
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sepulangnya dari rumah Anisa, Rendra duduk termenung di ruang tamu rumahnya. Dia memikirkan semua kejadian yang selama ini terjadi dengan hidupnya. Dari mulai rumah tangganya dengan Anisa, dengan Erika. Semuanya hancur begitu saja,bahkan saat ini rumah tangganya dengan Nadinpun sedang berada diujung tanduk dan itu semua karena ibunya. Rendra seperti mulai menyesali kekeliruannya.
" Apa benar jika ibu yang sudah menghancurkan kehidupan dan kebahagiaanku. Saat bersama Anisa, aku dipaksa menikah dengan Erika. Dan saat sudah bersama Erika aku mencari pelampiasan dengan Nadin dan ibupun menyetujuinya. Tapi sekarang justru ibu yang menghancurkan pernikahanku dengan Nadin. " Ucap Rendra bermonolog sendiri.
Bagas yang baru saja keluar dari kamar menghampiri Rendra. Dia ingin menanyakan perihal kedatangannya kerumah Anisa untuk meminjam uang apakah berhasil atau tidak.
" Bagaimana mas ? Apakah berhasil pinjam uang 300 jutanya ?" Tanya Bagas dengan sedikit meledek Rendra.
" Tidak !" Jawab Rendra singkat dan padat.
" Aku kan sudah bilang jangan menyusahkan mbak Anisa lagi. Sudah cukup selama ini mas dan ibu menyusahkan dia dan menyakiti mbak Anisa. Sekarang lebih baik mas coba koreksi diri mas sendiri , mas renungi semua kesalahan mas . Siapa tahu dengan mas mencoba merenungi dan menyadari kesalahan,serta mencoba memperbaiki diri mas Rendra rezekinya akan terbuka. " Ucap Bagas kembali menasehati Rendra.
Sebagai seorang adik tentunya Bagas juga ingin melihat Rendra hidup bahagia dengan keluarganya. Zainal sendiri saat sudah berubah dan memulai kebahagiaan barunya bersama anak dan istrinya. Kini tinggal Rendra yang harus bisa berubah lebih baik lagi. Bagas yakin jika Rendra bisa memiliki kebahagiaannya lagi.
" Mas bingung Gas. Jujur mas sudah lelah hidup seperti ini, mas juga ingin bahagia Gas. Tapi bagaimana dengan ibu ? Mas tidak mau membantah dan membuat ibu bersedih. Selama ini mas selalu menurut dan mengikuti apa kata ibu itu karena mas sangat menyayangi ibu. Mas hanya ingin berbakti sama ibu dan mendapatkan ridho serta surganya ibu Gas. Tapi kenapa justru kehidupan mas yang berantakan begini." Ucap Rendra terlihat sekali penuh rasa penyesalannya.
" Penyesalan itu pasti datang terakhir mas. Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Perbaiki diri mas Rendra dari sekarang sebelum mas Rendra semakin menyesal. " Ucap Bagas kembali mengingatkan Rendra.
Rendra terlihat merenungkan kata - kata adiknya barusan. Memang benar tidak ada kata terlambat jika dia ingin memperbaiki diri. Yang saat ini masih mengganggu fikirannya adalah ibunya yang mendekam didalam penjara.
" Terus bagaimana dengan ibu Gas? Mas tidak tega melihat ibu dipenjara. Kamu tahu sendirikan bagaimana keadaan penjara itu ? Apalagi ibu itu sudah tua, apa kita tidak dzolim jika membiarkan ibu berlama-lama disana?." Tanya Rendra ragu .
" Biarkan ibu mempertanggung jawabkan perbuatannya mas. Bagas juga kasihan dengan ibu mas, tapi mau bagaimana lagi, semua itu kesalahan ibu sendiri. Mungkin dengan ibu ada disana ibu bisa menyadari semua kesalahannya." Ucap Bagas dengan menatap kearah Rendra.
" Tapi apa kita tidak akan durhaka membiarkan ibu kita menderita didalam penjara sana ?" Tanya Rendra lagi masih saja merasa bersalah jika ibunya mendekam dipenjara.
" Tidak ! karena bukan kita yang memasukan ibu kesana tetapi ibu sendiri yang melakukan kejahatan sehingga dia harus mempertanggung jawabkan semua itu. Harapan Bagas setelah ibu keluar dari sana, ibu sudah lebih baik." Ucap Bagaa penuh rasa harap.
Setelah bicara seperti itu Bagas kembali masuk kamarnya, sebab malam sudah semakin larut. Sedangkan Rendra masih termenung ditempatnya.
* Aku harus bangkit, aku tidak mungkin begini terus. Aku juga layak bahagia, aku akan menemui Nadin agar dia mau membatalkan gugatan cerainya. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Nadin. Semoga saja Nadin masih mau mempertahankan rumah tangga ini, dan aku akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.* Gumm Rendra dalam batinnya.
Sementara itu saat ini Santi dan Zainal sedang membicarakan masalah ibu Ratri yang masuk penjara. Zainal memang sampai malam belum tahu sebab ponselnya juga masih dia matikan. Sedangkan Santi baru memberitahu Zainal saat sudah malam.
" Jadi orang yang sudah merusak mobil Nadin itu ibu ? Sampai Nadin celaka?" Tanya Zainal sedikit meninggikan suaranya.
" Sstt... Jangan keras-keras kalau bicara. Nanti anak - anak bangun, ingat ini masih dikamar Koko mas." Ucap Santi mengingatkan.
Koko memang sedang demam sehingga Santi dan Zainal masih menunggu sang anak. Zainal terkejut soal kabar yang baru saja diberitahu oleh Santi sampai dia lupa jika masih dikamar Koko.
" Aamiin. Mas Zainal tidak marah karena aku baru memberitahu kamu malam ini? Sebenarnya Nadin sudah memberitahu dari siang,cuma tadi kita lagi repot sama sisa - sisa acara kemarin mana ditambah Koko juga demam. Maaf ya mas " Ucap Santi merasa tidak enak dengan Zainal.
Santi khawatir jika Zainal akan berfikiran seolah Santi tidak perduli dengan ibu mertuanya. Bagaimanapun sekarang hubungan Santi dengan ibu mertuanya tidaklah baik.
" Tidak apa - apa, lagipula memang kita memang sedang repot ditambah koko juga sakit. Besok pagi saja kita jengukin ibu di kantor polisi." Ucap Zainal.
" Iya mas." Jawab Santi singkat.
Santi sudah bisa membayangkan bagaimana nanti saat dia bertemu dengan ibu mertuanya. Pasti ibu mertuanya akan mencacinya dan memarahinya. Untuk menolak tidak ikut tetapi tidak enak dengan Zainal, jika ikut pasti akan terjadi perdebatan.
" Kamu kenapa Santi? Apa ada yang sedang kamu fikirkan?" Tanya Zainal memandang aneh kearah Santi yang tiba - tiba wajahnya berubah murung.
" Jika aku tidak ikut dengan ibu bagaimana mas?" Tanya Santi hati - hati takut menyinggung perasaan sang suami.
" Kamu takut ibu marah ?" Tanya Zainal.
Santi terlihat menganggukkan kepalanya dengan lemah. Bukan berarti dia tidak mau bertemu dengan ibu mertuanya. Tetapi untuk saat ini Santi lebih memilih untuk menghindarinya terlebih dahulu daripada harus ribut yang ada akan semakin memperkeruh suasana. Santi tidak mau menambah beban fikiran Zainal.
" Kalau memang kamu belum mau bertemu ibu tidak apa-apa Santi. Aku bisa memaklumi keadaan kamu, ya sudah besok biar mas saja yang datang kesana sendiri. Kamu masakin saja untuk ibu, siapa tahu nanti setelah dia makan masakan kamu dia bisa luluh hatinya. Masakan istriku ini kan sekarang enak." Ucap Zainal menggoda Santi.
" Jangan menggoda seperti itu, ingat ini dikamar Koko jadi tidak bisa asal hajar ya." Seru Santi sambil terkekeh.
" Hehee... Iya juga ya, hampir saja kelepasan. Ya sudah yuk kita kekamar kita sendiri. Koko juga sudah terlelap, Kiki dikamarnya juga pasti sudah terlelap. Sekarang giliran papanya nih yang belum tidur. Adik kecilnya bukannya tidur tapi malah bangun." Seru Zainal semakin membuat mata Santi melotot lebar.
Santi mencubit kecil perut Zainal sampai dia mengaduh kesakitan. Santi heran kenapa suaminya sekarang jadi mesem seperti itu. Maunnya seperti pengantin baru terus, memang pengantin baru juga sih tapi bukan pengantin baru untuk yang pertama kalinya.
" Mas jangan mesum gitu dong. Ingat disini ada koko loh mas." Protes Santi sambil mendengus kesal.
" Koko juga sudah tidur, jadi sekarang waktunya buat adik untuk Koko. Dia seharian tanyak terus kapan adiknya jadi." Seru Zainal sambil terkekeh mengingat pertanyaan polos dari sang anak.
" Mas juga sih pakai janji mau kasih adik segala. Memangya sekali buat bisa langsung jadi gitu ?" Seru Santi menyalahkan suaminya.
" Kalau belum jadi ya kita buat terus sampai jadi dong. Kita sekarangkan sudah halal jadi kapan saja kita bisa buat. Tapi mulai lusa mas harus sudah berangkat ke kantor lagi , jadi mulai malami ini kita harus lembur terus." Ucap Zainal semakin tidak bisa mengerem ucapannya.
Santi dan Zainal akhirnya memutuskan untuk kembali kekamarnya untuk melakukan kewajiban mereka. Sejak kemarin Zainal memang tidak ada puasnya untuk terus meminta, seakan tidak ada rasa lelah dan capeknya sama sekali.
" Mas aku bersih - bersih dulu ya, mas tunggu saja diatas kasur" Ucap Santi.
" Iya jangan lama - lama ya istriku sayang. Nanti kalau kelamaan mas tertidur , gagal deh bikin adik untuk koko." Seru Zainal sambil terkekeh.
* Huuhhhh dasar otot besi, masak dari kemarin tidak ada caprknya. Bahkan hari ini saja sudah dua kali loh, biarin saja aku berlama-lama di kamar mandi. Biar dia tertidur saja sekalian.* Gumam Santi dalam hatinya.
**********