
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Malam ini Zainal sengaja datang kerumah ibunya, mengumpulkan semua anggota keluarganya. Ada Rebdra, Bagas, Nadin dan Ibu Ratri. Zainal menceritakan kepada ibunya jika dia dan Santi seminggu lagi akan menikah atau rujuk. Tetapi Ibu Ratri menolaknya dengan tegas karena Ibu Ratri sudah mempunyai calon istri yang cocok untuk Zainal.
" Ibu tidak akan pernah setuju kamu rujuk dengan Santi. Santi itu hanya wanita miskin, apa yang mau kamu harapkan dari Santi. " Ucap Ibu Ratri dengan tegas.
" Miskin atau kaya, Zainal tidak perduli Bu. Bukannya dulu Ibu setuju saat Zainal menikah dengan Santi ? Jika sekarang Ibu tidak setuju, Zainal tidak perduli. Zainal ingin hidup bahagia bersama anak-anak Zainal Bu. Zainal ingin memberikan kebahagiaan yang lengkap untuk mereka. Jadi tolong jangan pernah ibu mengganggu hubungan Zainal dan Santi. Tanpa restu dari ibu Zainal akan tetap rujuk dengan Santi. Kebahagiaan Zainal, Zainal sendiri yang menentukan." Pungkas Zainal tidak kalah tegas dari ibunya.
Mendengar ucapan Zainal membuat Ibu Ratri juga ikut terpancing emosi. Dia memarahi Zainal dan mengancam tidak akan menganggap Zainal anak jika dia tetap merujuk dengan Santi. Tetapi Zainal bukanlah Rendra yang akan menurut begitu saja dengan perintah ibunya.
" Ibu tidak akan setuju kamu rujuk dengan Santi. Jika kamu tetap rujuk dengan Santi, Ibu tidak mau menganggap kamu anak lagi Zainal. Pikirkan baik-baik perkataan Ibu. Jangan sampai Ibu mengecapmu anak Durhaka. !!" Seru ibu Ratri dengan amarah yang sudah tidak bisa terkontrol lagi.
Deg
Jantung Zainal seakan berhenti berdetak saat Ibunya mengatakan kata durhaka. Sebegitu marah nya ibunya sampai kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sebagai seorang ibu seharusnya bisa mendukung anaknya untuk menjalani kehidupan baru, apalagi demi kebahagiaan kedua cucunya. Tetapi sepertinya tidak berlaku untuk ibu Ratri dia tetap memaksakan kehendaknya meskipun anak-anaknya tidak setuju.
Rendra, Bagas, Nadin sedari tadi hanya diam saja dan masih memberikan ruang untuk Zainal dan ibu Ratri untuk saling berbicara. Namun sepertinya pembicaraan mereka semakin memanas sehingga akhirnya Bagas sebagai anak paling kecil ikut buka suara.
" Bu apa salahnya mas Zainal menikah atau rujuk lagi dengan kbak Santi ? Diantara mereka ada Kiki dan Koko bu, mereka butuh orang tua yang utuh. Mereka masih butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setidaknya Ibu pikirkan kebahagiaan untuk kedua cucu ibu. Jangan mementingkan ego ibu sendiri. Mas Zainal sudah dewasa dia berhak menentukan kebahagiaan dia sendiri Bu." ucap Bagas mencoba menasehati ibunya.
" Diam kamu Bagas!! Kamu itu anak kecil, kamu tahu apa soal pernikahan dan bahagia. Mau jadi anak pembangkang kamu. " Ucap Ibu Ratri menatap tajam kearah Bagas.
" Huh dasar keluarga yang aneh, anak mau bahagia kok dilarang. Daripada aku ikut duduk di sini kepalaku pusing mendengar ocehan dari ibu. Lebih baik aku masuk kamar, tiduran dan bersantai sambil nonton drakor." Ucap Nadin dengan menatap sinis Ibu mertuanya.
Setelah bicara seperti itu Nadin pun bangkit dan melangkah masuk ke kamarnya. Rendra sebagai suami hanya diam saja, mungkin memang lebih baik Nadin masuk kamar. Tidak baik wanita hamil mendengar kata - kata kasar yang dilontarkan oleh ibunya.
" Jangan bahas soal yang lainnya bu. Saat ini kita sedang membahas mas Zainal yang akan rujuk. Oh iya mas, kalau aku boleh saran lebih baik mas ikuti saja apa perkataan Ibu. Lagi pula membahagiakan kedua anakmu tidak perlu dengan cara menikah dengan mbak Santi lagi kan ? Mas bisa memberikan mereka nafkah secara layak, menurutku itu sudah lebih dari cukup. " Ucap Rendra justru setuju dengan perkataan ibunya.
Ibu Ratri tersenyum senang melihat Rendra yang berpihak kepadanya. Dari dulu memang Rendra yang selalu ada di pihaknya. Serta Rendra juga anak yang selalu menurut tidak pernah membangkang ibunya. Tetapi saat ini masalah Nadin yang masih difikirkan juga oleh ibu Ratri, bagaimana Rendra bisa berpisah dengan Nadin.
" Dasar adik tidak punya rasa kasih sayang kepada kedua keponakannya. Mungkin kalau kamu yang ada di posisi aku kamu akan menerima permintaan ibu, Rendra. Tetapi tidak denganku ! Aku adalah aku dan aku bukanlah kamu yang selalu menurut apa kata ibu. Meskipun aku tahu dalam hati kamu sebenarnya kamu juga tersiksa dengan semua permintaan ibu yang tidak masuk akal. Kamu sadar tidak rumah tangga kamu dan kehidupan kamu hancur itu bermula karena kamu selalu mengikuti apa kata ibu." Ucap Zainal sangat penuh penekanan.
Rendra langsung terdiam apa yang dikatakan Zainal memang benar adanya. Selama ini Rendra mengikuti apa kata ibunya, sehingga dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Rendra melakukan semua itu karena dia tidak mau menyakiti surganya. Demi surganya dia telah mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Bahkan dia juga telah menyakiti hati mantan istrinya, tidak akan mendapat surganya jika dengan cara mendapatkannya saja harus mengorbankan dan menyakiti kebahagiaan sang istri.
" Kalau kamu tidak mau mengikuti perkataan Ibu terserah Zainal. Tapi jangan pernah kamu mempengaruhi Rendra. Rendra itu jauh lebih baik dari kamu. Camkan itu !! Dan mulai sekarang kamu bukan anakku lagi ! Karena kamu sudah membantah dan tidak mau mengikuti apa perkataan surgamu. Ingat surgamu ada di telapak kakiku Zainal." Ucap ibu Ratri semakin berapi - api.
" Maafkan Zainal bu bukan maksud Zainal ingin membantah atau mengabaikan ibu. Tapi apa yang Ibu perintahkan itu tidak baik dan tidak benar. Zainal hanya ingin bahagia dengan keluarga yang utuh Bu. Maaf jika memang surga itu tidak untuk Zainal, tapi sampai kapanpun Ibu tetap ibu kandung Zainal. Ibu tidak mau menganggap Zainal anak lagi itu terserah ibu." Seru Zainal yang sebenarnya sudah mulai terpancing emosi namun sebisa mungkin dia mengendalikannya agar tidak keluar kata - kata kasar.
Hhhuufff...
Bagas mendengarkan perdebatan yang tiada henti sudah mulai bosan dan muak ada ditengah - tengah mereka. Bagas sangat menyayangkan sikap ibunya yang sangat - sangat tidak patut dicontoh untuk anak- anaknya. Bagas mengusap wajahnya dengan kasar lalu diapun kembali membuka suara.
" Mas Zainal tenang saja, jika Ibu dan mas Rendra tidak setuju dengan keinginan nas Zainal rujuk dengan mbak Santi. Bahkan mereka tidak akan datang saat mas menikah lagi dengan mbak Santi, Mas masih punya Bagas. Bagas sebagai adik mas, sebagai keluarga mas akan mendukung apapun yang menjadi keputusan mas Zainal. Bagas akan datang saat mas menikah nanti." Ucap Bagas dengan serius tanpa memperdulikan mata ibunya yang seolah akan lepas dari kelopaknya.
"Terima kasih banyak kamu memang adik terbaikku. Biarpun kamu masih kecil kamu lebih dewasa dari Rendra. Pemikiran kamu lebih terbuka dari Rendra. Biarkan saja anak itu hidup dalam aturan ibu suatu saat nanti dia pasti akan menyesal karena selalu menuruti apa permintaan ibu." Ucap Zainal tanpa menatap Rendra dan Ibunya.
" Jika permintaan dan kata-kata ibu itu baik, pasti anak-anaknya akan menurutinya. Tidak mungkin akan menolak seperti ini." Ucap Zainal lagi dan diangguki oleh Bagas.
Rendra hanya menundukkan kepalanya saja, sebenarnya dia sudah menyadari kekeliruannya. Tetapi kembali lagi karena dia tidak mau membuat ibunya bersedih. Surganya ada ditelapak kaki sang ibu.
Zainal memilih segera meninggalkan rumah ibunya. Semakin lama dia disana, akan semakin lama juga dia emosi.
**********