Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Anisa melahirkan


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh bapak mertuanya membuat Riko langsung menuju rumah sakit. Tadi Riko memang sedang meeting dengan klien dari luar kota. Sehingga ponselnya dia silent, dia sangat terjehut saat membaca pesan yang dikirmkan oleh bapak mertuanya.


" Mana Anisa pak, bu ?." Tanya Riko saat sudah sampai di depan ruangan bersalin.


Sangat beruntung Riko meeting di dekat rumah sakit tempat Anisa akan melahirkan sehingga Riko bisa cepat sampai dirumah sakit.


" Anisa ada didalam ruang bersalin ko. Kamu masuk saja, tadi dokter sudah berpesan jika suaminya datang disuruh langsung masuk." Ucap ibu mertuanya.


Riko mengangguk, tidak menunggu lama dia langsung masuk dan menghampiri Sang istri yang saat ini sudah mau melahirkan. Riko berdiri disamping istrinya memberikan kekuatan dan semangat untuk Anisa.


" Maaf sayang mas telat datangnya. Kamu pasti bisa sayang. Anak papa cepat keluar ya, kami semua sudah menunggumu." Ucap Riko sembari mengusap pelan perut Anisa.


Anisa hanya mengangguk pelan sebab dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sepertinya bayi itu sudah mau keluar, dokter pun kembali meminta Anisa untuk mengejan sesuai dengan arahannya. Keringat dingin sudah membanjiri tubuh Anisa, Riko mengusap lembut kening Anisa.


" Aauuwww... Sakit . Hhhuuuhh" Seru Anisa kembali merasakan sakit yang luar biasa.


" Ayo bu terus, sebentar lagi bayinya akan keluar. Ini kepalanya sudah kelihatan, ayuk pelan-pelan. Tarik nafas dan buang, mengejan seperti yang saya arahkan tadi ya bu." Seru dokter dengan sabar.


Anisa kembali mengejan seperti arahan yang sudah diberikan oleh dokter. Setelah 5 menit kembali mencoba akhirnya anak Anisa dan Riko sudah berhasil lahir ke dunia.


Oooeeekkk Ooeekk Ooeeekk


Tangisan pertama sang bayi pecah didalam ruangan bersalin. Riko dan Anisa mengucapkan rasa syukur yang tidak terkira. Mereka sangat bahagia, saat ini mereka benar-benar telah menjadi orang tua yang sesungguhnya.


Riko menciumi Anisa dengan lembut, tak henti - hentinya dia mengucapkan terimakasih kepada Anisa.


" Terimakasih sayang, terimakasih. Terimakasih sudah berjuang melahitksn anak kita." Seru Riko dengan haru.


" Iya mas." Jawab Anis dengan pelan, seban Anisa masih sangat lemas.


Dokter memberitahu jika anak lahir dengan selamat dan berjenis kelamin laki - laki. Anisa dan Riko diberikan kesempatan menggendong atau melihat bayinya sebentar sebelum dibawa keruangan bayi untuk dibersihkan. Dokter meletakkan bayi Anisa diatas tubuh Anisa sebentar, lalu mengambilnya dan membawanya keruangan bayi.


" Mas aku lelah." Seru Anisa sambil menghela nafas.


" Iya sayang. Maaf ya mas tadi datangnya terlambat, tadi mas ada meeting dan ponsel di silent. Maaf ya sayang." Seru Riko masih saja terus meminta maaf.


" Iya mas tidak apa - apa, yang penting tadi kamu sudah menemaniku saat aku melahirkan." Ucap Anisa dengan pelan.


Perawat datang dan segera membawa Anisa keruangan rawat inap. Riko mengikuti perawat yang mendorong brankar Anisa.


" Alhamdulillah pak, bu. Anak kami sudah lahi dengan selamat. Sekarang Anisa mau dipindahkan ke kamar rawat inap. Lebih baik kita ikuti perawat saja, aku senang sekali pak, bu." Seru Riko penuh haru bahagia.


" Iya Riko, ibu dan bapak juga ikut senang dan bahagia atas kelahiran cucu kalian. Tadi kami sudah sempat melihatnya sebentar saat perawat membawanya keluar. Ya sudah ayok kita kekamar rawat inap Anisa, kasihan kalau dia sendirian." Ucap ibu mertua Riko dengan ramah.


Mereka bertigapun menuju kamar rawat Anisa, Anisa tersenyum senang melihat kedatangan orang - orang tersayangnya. Ibunya memeluk dan mengucapkan selamay kepada Anisa.


" Selamat ya Nak, akhirnya kamu sudah resmi menjadi ibu yang sesungguhnya. Seperti baru kemarin kami menimang mu namun sekarang justru kamu yang akan menimang anakmu. Ibu dan bapak sangat bahagia sekali, kini cucu kami sudah lengkap. Ada laki - laki ada juga perempuan." Seru ibu Anisa terlihat sekali guratan bahagia pada wajahnya yang sudah tidak lagi muda.


" Terimakasih bu. Maafkan Anisa ya bu jika selama ini Anisa sudah banyak salah dan pernah menyakiti hati bapak dan ibu. Ternyata melahirkan sungguh luar biasa nikmatnya bu." Seru Anisa sambil meneteskan air mata kebahagiaanya.


Sang ibu memeluk Anisa dan mengusap pucuk kepala Anisa dengan lembut. Saat mereka sedang berpelukan tiba - tiba pintu terbuka dan datanglah perawat mengantarkan bayi Anisa. Dengan ramah perawat menyapa semua anggota keluarga yang ada.


" Terimakasih ya Sus." Seru Riko mengucapkan terimakasih kepada suster yang sudah mengantarkan anaknya.


" Sama-sama pak. Mari saya permisi dulu, jika ada perlu sesuatu atau butuh bantuan panggil saja kami ya pak. Bisa menggunakan tombol yang ada disana." Ucap perawat itu sembari menunjuk tombol yang menempel pada dinding atas brankar.


" Iya suster terimakasih." Riko kembali mengucapkan terimakasih kepada suster.


Suster itu hanya mengangguk ramah lalu dia keluar dari ruangan Anisa. Ibu Anisa mengambil cucunya dari bok bayi dan menggendongnya dengan.


" Kalian sudah menyiapkan nama untuk putra kalian belum?."Tanyx ibu Anisa.


" Namanya Devran putra sanjaya, Bu. Bagaimana kalian semua setuju atau tidak?." Tanya Riko memandang kearah kedua mertuanya secara bergantian untuk meminta persetujuan.


" Nama yang bagus, apapun nama yang kamu berikan pasti itu nama yang terbaik untuk anakmu. Nama adalah doa dari kedua orang tuanya. Semoga dengan nama yang kamu berikan akan membawa keberkahan untuk anakmu." Ucap bapak anisa.


" Aamiin."Seru semuanya serentak.


Ceklekk


Pintu kamar rawat Anisa terbuka dan masuklah keluarga kecil abimana. Cantika sudah lari duluan menghampiri neneknya yang sedang menggendong bayi mungil.


" Nenek Cantika mau gendong adek bayinya dong. " Seru Cantika dengan senang.


" Peluk sama cium saja dulu ya sayang." Seru sang nenek dengan lembut.


" Iya nek." Jawab Cantika mengangguk paham.


Serena dan Abimana menghampiri Anisa dan mengucapkan selamat kepada Anisa dan Riko. Abimana tahu Anisa melahirkan dari Riko yang saat perjalanan menuju rumah sakit tadi sempat menghubungi Abimana mengabarkan jika Anisa akan melahirkan.


**********


Dua hari berlalu.


" Mas bagaimana keadaan Ibu? Apa dia benar - benar terganggu jiwanya?."Tanya Santi kepada Zainal.


Zainal masih termenung memikirkan ibunya yang saat ini terganggu jiwanya. Dokter sudah menetapkan jika ibu Ratri benar-benar sudah terganggu kejiwaannya bahkan surat hasil pemeriksaannya pun sudah keluar.


" Iya Sayang. Surat dari dokter juga sudah keluar. Haaahh mas tidak tahu kenapa nasib keluarga mas jadi seperti ini. Mungkin ini hukum karma untuk ibu, sebab selama ini ibu sudah banyak dosa dan salahnya kepada para menantunya."Jawab Zainal terdengar begitu putus asa.


Santi diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Santi juga berfikir apa yang saat ini terjadi dengan ibu mertuanya, mungkin memang balasan dari segala perbuatan yang selama ini dia lakukan. Santi sendiri sudah memaafkan semua kesalahan ibunya yang sudah diperbuat kepadanya.


Bagas yang baru saja pulang kuliah langsung menuju rumah Zainal. Sebab dia melihat Zainal yang sedang duduk bersantai di teras rumah.


" Mas Zainal kok jam segini sudah pulang?." Tanya Bagas duduk di kursi samping Zainal.


" Iya Gas. Tadi ada meeting diluar selesai setengah 3 jadi mas langsung pulang saja. Kamu dari kuliah apa bekerja?."Tanya Zainal melirik kearah Zainal.


" Dari kuliah mas, tadi ada urusan sama dosen terus pulang dari kampus aku ketempat ibu. Kasihan banget ibu mas, kenapa nasib ibu jadi seperti ini ya mas. Kita seolah gagal menjaga ibu. " Seru Bagas lalu menundukan kepalanya.


Hhhuuufffff


Terdengar helaan nafas panjang Zainal, baru saja dia dan Santi membicarakan masalah ibunya kini Bagas datang juga membicarakan soal ibunya juga.


" Kamu mau teh Gas?."Tanya Santi menawari adik iparnya minum.


" Tidak usah mbak." Jawab Bagas singkat.


" Oh ya sudah kalau begitu mbak tinggal ya, mau masak untuk makan malam. Nanti kamu makan malam disini saja, tidak usah beli." Ucap Santi.


" Iya mbak, terimakasih." Ucap Bagas sembari menganggukkan kepalanya.


Santi masuk kedalam, sebelum memasak dia menghampiri anak - anaknya yang sedang bermain dihalaman belakang bersama kelinci barunya, untuk memintanya segera mandi.


" Mungkin ini memang sudah jalan takdir ibu Gas. Kita tidak kurang - kurang menasehati ibu, semoga saja ibu bisa mengambil hikmah dari semua yang sudah terjadi ini." Ucap Zainal memandang lurus kedepan.


" Bagaimana mau mengambil hikmahnya jika ibu saja sudah gila seperti itu mas. Alhamdulillah kalau dia bisa sembuh, kalau tidak sembuh mau bagaimana lagi mas." Ucap Bagas terlihat pasrah dengan keadaan ibunya.


" Kamu benar Gas. Oh iya nanti malam mbak mu mengajak kerumah Anisa, mau menjenguk bayi Anisa. Apa kamu mau ikut? Kalau mau ikut kamu bareng saja."Ucap Zainal mengganti topik pembicaraan.


" Memangnya sudah pulang kerumah mbak Anisa nya?" Tanya Bagas lagi


" Sudah tadi siang. " Jawab Zainal singkat.


Bagas pun mengangguk , dia akan ikut dengan Zainal saja. Selesai dengan pembahasannya Bagas pun pulang dan Zainal juga masuk kerumah untuk mandi, lalu akan mengajak kedua anaknya jalan - jalan sore mumpung dia pulang cepat.


***********