Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Meminjam uang


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tidak ada pilihan lain bagi Rendra selain meminta pertolongan Anisa dan Riko. Dia tidak sanggup dan kasihan melihat ibunya yang mendekap dibalik jeruji besi. Rendra memberanikan diri akan mendatangi rumah Anisa untuk meminjam uang, uang itu akan dia gunakan untuk membayar pengacara.


" Mas, jangan gila kamu ! Ibu dipenjara itu karena ulah ibu sendiri, sebagai anak sudah pasti aku juga kasihan dan sedih. Tetapi semua ini juga kesalahan ibu. Lebih baik biarkan saja ibu disana agar dia menyesali perbuatannya. Jika dia memang menyesal pasti akan menjalani hukumannya dengan ikhlas. Jangan datang kerumah mbak Anisa jika hanya untuk meminjam uang !" Seru Bagas mengingatkan Rendra agar jangan mengganggu ketenangan Anisa.


Kedatangan Rendra kesana justru akan mempermalukan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia meminta tolong dengan Anisa sedangkan selama ini ibunya selalu membenci dan menghina Anisa. Apalagi Rendra sudah menyakiti Anisa.


" Kamu memang tidak punya rasa kasihan kepada ibu Gas. Setuju atau tidak aku akan datang kerumah Anisa untuk meminjam uang. Sekaligus mau menemui Riko menanyakan soal pekerjaan." Seru Rendra tetap tidak perduli dengan nasehat Bagas.


" Memang mas mau pinjam uang berapa?." Tanya Bagas ingin tahu uang yang akan dipinjam Rendra.


Setahu Bagas bayaran untuk pengacara itu mahal belum lagi harus mengurus ini dan itu. Apalagi sampai Nadin meminta uang ganti rugi atas kerusakan mobilnya.


" 300 juta" Jawab Rendra singkat.


" 300 juta? Mas mau bayar pakai apa ? Ingat mas kamu itu seorang penganggurn dan aku hanya mahasiswa yang bekerja part time. Kamu kira uang 300 juta itu sedikit mas ? Mau mengandalkan mas Zainal ? Mas Zainal punya tanggung jawab sendiri. Pokoknya semua terserah kamu saja mas, aku tidak mau ikut campur. Dan ingat, jangan jadi benalu di hidup mbak Anisa. Sudah cukup selama ini kalian menjadi Benalu.!" Sentak Bagas dengan tegas sehingga membuat Rendra tersulut emosi.


Braaakkk


Rendra memukul meja dengan kuat sampai tangannya memerah dan sudah pasti kesakitan. Rendra tidak terima saat mengatakan Rendra jadi benalu di kehidupan Anisa.


" Maksud kamu apa bicara seperti itu ?" Tanya Rendra dengan lantang.


" Jangan kira aku tidak tahu mas, selama mbak Anisa menjadi istrimu dia itu hidup susah dan menderita. Bahkan uang untuk makanpun tidak cukup karena mas lebih mempercayakan uang belanja kepada Ibu daripada kepada istrimu sendiri. Mbak Anisa harus menambah uang belanja yang tidak seberapa itu, kamu dan Ibu itu sama saja mas. Sama-sama benalu, barang-barang yang ada di rumah ini juga kebanyakan uang Mbak Anisa yang dipergunakan dan itu belum semuanya kamu kembalikan. Meskipun aku diam bukan berarti aku tidak tahu Mas."Seru Bagas memandang Rendra dengan penuh kebencian.


Rendra gelagapan , apa yang dikatakan oleh Bagas memang benar. Bahkan uang itu hanya 50 juta yang dikembalikannya kepada Anisa, itupu memang Anisa yang memintanya 50 juta saat mereka sebelum resmi bercerai. Dan masih ada lagi yang sengaja Anisa tidak mau tagih, sebab semua itu memang tidak Anisa permasalahkan lagi.


" Kamu jangan ikut campur urusan mas " Seru Rendra.


" Baiklah aku tidak akan ikut campur." Seru Bagas lalu bangkit dan masuk kekamarnya.


Rendra juga keluar dari rumah menuju motornya yang terparkir di teras rumahnya. Suasana malam hari terasa amat dingin, namun tidak untuk Rendra. Hatinya yang diliputi amarah karena pertengkarannya dengan Bagas tadi mengalahkan hembusan dingin angin malam. Rendra memacu kendaraan roda duanya menuju kediaman Anisa. Tekad dia sudah bulat untuk meminjam uang kepada Anisa dan Riko.


Cukup lama dalam perjalanan akhirnya motor Rendra sudah sampai didepan pintu gerbang rumah Anisa. Rumah yang dulu pernah dia dan Anisa tempati selama beberapa bulan sebelum erika masuk menghancurkan semuanya. Mata Rendra berkaca - kaca melihat rumah mewah yang saat ini ada didepannya. Rendra teringat kebersamaanya dengan Anisa.


* Mungkin jika aku tidak mengikuti perkataan ibu, samosi sekarang aku dan Anisa masih bersatu. Dan aku akan tinggal dirumah mewah ini. * Gumam Rendra dalam batinnya.


" Loh pak Rendra ?" Seru pak Burhan dari balik pintu gerbang mengintip Rendra yang berdiri didepan gerbang.


" Iya pak. Tolong buka pintunya ya, saya ada perlu sama Anisa dan Riko. Tenang saja saya tidak akan mungkin membuat masalah. Saya datang kesini benar - benar ada hal serius yang ingin saya bicarakan sama Anisa dan Riko." Ucap Rendra menyakinkan pak Burhan.


Tanpa berfikir panjang pak Burhan akhirnya membukakan pintu gerbang untuk Rendra. Rendra mengangguk terimakasih lalu kembali menghidupkan mesin motornya dan membawanya kehalaman rumah. Rendra berjalan gontai menuju pintu utama, dulu saat dia pulang bekerja pasti Anisa akan menyambutnya didepan dengan senyum yang menghangat. Namun semua itu kini hanya masalalu dan tidak mungkin lagi untuk terjadi.


Tok Tok Tok


Rendra mengetuk pintu depan dengan cukup kuat, bik marni yang sedang membantu Anisa membereskan meja makan langsung berlari untuk membukakan pintu.


" Pak Rendra ? Emm... Mau ketemu siapa?" Tanya bik Marni.


" Iya bik ini aku Rendra. Bik Marni apa kabar ? Saya ingin bertemu Riko dan Anisa , apakah mereka berdua ada?" Tanya Rendra dengan sopan sambil mengulas senyumnya.


" Ada. Alhamdilillah kabar baik pak. Oh iya mari masuk dan duduk, saya panggilkan Mbak Anisa nya dulu." Ucap Bik Marni dengan ramah.


Rendra mengangguk lalu mengikuti perintah bik Marni untuk masuk dan duduk. Rendra duduk sendiri dengan pandangan mengelilingi setiap sudut ruangan, sampai matanya menangkap foto pernikahan Anisa dan Riko yang terpajang di ruang keluarga.


* Dulu foto ku dan Anisa yang terpajang disana. Tapi sekarang sudah ganti * Gumam Rendra dalam batinnya.


Anisa dan Riko berjalan beriringan untuk menemui Rendra. Melihat Anisa yang melingkarkan tangannya dilengan Riko membuat hati Rendra terasa sakit dan perih, tidak bisa dipungkiri jika sampai saat ini Rendra masih menyimpan rasa untuk Anisa.


" Haii Ndra, apa kabar ? Apa yang membuat mu sampai datang kerumah kami?" Tanya Riko setelah duduk dihadapan Rendra.


" Kabarku sedang tidak baik - baik saja." Jawab Rendra singkat.


" Ada masalah apa ? Apa soal pekerjaan ? Ohh tenang saja aku pasti akan memberikan kamu pekerjaan. Asalkan kamu bekerja dengan sungguh - sungguh dan tidak berkelakuan buruk." Ucap Riko dengan santai.


Anisa sementara hanya menyimak obrolan antara suami dan mantan suaminya. Rendra sesekali masih mencuri pandang kearah Anisa tetapi Anisa pura-pura tidak tahu.


" Terimakasih, tapi saat ini aku butuh bantuan kalian tetapi bukan soal pekerjaan. Aku datang kesini karena aku ingin meminjam uang sama kalian." Ucap Rendra dengan yakin .


Riko dan Anisa saling melempar pandangan, mereka tidak pernah menyangka jika kedatangan Rendra untuk meminjam uang. Namun Riko dan Anisa masih mencoba berfikir positif.


" Untuk apa mas ? Dan berapa yang ingin kamu pinjam.?" Tanya Anisa akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sedari tadi diam.


" 300 juta untuk bayar pengacara. Ibu di tahan oleh polisi karena ketahuan mencelakai Nadin sampai Nadin kecelakaan dan kehilangan calon bayinya. Jadi uang 300 juta itu aku pinjam untuk membayar pengacara agar bisa mengeluarkan ibu dari penjara." Jawab Rendra dengan entengnya.


Riko dan Anisa terbelalak mendengar nominal uang yang akan dipinjam Rendra. Apalagi alasannya untuk membebaskan ibunya dari penjara. Anisa baru tahu jika mantan ibu mertuanya saat ini ditahan oleh polisi atas kasus kecelakaan yang menimpa Nadin. Anisa tidak akan pernah meminjamkan uang kepada Rendra, 300 juta bukan uang yang sedikit. Bukan Anisa tidak punya justru Anisa hanya ingin berjaga - jaga kemungkinan yang nanti bakalan terjadi.


" Maaf mas aku tidak bisa memberikan pinjaman uang sebanyak itu. Kalau untuk memberimu pekerjaan di perusahaan mas Riko aku sudah menyetujuinya." Jawab Anisa .


" Tolonglah Anisa, Riko. Ini demi ibu ku, apa kalian tidak kasihan dengan ibuku yang sudah tua tetapi mendekam dipenjara. " Ucap Rendra memohon.


" Maaf Ndra, aku tidak bisa memberikan uang itu. Sebab semua keputusan ada pada Anisa. Seperti yang dikatakan Anisa tadi, aku hanya bisa memberikan kamu pekerjaan dengan catatan kamu berkelakuan baik." Seru Riko.


" Kalian ini orang kaya tetapi yang 300 juta saja pelit banget. Padahal ini untuk menolong seseorang, jadi begini sifat asli kalian? Kalian pasti senangkan melihat ibuku menderita di penjara sana ? Terutama kamu Nis, kamu pasti senang dan menertawakan nasib yang saat ini dialami ibuku. Kamu dendamkan sama ibuku !! Jahat kamu Anisa !" Seru Rendra dengan meninggikan suaranya.


Riko tidak terima dengan tuduhan Rendra apalagi suara rendra meninggi saat bicara dengan Anisa. Sudah pasti Riko tidak terima istrinya dibentak Rendra. Riko berjalan mendekati Rendra lalu menarik kerah kemeja yang dikenakan Rendra.


" Jangan sekalipun kamu bicara kasar dengan istriku. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan harap aku akan memberikan kamu pekerjaan.!!" Bentak Riko lalu menghempaskan Rendra dengan kasar.


" Mas jangan mengotori tanganmu." Seru Anisa yang juga terlihat sedang menahan amarahnya.


" Manusia sombong ! Pelit ! Lihat saja kalian pasti akan menyesal." Seru Rendra.


Setelah bicara seperti itu Rendra pergi meninggalkan rumah Anisa. Dia keluar rumah Anisa dengan amarah yang membuncah, angan - angannya untuk mendapatkan uang 300 juta kini hanya tinggal kenangan saja.


**********