Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Merasa aneh


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Anisa ditemani Riko periksa kandungan, dan kali ini Anisa juga bertemu dengan Nadin. Jadwal pemeriksaan mereka memang sama. Namun kali ini Anisa melihat Nadin periksa kandungan sendirian tanpa ditemani oleh suaminya, Rendra. Bahkan saat dia melihat Anisa pun Nadine hanya diam saja seolah-olah tidak mengenal Anisa.


Saat menunggu antrian tiba-tiba Riko ingin ke toilet dan meninggalkan Anisa di kursi tunggu bersama ibu-ibu yang lainnya. Saat Riko ke toilet Anisa mencoba mendekati Nadin dan menegurnya.


" Nadine tumben kamu sendirian?. Dari tadi juga kamu diam saja, seolah kita tidak saling kenal. Oh iya mana suami kamu, kok kamu tidak diantar suami mu. . " Tanya Anisa merasa heran dengan sikap Nadin.


" Biasa aja sih. Lagi pengen diem aja , emangnya salah ya kalau aku diam. Suamiku lagi sibuk ! " Jawab Nadin dengan ketus. Padahal dia sengaja tidak mau mengajak Rendra.


Mendengar jawaban Nadin yang ketus membuat Anisa kembali duduk di tempat duduknya semula. Dan menunggu Riko yang masih ke toilet. Padahal Anisa tadi hanya hanya ingin menyapa nanti saja namun jawaban Nadin sangat ketus sehingga membuat Ania malas apalagi akhir-akhir ini Anisa memang sering sekali marah tanpa sebab. Khawatir jika diteruskan dekat Nadin, Anisa bisa terbawa emosi. Horman kehamilannya suka berubah - ubah.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nama Nadin dipanggil. Nadin masuk ke ruang pemeriksaan sendirian, setelah Nadin masuk ruang pemeriksaan Riko yang dari toiletpun sudah datang dan duduk di samping Anisa.


" Itu tadi bukannya istrinya Rendra? Siapa namanya itu, Nadin kan ? Iya itu Nadine kan ? " Tanya Riko yang memang melihat Nadin sekilas saat Nadin masuk ke ruang pemeriksaan.


" Iya itu Nadin istrinya Rendra. Kenapa Mas ? tumben tanya-tanya Nadin ?." Tanya Anisa, merasa pertanyaan suaminya aneh.


Hhhuuufffff


Riko hanya menggeleng pelan. Dia tidak mau melanjutkan pertanyaannya, karena sudah melihat Anisa seperti tidak senang dengan pertanyaannya tadi. Apalagi memang Anisa beberapa hari ini sering marah-marah tidak jelas.


" Kok diem Mas ? Tidak jawab pertanyaan ku ?." Tanya Anisa lagi.


" Oh tidak apa - apa Sayang. Tumben saja dia sendirian, soalnya biasanya dia sama Rendra." Jawab Riko dengan hati - hati jangan sampai membuat ibu hamil yang ada di sampingnya marah.


" aku juga merasa aneh mas tumben Nadin sendirian dan dia tidak menyapaku. Justru tadi aku yang menyapa dia duluan, biasanya dia itu kan kalau melihatku sinis dan suka mengejekku. Ungat kan saat periksa kandungan bulan kemarin. Dia begitu bangga dengan kehamilannya." Ucap Anisa justru membahas soal Nadin yang membuat Riko kurang nyaman takut saja Riko salah bicara sehingga membuat Anisa marah.


Beruntung saja giliran nama Anisa yang dipanggil oleh asisten dokter kandungan . Nadin keluar dari ruangan dokter dan lalu masuklah Anisa ke ruangan dokter, mereka berpapasan tanpa mengulas senyum sedikitpun. Hal itu membuat Anisa semakin penasaran ada apa dengan Nadine yang sebenarnya.


* Tumben Nadine diam saja Sebenarnya ada apa ya kemana juga si Rendra? Bukannya kehamilan Nadin kemarin di bangga-banggakannya , tapi sekarang kok Nadin sendirian. Hhuus aku mikirin apa sih ? Kepo bener sama urusan orang." Gumam Anisa dalam hatinya.


Anisa sudah berbaring diatas ranjang tempat pemeriksaan. Dokter sudah mengoleskan Gel keatas perut Anisa lalu mengarahkan alat USG nya.


" Kandungannya sehat dan berkembang sesuai dengan usianya. Ini pasti sering dijenguki oleh Papanya ya ?" Tanya dokter berhasil membuat anisa malu. Tetapi berbeda dengan rendra justru dia merasa senang dan bangga, berarti dia papa yang sayang dengan anaknya karena sudah menjenguknya.


Dokter hanya tersenyum melihat wajah anisa yang memerah karena malu. Dokterpun selesai memeriksa Anisa dan meminta Anisa untuk turun dari ranjang. Riko membantu Ainsa turun dan duduk didepan meja kerja dokter.


" Kalau sering dijenguk tidak apa - apa kan dokter ?" Tanya Riko tanpa ada filter.


" Mas, apaan sih ? Malu tahu mas." Seru anisa sambil mencubit kecil paha Riko.


" Tidak apa - ibu Bu. Tidak perlu malu, memang ini sudah menjadi tugas saya sebagai dokter kandungan. Menjelaskan apa yang ditanyakan oleh pasien saya, yang lebih sensitif dari inipun tidak apa - apa. Untuk pak Riko , yang bapak tanyakan tadi tidak apa - apa jika mau menjenguk anak. Tapi jangan terlalu sering dulu karena ini kehamilan pertama dan masih 3 bulan. Minimal seminggu 3 kali , jangan di lembur tiap hari. Kasihan ibu Anisanya." Ucap dokter menjelaskan.


Riko nampak senang dengan penjelasan dokter, lalu dia melirik Annisa yang nampak malu-malu mendengarkan penjelasan dari dokter kandungan yang ada di depannya. Tidak mau semakin berlama-lama Anisa pun segera mengajak Riko untuk keluar dan dokterpun memberikan resep obat dan vitamin yang bisa ditebus di tempat penebusan obat yang ada di rumah sakit.


" Sayang kenapa buru-buru ? Mas kan masih ada yang mau ditanyakan lagi?." Tanya Riko .


" Tidak apa-apa Mas. Lagi pula kita sudah terlalu lama di ruangan dokter tadi. Kasihan ibu-ibu yang lagi mengantri. " Jawab Anisa beralasan. Padahal dia malas berlama-lama karena Riko yang pasti akan semakin bertanya yang aneh-aneh dan itu membuat dia malu dengan dokter.


" Oh iya juga ya Sayang. "Jawab Riko sambil menganggukkan kepalanya.


Riko dan Anisa mengambil obat di tempat penebusan obat. Beruntung tidak ramai sehingga mereka bisa selesai dengan cepat. Selesai dari rumah sakit Anisa dan Riko segera kembali keperusahaan, Riko terlebih dahulu mengantarkan Anisa keperusahaan Abimana.


*********


[ Setelah pulang kerja nanti temui aku di taman dekat cafe tempat aku bekerja. Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu mas. ] Tulis santi dan mengirimnya kepada Zainal.


Santi mengirim pesan saat dia sedang beristirahat makan siang. Dan ternyata Zainal membalas pesan itu dengan cepat.


[ Oke akn pasti akan datang kesana ] Balas Zainal.


[ Iya aku tunggu ]


[ Kamu sudah istirahat ya ? Jangan lupa makan siang dulu, kerja boleh tapi tetap ingat dengan kesehatan kamu. Kasihan anak - anak kalau kamu sakit.]


[ Terimakasih atas perhatiaannya. Aku mau lanjut kerja lagi.]


[ Oh iya silahkan ]


Santi memasukan ponselnya dalam kantong celananya , dan kembali melanjutkan makan siangnya.


* Jira-kira mas Zainul marah tidak ya aku memberitahu soal pesan singkat yang dikirim oleh ibunya. Dia mengira aku bohong atau tidak ya ? Takutnya dia mengira aku sudah ngedit itu atau merekayasa semua pesan itu. * Gumam Santi dalam batinnya.


Sedangkan ditempat lain , Zainal yang baru saja mendapat pesan dari santi senyum - senyum sendiri. Apalagi Santi mengajaknya untuk bertemu, tingkah Zainal itu membuay kedua temannya merasa penasaran ada apa dengan Zainal yang senyum - senyum sendiri.


" kesambet ke monal senyum-senyum sendiri?." Tanya Doni.


" Iya nih dari tadi main ponsel terus senyum-senyum sendiri, jangan-jangan kamu kesambeti. Tapi siang bolong begini mana ada setan yang menyambet kamu ?." Seru Bambang menambahi sambil tertawa kecil.


" Apaan sih kalian itu? Orang aku senyum-senyum karena aku sedang bahagia pakai dikatain kesambet segala, dasar temen gak ada akhlak. " Cibir Zainal dengan kesal.


Hahahahaaaa


Tawa Bambang dan Doni akhirnya pecah juga. Mereka berdua memang senang mengganggu Zainal. Apalagi akhir-akhir ini Zainal seperti orang yang sedang jatuh cinta sering senyum-senyum sendiri. Bambang dan Doni yakin jika hati Zainal saat ini memang sedang berbahagia.


Hhhhhuuuuffff.... Zainal terlihat menghela nafasnya dengan kasar, kedua temannya ini sepertinya memang sengaja menertawakannya.


" Kenapa sih ? Tadi ngatain aku kesambet, sekarang kalian justru menertawakanku. Sebenarnya yang kesambet ini aku atau kalian berdua ?. " Tanya Zainal sedikit kesal dengan kedua temannya itu.


" Idih dia marah Don . Beginilah orang kalau sedang jatuh cinta bawaannya sensitif terus. " Seru Bambang semakin menggoda Zainal.


" Betul kamu Bam, sepertinya Zainal sekarang sudah seperti emak-emak yang dikit-dikit marah, dikit-dikit sensitif. Awas nanti kita kena amuk. Emak - emak itu Ras rerkuat dilingkungan masyarakat." Ucap Doni semakin membuat Zainal kesal dengan kedua temannya.


Bugghhh... Bugghhh


Zainal kesal dan dia memukul kedua temannya menggunakan buku menu yang ada di atas meja. Sebab saat ini Zainal dan kedua temannya memang sedang makan siang di cafe seberang kantor dia bekerja.


" Kalian ini makin hari memang makin menyebalkan, enak saja aku disamain sama emak-emak. Aku ini lelaki tulen.!!" Protes Zainal kesal.


" Bercanda bro, gitu doang marah loh. Kalau marah memang jiwa emak - emak dong. Eh, sebenarnya ada apa sih kok kamu aku perhatiin sedari tadi senyum - senyum. Bahkan dari pagi loh kamu itu kelihatan sekali kalau sedang bahagia ? Soal mantan istrin kamu ?" Tanya Doni langsung menenak.


Akhirnya Zainal menganggukan kepalanya dan dia menceritakan perihal liburannya ke pantai. Kemarin Santi yang awalnya tidak mau ikut akhirnya mau ikut juga dan itu berarti pertanda Santi sudah mulai membuka hatinya lagi untuk Zainal. Zainal pun memberitahu jika tadi Santi baru saja mengirimkan pesan dan meminta bertemu di saat pulang kerja nanti.


" Bagus dong, berarti mantan istrimu itu sudah mulai bisa menerima kehadiranmu. Tetapi kamu jangan langsung mekaksakan kehendak kamu. Biarkan semuanya perproses secara perlahan. " Ucap Doni memberikan nasehat.


" Yang dikatakan Doni benar itu Nal, kamu jangan terlalu memaksa Santi terlebih dahulu. Biarkan dia menentukan pilihannya terlebih dahulu. Bersyukur Santi sudah mau bicara baik sama kamu, sudah mau bertemu sama kamu. Buat dia senyuman mungkin sehingga dia bisa menyakinkan dirinya untuk mau rujuk dengan kamu." Ucap Bambang juga menasehati Zainal.


Zainal sangat bersyukur mempunyai teman sebaik Doni dan Bambang , teman yang ada di saat Zainal senang maupun susah. Teman yang selalu memberikan nasehat positif untuk Zainal. Bukan seperti teman nongkrongnya yang selalu meminta Zainal untuk mentraktirnya.


**********