memikirkan setiap detik-detik sentuhannya.
Raisa berfikir, ada yang salah dengan hati , fikiran sekaligus tubuhnya, kemarin ia begitu marah, saat keputusan pria itu untuk memaksanya menikah.
Kenapa malamnya, saat terbaring sendiri, ia malah tidak bisa tidur karena memikirkan setiap jengkel tubuhnya yang telah disentuh.
Seperti stempel, rasa itu terasa sangat membekas di permukaan kulitnya, Raisa merasa lucu, ia merindukan sentuhan itu lagi. Raisa seperti orang mabuk, fikiran dan hatinya tidak sejalan .
Ting...
Sebuah notifikasi masuk di ponselnya, Raisa membukanya dan melihat sebuah pesan masuk, pengirimnya, Mario.
Aneh, perasaannya tidak sabaran, jantungnya berdetak cepat, ada kegembiraan nyata terpancar diwajahnya, Raisa bahkan gemetar saat membuka pesan itu.
"Hai sayangku, sudah bangun? aku sangat merindukan melihatmu terbangun pagi-pagi dan kau berada di ranjang ku".
" Deg... seeer... ". Jantung Raisa bergemuruh membaca pesan yang sangat intim itu.
" Aku menyesali mengapa tidak melewati semalam bersamamu di villa kemarin, hehh... aku frustasi sekarang, hanya bisa membayangkan bibirmu bertemu bibirku, oh... sshh... belum juga berangkat, aku sudah merindukanmu ". Tulis Mario lagi.
Kata-kata itu seperti madu sekaligus racun, Raisa terbuai, Raisa mendamba namun juga dihempas ke dasar yang menyakitkan, bagaimana tidak? kalimat itu seakan memaksa Raisa untuk menghayal.
" Ingat buka map yang kuberikan kemarin dan simpan baik-baik, itu akan mengingatkanmu untuk memahami posisimu, jaga tubuh dan hatimu untukku, okey, aku berangkat, aku akan selalu menghubungimu ". Lanjut Mario lagi dalam pesannya.
Kontan Raisa bangkit, mencari selembar map yang kemarin diberikan Mario.
Dibukanya map plastik itu dan mengeluarkan beberapa barang didalamnya.
Sebuah buku nikah, dibukanya buku itu.
Deg.
Bagaimana bisa, fotonya sudah terpasang disana. Raisa melotot tidak percaya, sejak kapan fotonya diambil, sejak kapan pria itu mulai menyusun rencana gilanya.
Lalu dibukanya lagi, Disana beberapa lembar fotocopy surat... dibacanya, surat pengesahan bukti bahwa Nadya dan Mario sudah berpisah resmi secara hukum.
"Dia pasti mau membuktikan kalau ia dan Nadya tidak ada hubungan lagi". Raisa membatin.
Raisa kembali meraih selembar surat, Raisa membacanya pelan, Surat Keputusan dari Pengadilan, kalau Naomi dibawah pengawasan dan hak asuh ada pada Mario, sehingga apapun yang berkaitan dengan Naomi adalah tanggung jawab Mario.
Di sana juga tercantum bahwa Nadya sebagai ibu kandung boleh mengunjungi putrinya kapan saja, serta Naomi boleh memutuskan dengan siapa dirinya ingin tinggal setelah berusia 17 tahun.
Selain itu tercantum pula harta yang menjadi gak untuk Nadya sebagai ibu Naomi.
Setelah itu, Raisa menemukan sebuah amplop, didalamnya berisi "black card", Raisa tentu saja tahu, itu kartu apa, papi dan mami punya kartu begini, dulu.
Raisa tersenyum mengenang beberapa tahun yang lewat, terkadang kalau papi atau maminya sibuk, tidak sempat menemani jalan-jalan, Raisa diberi kuasa untuk memakai kartu itu, meski Raisa juga memiliki ATM untuknya pribadi.
Raisa bersyukur, ia tidak begitu boros dulu, sehingga pundi-pundinya terus bertambah dan ketika papinya tertimpa masalah, kartu miliknya begitu sangat membantunya.
Raisa sesungguhnya gadis yang sangat manja ketika bersama papinya, Raisa juga sebenarnya sangat cengeng, ia begitu mudah meneteskan airmatanya dahulu.
Entah mengapa berbagai kejadian yang terjadi sempat menghilangkan airmatanya, setelah papinya berada di sel, tak pernah sekalipun Raisa ingat pernah menangis.
Gadis itu mencoba kuat menjalani hari-hari yang cukup menguras fikiran dan tenaga bersama Darren, adiknya.
Melalui semua kesulitan dengan diam, tenang dan tersenyum, membuatnya semakin hari semakin kuat dan mandiri.
Hari-harinya memang bukan seindah kehidupan princess lagi, namun Raisa dan Darren cukup bahagia, atau tepatnya Raisa yang cukup bisa menyesuaikan diri.
Raisa dapat memahami berbagai fase dan karakter berbeda-beda yang dijalani dan ditemuinya, meskipun Darren sedikit cukup mengalami kesulitan.
Raisa cukup bersedih adiknya hampir terjebak, mungkin Darren saja, Satu-satunya orang yang mampu membuat Raisa menangis, jikalau sesuatu terjadi padanya.
*
Tapi akhir-akhir ini Raisa cukup heran pada dirinya, ia begitu muda meneteskan airmatanya.
Raisa merasa sesuatu yang berbeda sedang terjadi dalam dirinya, tubuhnya, jiwanya dan juga fikirannya bahkan sekedar mood pun, Raisa merasa berbeda-beda.
Raisa merasa kehilangan kekuatannya, bukan itu saja Raisa sedikit kehilangan kepercayaan dirinya.
Raisa seringkali keliru saat melakukan sesuatu, Raisa sering melamun dan juga Raisa tidak cukup fokus saat berada pada suatu situasi, kesalahan-kesalahan sering mengiringi langkahnya belakangan ini.
Raisa tidak memahami dirinya, Sinta pun turut bingung melihat wanita yang sudah dianggapnya kakak itu, seringkali Sinta melihat kearah Raisa atau diam-diam memperhatikan dari kejauhan.
Namun Sinta tidak mampu menemukan titik masalahnya, Raisa tampak seperti biasa, tetap cantik, sehat dan selalu rapi bahkan meskipun Raisa sedikit cuek dalam penampilannya, ia tetap stylish dan menarik.
Bukan itu, bukan pada penampilan luarnya, tidak ada yang salah dengan itu.
"Apanya yang salah? ". Gumam Sinta, memperhatikan Raisa dari jauh.
" Maafkan Sinta Kak, Sinta bukan mau memata-matai kak Raisa". Bisik Sinta pelan pada dirinya.
Sinta hanya bingung, ada apa dengan Raisa?
"Oh iya", Sinta baru menyadari, belakangan Raisa suka mendiamkan dirinya, Raisa tidak seceria dulu, Raisa lebih banyak diam sekarang.
Sinta, mencoba mengingat-ingat sejak kapan perubahan pada diri Raisa, kalau diperhatikan Raisa tetap tersenyum, namun ada yang berbeda.
Senyumnya tidak seindah biasanya, karena senyum itu diikuti mata yang sendu, bukan pancaran matanya yang selalu berbinar indah.
Raisa juga tetap menanggapi setiap pertanyaan atau pembicaraan Sinta maupun guru-guru yang lain, namun tidak seantusias biasanya.
Raisa berbicara seperlunya, Raisa tertawa tapi tak lepas, pun Raisa ikut bergabung dengan mereka, namun fikirannya seakan sedang di tempat lain.
Akhirnya, itulah kesimpulan Sinta, bukan tanpa alasan, Sinta berfikir demikian, sejak ikut membantunya mengelola sekolah bahkan tinggal serumah, Sinta sangat memuja Raisa.
Sinta hampir selalu ingin mengimbangi semangat dan kemampuan Raisa menghadapi berbagai persoalan sekolah maupun pribadinya.
Raisa sudah menjadi satu personal figur bagi Sinta, sikapnya, cara berfikirnya, caranya bertindak seolah sudah menjadi satu "simbol" untuk Sinta ikuti.
Tentu saja Raisa mudah menjadi iconik bagi Sinta ataupun gadis-gadis lain, ia cantik, seksi, menarik dan cerdas juga pandai dalam banyak hal, bukankah itu perpaduan sempurna?