Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 19 Dirinya Yang Aneh


Raisa sudah menyampaikan seperlunya, apa yang perlu disampaikan pada Mario.


Pria itu tidak banyak membantah.


Pria itu hanya menatap ke dalam mata Raisa, mencoba menyelami dan


memahami keinginan dari wanita yang telah mencuri hatinya ini.


Tidak ada yang salah dari pernyataan itu, itu sepenuhnya benar.


Selama ini, Mario bukan tidak tahu kasak-kusuk wanita-wanita di kota ini. Sebuah kota kecil. Apapun dengan mudah diketahui semua orang. Raisa juga tahu hal ini, namun, Mario tahu, Raisa menulikan telinganya, karena memiliki sebuah kepentingan. Sekolahnya dan Darren, adiknya.


Rasa sayangnya pada Naomi, tidak diragukan oleh Mario. Mario mungkin


berada di kota, namun orang-orang nya dia tempatkan disini untuk memantau.


Terutama juga orang-orang nya di kota mencari tahu tentang siapa keluarga Raisa.


Semua sudah dikantonginya. Tentang Winarta Subrata pun sudah jelas baginya. Pantas, ia merasa mengenal nama itu, karena memang lelaki itu pernah terlibat bisnis dengannya dahulu sebelum dirinya diangkat menjadi Ceo, ia sudah sering menjadi wakil papanya menjalankan bisnis.


Kejatuhan Winarta, cukup mengagetkan memang. Namun waktu membuat nya dilupakan. Siapa sangka, pria itu memiliki putri, yang memutuskan menjalani hidupnya di desa.


Menjauhi kemewahan dan dunia gemerlap kota. Siapa yang tidak kenal istrinya, yang merupakan sosialita papan atas, termasuk ibu Mario mengaku kenal dengan ibu Raisa.


Hanya saja, ibunda Mario, bukan wanita yang senang dunia gemerlap, melainkan seorang profesor dibidangnya, yang sibuk dengan keilmuan. Bersama papanya, kini mereka mendirikan sebuah klinik kesehatan dan menyibukkan diri dengan penelitian.


Sejak Raisa memberi keputusan demikian. Naomi tetap berada di rumahnya sepulang sekolah dan dijemput pada pukul 5 sore seperti anak yang ikut daycare umumnya.


Tidak ada pertanyaan aneh dari Naomi. Raisa yakin, dengan kemampuan papanya dan kecerdasan Naomi, semua diselesaikan lewat bicara dari hati ke hati. Gadis kecil itu sangat mudah mengerti dan cepat faham situasi nya.


Beberapa hari berjalan biasa saja. Setelah kata-katanya yang penuh rayuan dan gombal. Raisa belum pernah lagi melihat Pak Mario dalam jarak dekat kecuali hanya sampai di depan pagar sekolah, mengantar Naomi sekolah.


Entah kenapa, Raisa sedikit kecewa,melihat kediaman Mario.


Aneh...Dirinya yang aneh. Bukankah itu keinginannya? Lalu kenapa lagi?


Apa yang membuat nya resah? Mario mengikuti keinginannya.


Seperti biasa, Raisa cepat bangkit. tidak akan lama ia membiarkan dirinya larut dalam ketidaknyamanan perasaan ataupun situasi yang buruk. Raisa bukanlah gadis yang suka menyimpan kecewa, ia lebih memilih memikirkan hal lain yang menyenangkan.


Seperti sore itu, is duduk menikmati segelas jus buah di cafe langganan nya di sudut jalan. Dari sini pemandangan cukup menyenangkan, bisa memandang seluruh lapangan olahraga dimana banyak anak muda berolahraga atau sekedar jogging fi sore hari. Puluhan Cabin-cabin penjual minuman maupun makanan ringan berdiri di pinggir lapangan lengkap dengan tempat duduknya.


Baru saja Raisa meneguk jus buah jeruk peras kesukaan nya, tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok yang sudah akrab selama beberapa waktu ini. Hatinya sedikit mencelos ketika melihat seseorang yang anggun dan cantik berjalan disisinya.


Setahu Raisa, wanita bernama Siska itu di kenal sebagai seorang pengusaha di kota mereka. Mereka kelihatan akrab. Apalagi, bukankah pesona Mario memang mampu meluluhkan kaum wanita.


Apakah itu satu kemampuan yang dipakainya untuk memuluskan usaha bisnisnya? Eeh... Memikirkan itu Raisa menjadi jengah. Raisa berdiri, segera membayar minumnya lalu bergegas pergi, ketika menuju mobilnya yang terparkir di seberang cafe, pandangannya bertemu dengan Mario. Namun Raisa segera memutuskan mengabaikan, memilih segera masuk dan melaju dengan mobilnya.


Bukan urusannya. Tapi.. heh... kenapa juga dirinya harus sebel dan seakan tidak rela. Ah... bukan dirinya. Tapi Naomi. Bagaimana perasaannya bila tahu mamanya diselingkuhi?


Tapi sejauh itukah? Ya ampun Raisa....


"Dirimu seorang guru. Pantas kah berfikir begitu picik? Mungkin saja pak Mario membahas bisnis".Apa salahnya? Raisa mengingatkan dirinya.