Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Benarkah itu Rendra


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sampai jam 6 sore Rendra belum juga diketemukan oleh Bagas maupun Zainal. Zainal tadi terpaksa pulang cepat untuk mencari keberadaan Rendra, namun sampai detik ini Rendra belum juga ditemukan. Bahkan nomor ponselnya juga sampai sore belum bisa dihubungi. Zainal dan Bagas sangat mengkhawatirkan keadaan Rendra, apalagi Rendra saat ini hanya bisa menggunakan kursi roda.


" Sebenarnya kemana si Rendra itu ? Bisanya cuma bikin orang khawatir dan susah saja. Hampir setiap tempat sudah kita datangi, seputaran rumah sakit juga kita datangi tapi belum juga ditemukan keberadaannya. Rendra itu hanya bisa menggunakan kursi roda pasti dia tidak bisa pergi jauh. Oh iya memangnya tadi kamu tinggal dia berapa lama saat kamu ke toilet?" Tanya Zainal menatap kearah Bagas.


" Sekitar 10 menit mas, tadi perutku sangat mulas jadi aku lama dikamar mandi." Ucap Bagas penuh sesal, seandainya tadi dia tidak ke toilet pasti Rendra tidak akan menghilang.


Zainal dan Bagas kini sudah berada dirumah mereka,mereka sudah sangat lelah berjam - jam mutar sana - sini mencari keberadaan Rendra. Mereka akan mandi dan makan terlebih dahulu, setelah magrib baru mereka akan mencari keberadaan Rendra lagi.


" Lebih baik kalian mandi terlebih dahulu, setelah itu sholat magrib dan makan. Jangan sampai gara - gara mencari keberadaan Rendra kalian malah menjadi sakit. " Ucap Santi mengingatkan.


" Iya mbak. Kalau begitu Bagas pulang mandi dulu, setelah sholat magrib nanti kita cari lagi mas Rendra. " Seru Bagas lalu bangkit dari duduknya.


" Iya, nanti makan malam disini saja Gas. Kamu tidak perlu beli makanan di luar." Seru Zainal mengingatkan Bagas.


Bagas mengangguk patuh dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Setelah Rendra pulang Zainalpun masuk kamar mandi, tubuhnya benar - benar lelah. Pekerjaanya di kantor menumpuk belum lagi ditambah masalah menghilangnya Rendra. Beruntung selama ini namanya di perusahaan itu baik, dan tidak pernah melakukan kesalahan sehingga saat tadi dia izin pulang cepat langsung diizinkan.


" Anak - anak cepat siap - siap kita mau sholat magrib. Cepat ambil wudhu dulu ya ." Seru Santi memanggil dan mengingatkan kedua anaknya.


" Iya ma " Jawab Kiki dan Koko serempak.


Kiki langsung mematikan televisi, lalu berjalan menuju kran yang ada didekat kamar mandi dapur untuk mengambil wudhu. Kiki dan Koko kini sudah bisa wudhu sendiri tanpa harus dipantau oleh Santi. Secara bergantian sepasang anak kembar itu mengambil wudhu.


" Mana anak - anak Sayang?" Tanya Zainal yang sudah menyusul Santi diruang sholat.


" Masih ambil wudhu mas" Jawab Santi sembari memakai mukenanya.


Tidak menunggu lama Kiki dan Koko sudah ada di ruang sholat. Kiki memakai mukenanya dan Koko memakai pecinya , setelah itu Zainal meminta Koko untuk segera Iqomah. Akhirnya keluarga kecil Zainal sholat magrib berjamaah dengan Zainal yang menjadi imamnya.


*********


Sementara itu saat berada di lampu merah Anisa seperti melihat keberadaan Rendra yang duduk dipinggir jalan sembari menundukkan wajahnya dengan plastik hitam yang terbuka ada dalam pangkuannya.


" Mas itu sepertinya Rendra deh." Seru Anisa sembari menunjuk kearah seberang jalan. Lajur sebelah Rendra duduk memang sedang berlalu lalang kendaraan.


" Ahhh masak iya Rendra, sepertinya bukan sayang. Ini sudah magrib bahkan malam loh mana mungkin Rendra disitu. Apalagi ini lumayan jauh dari rumah dia , kira - kira 2 jam dari rumahnya. Mungkin mata kamu yang masih mengantuk jadi salah lihat." Ucap Riko tidak percaya jika orang yang sedang duduk disebarang jalan itu adalah Rendra.


" Enak saja aku mengantuk, kita tadi sudah mampur masjid untuk sholat magrib juga loh mas, berarti tadi juga sudah wudhu kan? Jadi sudah pasti hilang mengantuknya. " Seru Anisa tidak tetima dibilang mengantuk oleh Riko.


Anisa masih saja penasaran dengan pria yang ada di seberang jalan sana. Anisa ingin sekali turun dari mobil untuk memastikan, namun dia khawatir jika Riko akan marah dan salah paham sebab Rendra mantan suaminya. Anisa harus bisa menjaga perasaan suaminya, dia tidak mau rasa kasihannya terhadap Rendra justru membuat suaminya cemburu.


Tin Tin Tin


Suara klakson dibelakangnya sudah tidak sabar lagi. Terus membunyikan klakson sebab lampu sudah hijau. Riko dengan segera melajukan mobilnya agar suara klakson tidak semakin bising.


Anisa hanya kasihan jika pria tadi adalah Rendra, kenapa malam - malam begini sampai ada di pinggir jalan dan dilampu merah. Hanya iba dan kasihan saja tidak ada rasa yang lainnya.


" Tidak mas. Mas benar tidak mungkin kalau yang tadi itu Rendra, mungkin aku salah lihat. Apalagi sudah malam dan lampunya juga redup." Jawab Anisa sembari mengulas senyum manisnya.


" Iya sayang. Oh iya kita mau mampir makan malam dulu apa langsung pulang?" Tanya Riko mengalihkan pembicaraan.


" Eemmm... Mampir beli sate kambing saja ya mas. Aku pengen makan sate kambing sama sopnya, kita mampir di tempat biasa kita beli sate kambing itu ya Mas." Jawab Anisa penuh semangat.


" Siap istriku tersayang, buat istriku apa sih yang tidak." Seru Riko sambil terkekeh.


Riko melajukan mobilnya menuju sate kambing yang mangkal di pinggir jalan. Biarpin berjualan di pinggir jalan satenya sangat enak dan laris. Yang beli sampai mengantri, lahan parkir juga luas. Sebab mereka menggunakan halaman ruko - ruko yang sudah tutup menjadi lahan parkir.


" Sudah sampai sayang. Mau turun sekarang apa nanti saat mas sudah parkir?." Tanya Riko dengan lembut.


" Ok, mas cari parkir saja dulu. Biar aku turun disini dan pesan satenya." Seru Anisa antusius.


Anisa memang sedari tadi ingin sekali makan sate dan sop kambing di pedagang sate langganannya. Setelah turun dari mobil Anisa langsung menuju gerobak sate dan memesan sate dua porsi dan sop dua porsi lengkap dengan lontong serta teh hangat nya.


" Sudah pesan sayang ?" Tanya Riko yang baru saja datang menghampiri Anisa.


" Sudah mas. Tapi sepertinya lumayan lama, soalnya mas bisa lihat sendirikan itu yang lebih dulu dari kita saja belum dibuatkan." Seru Anisa sambil menunjuk kearah meja yang lainnya.


" Iya sabar sayang. Kitakan datangnya juga belakangan jadi harus sabar dan budayakan antri." Seru Riko dengan pelan.


Anisa mengacungkan dua jempop tangannya tanda dia setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh suaminya.


Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya pesanan Anisa sudah terhidang di atas meja. Dengan lahab Anisa memakan sate kambing dengan lontongnya terlebih dahulu. Baru dia memakan sop dengan menambahkan sambal yang banyak.


Sementara saat ini Rendra yang ada di pinggir jalan hanya bisa diam sembari duduk dikursi Rodanya. Dia menjadi pengemis dilampu merah. Orang yang dilihat Anisa tadi memang benar Rendra, Rendra pergi dari keluarganya dan memilih menjadi pengemis di lampu merah.


" Baru sehari aku pergi dari rumah namun kini aku cuman bisa menjadi pengemis saja. Apakah keputusanku pergi dari rumah sudah tepat? Apakah dengan mengemis aku bisa memenuhi kebutuhanku, bahkan malam ini saja aku tidak tahu hendak tidur dimana." Ucap Rendra bermonolog pada dirinya sendiri.


Malam ini Rendra belum ada tempat untuk dia tidur, dengan kondisinya yang hanya bisa berjalan menggunakan kursi roda membuat dia sedikit kesusahan dan kerepotan mencari tempat untuk tidur.


" Aku tidak pernah menyangka dan tidak pernah membayangkan hidup seperti ini. Apalagi menjadi seorang pengemis, yang hidup hanya dengan menunggu belas kasihan seseorang dan mengharapkan uang receh dari mereka. Ya Allah kenapa hidupku sesusah ini dan seberat ini beban hidupku. Mas Zainal, Bagas maafkan aku, aku terpaksa pergi karena aku tidak mau terus-terusan menjadi beban hidup kalian." Ucap Rendra pada dirinya sendiri.


Rendra mencoba mengambil uang yang ada di dalam kantong plastik hitam dan menghitungnya. Uang yang didapat Rendra hari ini sebanyak 38 ribu saja. Uang itu akan Rendra pergunakan untuk membeli makan dan minumnya malam ini. Tekad Rendra sudah bulat, jika dia tidak mau lagi menyusahkan kedua saudaranya.


Kini Rendra menjauh dari lampu merah, dia mencari tempat untuk berteduhnya malam ini. Sebelum mencari tempat untuk berteduh, Rendra lebih dulu membeli makan dan minuman. Untuk malam ini Rendra hanya membeli nasi putih dengan lauk tempe dan sayur saja. Rendra harus menghemat pengeluarannya, sebab belum tentu besok dia akan mendapatkan uang.


" Mungkin aku bisa tidur disini saja ." Ucap Rendra.


Rendra tidur di lapak penjual sayuran, meskipun kecil sudah lebih cukup membuat dia bisa untuk beristirahat. Rendra sudah mulai bisa naik dan turun dari kursi roda tanpa bantuan , namun rasa sakit linu pada kakinya masih saja tidak bisa dia tahan. Saat dia menggerakan kakinya rasa sakit itu akan datang.


" Ya Allah sakit sekali kaki ku. Tapi kalau tidak seperti ini aku tidak akan bisa sembuh, aku harus terbiasa menggerakkan kakiku agar kakiku tidak kaku. Aku harus menahan rasa sakit ini. Lebih baik aku sekarang makan dulu." Ucap Rendra sembari dia duduk di balai-balai yang terbuat dari bambu.


Rendra menikmati makan malam sederhananya, nasi putih 2 tempe goreng dan tumis kangkung yang dia beli dengan harga 15 ribu sudah dengan air minerah 1 botol.


***********