
.
.
.
💕 HAPPY RRADING 💕
Dua minggu setelah kepergian Rendra, keseharian Zainal dan Bagas sudah kembali normal. Zainal sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Sedangkan Bagas sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya yang saat ini sedang menyusun skripsi. Duka kepergian Rendra kini sudah berlalu, saat ini Rendra sudah tenang dialamnya sana.
[ Hallo, Assalamualaikum?.] Sapa Zainal lewat sambungan telepon.
Saat ini Zainal sedang makan siang dengan rekan kerjanya di Cafe yang ada diseberang kantor tempatnya bekerja. Zainal mendapat sambungan telepon dari rutan tempat ibu Ratri di penjara.
[ Dengan bapak Zainal ? Maaf pak kami ingin mengabari bapak jika saat ini ibu anda masuk rumah sakit. Dalam seminggu ini ibu anda sering melamun dan makan pun tidak mau. Bahkan sering tertawa dan mengobrol sendiri. Kami terpaksa membawa ibu anda kerumah sakit, namun pihak rumah sakit menyarankan membawa ibu anda kerumah sakit jiwa.]
Deg
Jantung Zainal sepeeti dihantam benda keras, kepergian Rendra menyisakan kesedihan yang mendalam bagi ibu Ratri. Bagaimana tidak, selama ini Rendra lah yang selalu mengikuti semua kemauan dan keinginan sang ibu meskipun bertentangan dengan hati dan pikirannya.
Zainal tidak pernah menyangka jika ibunya akan separah ini. Hukuman untuk ibu Ratri mengalir begitu saja, seolah ini menjadi karma untuk dirinya sendiri.
[ Iya pak, saya ikuti saja sesuai apa yang disarankan pihak rumah sakit dan kepolisian. ] Jawab Rendra dengan lemah.
[ Baiklah pak, tolong bapak datang kerumah sakit XX dimana saat ini ibu anda berada. Selama beliau di rumah sakit jiwa kami dari kepolisian akan tetap mengawasinya. Sampai beliau benar - benar dinyatakan gila. Maaf ]
[ Iya pak tidak apa - apa. Baiklah saya akan kesana sekarang juga.]
[ Baik pak kami tunggu.]
Klik
Sambungan telepon pun terputus, Zainal tidak menghabiskan makanannya. Dia ingin segera menemui ibunya dirumah sakit jiwa yang sudah pak polisi tadi beritahu.
" Aku duluan ya bro, tolong sampaikan kepada pak direktur jika aku ada keperluan. Jika waktunya memungkinkan aku akan kembali ke kantor, namun jika sudah kesorean aku tidak balik lagi." Seru Zainal menitipkan izinnya kepada kedua temannya.
" Iya Nal. Kamu pergilah , nanti kami akan sampaikan izin kamu kepada pak Direktur. Semoga ibu kamu segera sembuh, kamu yang sabar ya." Ucap salah satu teman Zainal.
" Thank broo. Aku duluan ya." Ucap Zainal bangkit dan meninggalkan meja tempat dia makan.
Zainal menuju parkiran cafe di mana saat ini mobilnya sedang terparkir, beruntung tadi Zainal memakai mobil sehingga tidak perlu kembali ke perusahaan terlebih dahulu. Zainal mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran parkiran cafe menuju rumah sakit yang sudah diberitahu oleh pak polisi tadi.
Setelah menempuh perjalanan hampir 50 menit, Zainal saat ini sudah sampai di rumah sakit jiwa. Dan dia langsung menuju tempat yang tadi sudah diinfokan oleh pak polisi. Sesampainya di sana, Zainal langsung menuju ke ruangan Ibu Ratri.
" Bagaimana keadaan ibu saya Pak?."Tanya Zainal kepada polisi yang saat ini tengah berjaga di depan kamar Ibu Ratri.
" Bapak bisa lihat sendiri keadaan ibu Ratri, beliau sudah dari tadi menangis lalu tertawa dan terdiam dengan sendirinya."Ucap pak polisi menjelaskan.
Zainal melihat ibunya dari balik pintu teralis besi yang yang terkunci, sehingga Ibu Ratri tidak bisa keluar di dalam sana. Dari luar Zainal melihat ibunya didalam sana sedang duduk termenung di atas tempat tidurnya sembari memeluk guling.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu saya Pak? Kenapa beliau sampai seperti ini? Apa mungkin karena kepergian adik saya waktu itu sehingga membuat mentalnya terganggu?."Tanya Rendra kepada polisi yang sedang berjaga.
" Pak Zainal bisa tanyakan langsung kepada dokter yang tadi menangani Ibu Ratri. Saya tidak tahu apa-apa soal ibu Ratri, kemungkinan besar menurut saya memang gejala awalnya dari meninggalnya adik bapak itu dan seminggu terakhir ini beliau semakin parah. Sehingga kami terpaksa membawanya ke rumah sakit rutan dan rumah sakit menyarankan untuk membawa beliau ke sini."Ucap polisi menjelaskan kepada Zainal.
" Baiklah Pak kalau begitu saya ingin menemui dokter terlebih dahulu. Mari pak saya permisi dulum."Seru Zainal perpamitan.
" Sihlakan Pak."Jawab Pak polisi singkat.
Rendra berjalan menuju ruangan dokter, setelah sampai ruangan dokter Zainal menanyakan apa saja yang membuat ibu nya seperti itu. Ternyats benar, ibunya sangat terpukul dan kehilangan Rendra sehingga membuat dia menjadi seperti ini. Selesai menemui dokter Zainal kembali kekamar ibunya, namun saat dia kembali kekamar ibunya, saat ini ibu Ratri sedang berteriak - teriak memanggil Rendra sambil membuang bantal, guling sehingga perawat susah mengendalikannya.
" Rendra... Rendra..!! Kamu dimana ? Ibu kangen Rendra, cepat kamu kembali." Teriak ibu Ratri.
" Ya Allah bu. Kenapa ibu jadi seperti ini? Rendra sudah tidak ada bu. Jangan seperti ini Bu Zainal mohon ibu harus menerima kenyataan jika Rendra sudah tidak ada, sudah dua minggu ini Rendra kembali kepada sang penciptanya,Bu." Ucap Zainal yang saat ini mendekap ibunya dengan erat.
Saat Zainal tadi kembali ke kamar ibunya, ternyata pintu terbuka. Sebab ada dua perawat yang datang yang mencoba menenangkan ibu Ratri. Sedangkan Pak polisi tetap berjaga di ruangan ibu Ratri. Zainal mendekati ibunya dan memeluk ibunya, dia berharap ibunya mengenalinya dan menyadari semua yang sudah terjadi.
" Kamu siapa ? Kamu bukan anakku Rendra ! Pergi kamu. Kamu bukan anakku, pergi kamu !."Teriak ibu Ratri meminta Zainal untuk pergi. Ibu Ratri tidak mengenali Rendra.
" Pak, maaf lebih baik bapak keluar saja daripada pasien terus memberontak seperti ini dan akan membahayakan pasien sendiri . Mohon kerjasamanya ya Pak ."Ucap salah satu perawat yang sedang menenangkan Ibu Ratri.
Zainal mengangguk lalu dia keluar dari kamar, dan dia memilih meninggalkan rumah sakit itu. Dia tidak kembali ke kantor, namun dia memilih untuk segera pulang saja dia ingin menenangkan pikirannya di rumah dan akan memberitahu Santi tentang keadaan ibunya.
Sementara saat ini di kediaman Anisa, Anisa merasakan sakit perut yang teramat sakit. Ibu Anisa meyakini jika saat ini Anisa akan melahirkan. Tetapi Anisa beranggapan jika ini hanya kontraksi palsu seperti biasanya, sebab hari perkiraan dia lahiran masih sekitar 2 minggu lagi.
" Kamu ini mau melahirkan Anisa, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit daripada terjadi sesuatu dengan bayi kamu." Seru Ibu Anisa dengan cemas.
" Tapi Bu, perkiraannya masih 2 minggu lagi Bu. Masa iya sekarang Anisa sudah mau melahirkan. Aduh bu sakit banget ini bu, perut Anisa sakit sekali bu."Seru Anisa sembari mengusap perutnya terus-menerus dan dia tetap beranggapan jika dia belum mau melahirkan.
" Yang namanya hari perkiraan lahir itu bisa maju dan bisa mundur Anisa. Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit daripada kamu kenapa- kenapa. Ibu yakin kamu ini mau melahirkan."Ucap Ibu Anisa lalu berlari memanggil sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
Sang sopir sudah menyiapkan mobil yang akan membawa Anisa ke rumah dakit. Anisa dibantu ibu dan Bik marni masuk ke mobil, sedangkan untuk bapak Anisa saat ini, mencoba menghubungi Riko memberitahu jika Anisa dibawa ke rumah sakit.
" Bagaimana Pak? Apa Riko sudah bapak kasih tahu?."Tanya ibu Anisa.
" Ini bapak sudah dua kali menelpon Riko l, tapi Riko tidak mengangkat teleponnya. Sudah bu, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit saja bu, nanti saat di perjalanan kita hubungi Riko. Siapa tahu Riko memang sedang meeting dan sibuk dengan pekerjaannya."Jawab Bapak Anisa dengan wajah cemas.
Pak sopir pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Anisa menuju rumah sakit terdekat. Di sepanjang perjalanan, Anisa merasakan sakit perut yang luar biasa dia baru menyadari jika melahirkan akan sesakit ini. Namun Anisa tetap menikmati rasa sakitnya, menikmati setiap proses kehamilan nya sampai melahirkan.
* Ya Allah ternyata nikmat sekali rasa wanita yang akan melahirkan. Berarti Ibu dulu juga merasakan seperti ini? Ya Allah, semoga bayiku tidak kenapa-kenapa. Aamiin."Gumam Anisa dalam batinnya.
" Aduh bu, sakit. Sakit banget ini bu." Seru Anisa merasakan semakin sakit.
" Sabar Nak, sabar. Kita sedang menuju rumah sakit." Seru ibunya Anisa sambil mengusap kening Anisa yang sudah berkeringat dengan hebat.
" Bu, maafkan Anisa ya bu jika perkataan dan perlakuan Anisa ada yang menyakiti ibu. Bu, ternyata melahirkan sakit seperti ini. Anisa menyesal bu dulu pernah bersikap tidak sopan sama ibu. " Seru Anisa mengingat saat dia SMA sempat membantah ibunya.
" Iya nak. Sudah jangan seperti ini lagi, ibu sudah memaafkanya. Sekarang kamu nikmati saat - saat kamu melahirkan." Seru ibu Ratri dengan lembut.
Mobil yang dikendarai pak sopir sudah sampai di rumah sakit. Dengan segera pak sopir memanggil perawat untuk membantu membawa Anisa masuk. Dengan segera dua perawat datang sembari membawa kursi roda dan segera membawa Anisa keruangan bersalin.
Bapak Anisa tetap mencoba menghubungi Riko, namun Riko masih saja belum menganggkat tekeponnya. Diliriknya jam yang ada di pergelangan tanggannya sudah menunjukan pukul 2 siang.
* Mungkin saja saat ini Riko sedang meeting sehingga ponselnya dia silent. Tapi bagaimana dengan Anisa, dia ingin melahirkan dan Riko harus mendampingi Anisa. Semoga saja segera membaca pesan yang tadi sudah aku kirim.* Gumam Bapak Anisa dalam batinnya.
*************