Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Hari bahagia Zainal


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Bagas besok kan hari pernikahan mas dan Santi. Mas takut jika ibu akan ikut dan mengacaukan semuanya." Ucap Zainal bicara dengan Bagas.


Malam ini Bagas ada dirumah Zainal, tadi selepas magrib dirumah Zainal mengadakan pengajian untuk acara besok pagi. Zainal hanya meminta doa agar acara besok berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Bagas masih tetap di rumah Zainal meskipun acara sudah selesai, sedangkan Rendra sedari tadi tidak kelihatan di rumah Zainal. Para bapak-bapak yang hadir dalam pengajian menanyakan kemana keberadaan Rendra, tetapi Bagas hanya menjawab jika Rendra merasa sedang tidak enak badan.


" Mas tenang saja, nanti Bagas yang akan mengurus ibu. " Jawab Bagas dengan yakin.


" Tapi kamu tidak akan menyakiti ibu kan Gas?. Mas nggak mau ya kalau ibu sampai kamu sakiti." Ucap Zainal tidak mau jika Bagas menyakiti ibunya.


" Tenang saja mas cuman agak sedikit kejam. Nanti Bagas akan memberikan minuman yang sudah Bagas kasih obat tidur. Tidak membahayakan, setidaknya Ibu bisa tertidur dan tidak bangun sebelum acara Mas selesai. Pokoknya mas tenang saja, Bagas jamin itu tidak akan kenapa-napa. " Ucap Bagas menyakinkan Zainal.


Zainal terlihat mengangguk patuh dengan ide yang di miliki oleh Bagas. Daripada ibu mertuanya mengacaukan lebih baik begitu saja,lagi pula Bagas juga yang bertindak. Jadi tidak perlu takut jika ibunya akan kenapa - kenapa,pasti juga Bagas sudah memperkirakan semuanya.


" Baiklah mas kalau begitu aku pulang ya. Untuk barang bawaan dan seserahan yang akan dibawa besok pagi sudah siap semua. Ada dikamar anak - anak, baiklah aku pulang agar besok tidak bangun kesiangan." Ucap Bagas lalu bangkit dan berjalan keluar dari rumah Zainal.


" Iya terimakasih ya Gas." Ucap Zainal.


Zainal kini sendirian, dia masih khawatir jika besok ibunya akan mengacaukan pernikahannya. Namun dia menyakinkan dirinya jika Bagas bisa untuk mengatasinya.


Zainal membaringkan tubuhnya di atas kasur, tanpa menunggu lama Zainal sudah terlelap dan mimpi indah.


Keesokan paginya, di rumah Zainal sudah ada beberapa tetangga yang akan ikut mengantar Zainal kerumah orang tua Santi. Zainal sudah siap dengan pakain nya yang senada dengan pakaian yang dikenakan Santi nanti.


" Rendra mana gas ?" Tanya Zainal sedikit berbisik.


" Dia ada dirumah, masih dikamar kayaknya mas. Kalau ibu dia belum bangun. " Seru Bagas sedikit tertawa jahat.


" Nadin apa tidak mau ikut juga?" Tanya Zainal .


Namun belum juga Bagas menjawab, Nadin keluar dari rumah dan berjalan kearah rumah Zainal. Penampilan Nadin juga sudah rapi, Bagas dan Zainal yakin jika Nadin akan ikut kerumah Santi.


" Maaf ya aku tidak bawa mobil. Mobil masih di bengkel , oh iya tumben ibu tidak kelihatan. Tapi memang sedari bangun tidur tadi aku tidak melihat ibu." Seru Nadin heran karena tidak melihat keberadaan ibu mertuanya yang super menyebalkan itu.


" Iya Nadin , kamu mau ikut saja aku sudah senang. Mana Rendra ? Tidak kamu ajak sekalian dia.? Ibu sepertinya memang tidak mau ikut jadi mungkin dia mengurung diri dikamar." Jawab Zainal berbohong.


Tidak mau mengatakan jika saat ini Ibunya masih tidur , efek obat tidur yang diberikan oleh Bagas.


" Oh begitu. Mas Rendra si anak yang hanya bisa berlindung dibawah ketek ibunya itu mana mau ikut jika ibunya tidak ikut. Aku juga sudah muak dengannya, dalam minggu ini aku juga akan menggugat dia cerai. Percuma hidup sama pria mandul dan tidak ada tanggung jawabnya sama sekali." Seru Nadin dengan kesal.


Zainal dan Bagas hanya saling melempar pandangan, alamat Rendra jadi duda. Mereka tidak mau ikut campur dengan rumah tangga Nadin dan Rendra, jika memang Nadin mau menceraikan Rendra itu haknya Nadin. Sebab Rendra juga sebagai seorang suami tidak ada tanggung jawabnya. Pekerjaan juga tidak punya, bahkan untuk sekedar kembeli rokok saja harus meminta kepada Nadin.


" Oh iya mana si Anisa ?" Tanya Nadin menanyakan keberadaan Anisa.


" Mbak Anisa langsung kerumah mbak Santi." Jawab Bagas masih saja terdengar ketus.


Nadin melirik kearah Bagas yang masih saja ketus saat bicara dengannya. Para tetangga yang mau ikut sudah berkumpul semua, hanya ada sekitar 20 orang saja dan Zainal menyewakan 4 mobil untuk membawa rombongannya.


" Apa ibu kamu tidak mau ikut , Zainal?" Tanya ibu aminah.


" Ibu sedang kurang enak badan Bu. Jadi Rendra juga tidak ikut karena sedang menunggu ibu yang sakit." Jawab Zainal berbohong.


" Ohh... Begitu. Sayang banget ya Ibu Ratri tidak ikut, padahal acara pernikahan anak kandungnya. " Ucap ibu Aminah terlihat menyayangkan jika ibu Ratri tidak ikut.


" Emm... Iya bu. Baiklah sekarang kita berangkat saja yuk sudah jam delapan juga ini. " Ucap Zainal lebih memilih segera mengajak rombongannya untuk segera berangkat.


Semua rombongan akhirnya berangkat. Jantung Zainal mulai dag dig dug, dia mulai gugup dan grogi. Meskipun ini pernikahannya yang kedua dengan wanita yang sama juga, tetap saja dia gugup. Bahkan saat diperjalanan tubuhnya sudah keluar keringat dingin.


" Iya Gas." Jawab Zainal singkat.


**********


" Sah "


Sahhhhhhhh


Kata Sah sudah menggema di ruang tamu rumah Santi, sebagai tanda jika saat ini antara Santi dan Zainal sudah selesai prosesi ijab qabul dan sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


" Alhamdulillah " Ucap pak penghulu diikuti oleh semua orang yang hadir.


* Alhamdulillah akhirnya aku dan Santi sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Semoga ini pernikahanku untuk yang terakhir kalinya.* Gumam Zainal dalam hatinya.


Ucapan selamat mengalir dari kerabat dan para tetangga yang ikut menghadiri pernikahan. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Zainal, yaitu ketidakadaan ibunya.


" Selamat ya mas, mbak. Semoga menjadi keluarga yang shakinah , mawaddah dan warrohmah. Dan segera mendapatkan adik untuk Koko. Koko sudah pengen adik tuh." Ucap Bagas sambil terkekeh.


" Apaan sih Gas. Malu didengar orang." Ucap Santi pelan.


" Bagas ya memang begitu mbak. Suka usil, kalau bukan anak baik saja pasti sudah aku getok dia dari dulu. " Seru Anisa yang tiba- tiba sudah ada disamping Bagas.


" Kalau para wanita sudah berkomentar aku sebagai pria bisa apa. Hahaa... Ya sudah aku mau makan saja, daripada disini aku pasti jadi bahan omelan kalian berdua." Seru Bagas lalu pergi menuju meja prasmanan.


Anisa memeluk Santi dengan erat, dia juga ikut senang akhirnya Santi dan Zainal bisa bersatu kembali. Hubungan baik antara Santi dan Zainal tidak luput dari campur tangan Anisa juga.


" Selamat ya mbak. Semoga selalu langgeng, buat mas Zainal jangan pernah khianati mbak Santi lagi. Aku orang pertama yang akan menghajarmu jika kamu menyakiti mbak Santi." Ucap Anisa sambil mengepalkan tanggannya dihadapan Zainal.


" Insya Allah aku tidak akan menyakiti Santi dan anak - anak. Anisa, terimakasih atas bantuan kamu. Kalau tidak ada kamu aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku sangat - sangat berterimakasih karena berkat kamu aku dan Santi bisa bersatu kembali. Dan aku berjanji akan membahagiakan Santi." Ucap Zainal dengan yakin.


" Sama - sama ya mas ,mbak." Ucap Anisa dengan lembut.


Riko tidak ketinggalan juga mengucapkan selamat untuk Zainal dan Santi. Riko justru meminta maaf atas kebarbaran sang istrinya tadi, yang akan menghahar Zainal jika menyakiti Santi.


* Zainal dan Santi sudah resmi menjadi suami istri. Lihat saja sekarang giliran ku untuk melanjutkan rencanaku. Tinggal selangkah lagi aku akan menyeret ibu mertuaku kedalam penjara. Aku pastikan besok adalah hari paling menyedihkan untuk ibu mertuaku itu.* Gumam Nadin sembari memandang kearah sepasang pengantin yang sedang berbahagia.


Sementara itu saat ini dirumahnya ibu Ratri sedang uring - uringan. Dia memarahi Rendra karena tidak membangunkannya, padahal dia sudah janji akan datang ke pernikahan Zainal. Dia akan datang bersama Nira, ibu Ratri akan memaksa Zainal tetap menikahi Nira juga dihari yang sama. Namun semua itu ternyata tidak terlaksana lantaran dia yang bangun kesiangan.


" Kamu ini apa bodoh si Ndra ? Kenapa kamu tidak membangunkan ibu.!" Sentak ibu Ratri dengan kesal.


" Mana Rendra tahu kalau ibu mau kesana juga. Lagipula tumben ibu tidur sampai sesiang ini baru bangun." Jawan Rendra dengan santainya.


" Nira, maafkan ibu ya. Gara - gara ibu yang bangun kesiangan kamu jadi batal menikah dengan Zainal. Tapi kamu jangan khawatir meskipun mereka sudah menikah. Ibu akan tetap mengusahakan supaya kamu juga menikah dengan Zainal. Bukannya jadi istri kedua kamu juga maukan?." Tanya ibu Ratri.


Nira melongos begitu saja, bagaimana dia bisa gagal menikah dengan Zainal. Padahal Nira sudah memberikan uang 5 juta untuk ibu Ratri, namun apa yang Nira terima? Saat Nira datang justru ibu Ratri sedang tidur dan sampai Nira harus menunggu 1 jam dia baru bangun.


" Aku minta pulangkan saja uang 5 juta ku yang sudah aku kasih sama ibu. Padahal aku berikan uang itu , aku berharap ibu bisa mengatur semua rencana dengan baik dan benar. Tetapi justru semuanya kacau." Sentak Nira dengan kesal.


" Ehh... Mana bisa ? Uang itukan sudah kamu berikan dan ibu tidak memintanya , kamu sendiri yang memberi kepada ibu. Kamu juga tahukan uang itu sudah ibu pakai beli baju tas dan sandal. Mana bisa dikembalikan lagi Nira." Seru ibu Ratri dengan mata yang melotot.


Nira terlihat kesal san frustasi, sudah keluar uang tapi hasil tidak ada. Bahkan benar - benac nihil , Nira bangkit dari tempatnya lalu mendekati ibu Ratri dan dia meminta ibu Ratri untuk mengantarnya ke rumah Santi. Nira ingin menyusul rombongan Zainal dan yang lainnya, tetapi pasti juga sudah terlambat. Acara ijab qabulnya pasti sudah selesai.


" Tapi apa kamu yakin mau kesana?." Tanya ibu Ratri.


" Yakin. Aku harus pura - pura baik agar aku bisa berteman dengan Zainal maupun istrinya itu, dengan begitu aku dengan mudah akan menggoda Zainal. Ibu juga nanti pura - pura baik dan merestui mereka agar usaha kita kali ini bisa berhasil." Ucap Nira tersenyum licik.


* Wahhh... Pintar juga si Nira ini. Dasar wanita berotak licil juga kamu, Nira .* Gumam ibu Ratri dalam batinnya.


*********