
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hari ini Anisa memeriksakan kandungannya dan ditemani juga oleh Riko. Dari hasil USG sudah diketahui jika anak mereka nanti seorang laki - laki. Saat ini Anisa sudah selesai nemeriksakan kandungannya dan alhamdulillah bayi dalam kandungan sehat. Saat hendak keluar dari rumah sakit Anisa dan Riko bertemu dengan Bagas.
" Loh Baga! Kamu ngapain disini?." Tanya Anisa saat berpapasan dengan Anisa. Sepertinya Anisa lupa jika Rendra sakit dan dirawat dirumah sakit yang sama dengan tempatnya periksa kandungan.
Bagas juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Anisa dirumah sakit. Bagas langsung menyalami Anisa dan Riko bersamaan.
" Habis periksa kandungan ya mbak ? Emmm ini aku mau keruangan mas Rendra, tadi aku tinggal ke kampus sebab ada keperluan sedikit."Jawab Bagas dengan ramah.
Anisa baru teringat jika Rendra juga dirawat dirumah sakit. Dia ingin sekali menjenguk Rendra tetapi tidak enak dengan suaminya.
" Rendra sakit? Sakit apa?."Tanya Riko antusius.
" Macem-macem kak." Jawab Bagas terlihat lemas.
" Sayang mumpung kita dirumah sakit bagaimana kalau kita menjenguk Rendra sekalian. " Seru Riko mengajak Anisa untuk nenjenguk Rendra.
" Iya mas." Jawab Anisa sembari menganggukkan kepalanya.
Riko, Anisa mengikuti langkah Bagas menuju ruang perawatan Rendra. Kali ini ada Anisa merasakan sedikit keanaehan pada dirinya. Dia merasakan ada yang tidak enak dengan perasaanya dan ada yang mengganjal pada dirinya, namun dia tidak tahu apa yang saat ini dia rasakan. Mereka sudah sampai didepan ruang perawatan Rendra, dengan jantung yang berdebar Anisa masuk keruang perawatan Rendra.
" Astaghfirullah Mas Rendra ini sakit apa Gas?." Seru Anisa saat sudah berada diruang rawat Rendra.
Anisa kaget dan syok saat mendapati Rendra terbaring lemah dengan selang oksigen juga menjadi alat bantu pernafasannya dan ada beberapa selang yang lainnya juga terpasang.
"Mas Rendra sakit paru - paru dan kanker otak mbak. Ini sudah hampir dua minggu dia terbaring dirumah sakit seperti ini dan tidak sadarkan diri, namun sudah 3 hari ini dia bisa membuka matanya dan merespon apa saja yang kita ucapkan. Bicarapun pelan sekali mbak, aku dan mas Zainal sebenarnya sudah pasrah mbak. Mbak, Kak Riko aku mewakili mas Rendra ingin meminta maaf kepada kalian. Tolong maafkan mas Rendra, mungkin dengan maaf dari orang - orang yang pernah dia sakiti, itu akan membuat rasa sakitnya berkurang." Seru Bagas dengan suara bergetar menahan tangis.
" Bagas, aku dan mas Riko sudah memaafkan mas Rendra. Insya Allah kami sudah memaafkan dan melupakan segala kesalahan mas Rendra dimasalalu. " Seru Anisa menyakinkan Bagas.
Tidak dapat dipungkiri jika saat ini Anisa sangat kasihan dengan apa yang terjadi dengan Rendra. Kesalahannya dimasalalu sudah dia maafkan semuanya, tidak ada lagi rasa dendam dan amarah yang tersimpan dalam hatinya. Anisa ikhlas memaafkan semua kesalahan dan rasa sakit hatinya yang dulu diperbuat oleh Rendra.
Riko mengusap pundak istrinya, dia tahu saat ini pasti istrinya sedih dan kasihan melihat kondisi Rendra. Jangankan Anisa, Riko saja yang melihat kondisi Rendra sangat - sangat kasihan.
" Mas Rendra." Seru Bagas saat Rendra membuka matanya.
Rendra membuka matanya dengan perlahan, saat melihat kehadiran Anisa, Rendra mengulas senyum tipisnya. Riko dan Anisa mencoba mendekati Rendra, namun Rendra tidak bisa di ajak berkomunikasi. Dia hanya merespon ucapan dengan matanya. Suaranya sangat pelan dan tidak terdengar oleh lawan bicaranya.
" Mas, aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Bukannya waktu itu juga aku sudah mengatakan jika aku sudah memaafkan segala kesalahan masalalu kita." Seru Anisa dengan lembut.
Rendra hanya merespon dengan mengedipkan matanya saja. Buliran bening mengalir dari pelupuk mata Rendra, mereka bertiga jika saat ini Rendra sangat bersedih dan menyesali semua kesalahan dimasalalu nya. Bagas membantu mengusap air mata Rendra, tanpa terasa buliran bening juga mengalir dari pelupuk mata Bagas.
Riko mengusap punggung Bagas, dia bisa merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh Bagas.
" Sabar Gas, kamu jangan bersedih seperti ini. Serahkan semuanya sama Allah." Ucap Riko sembari mengusap punggung Bagas.
" Terimakasih Kak. Kami sudah ikhlas dan akan menerima segala kemungkinan yang akan terjadi. Bukan kami mau menyalahi takdir atau mendahului takdir, jika memang Tuhan sudah berkehendak kami ikhlas lillahitaala kak." Seru Bagas dengan air matanya.
Riko membawa Bagas ke dalam pelukannya, Riko tahu saat ini Bagas sedang terpukul dan bersedih dengan apa yang saat ini terjadi dengan Rendra. Namun Riko tahu jika Bagas adalah anak yang kuat, seoalah dia di dewasa oleh keadaan. Ibunya di penjara, kakaknya terbaring lemah dirumah sakit , beruntung masih ada Zainal.
Ibu Ratri menaiki mobil polisi, sedangkan Zainal mengendarai mobilnya sendiri dan diikuti oleh mobil polisi dari belakang. Perasaan ibu Ratri sudah harap - harap cemas, sepertinya dia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya.
* Semoga saja setelah ini Rendra bisa sembuh sehingga aku bisa tenang berada dipenjara untuk menjalani hukumanku.* Gumam ibu Ratri dalam batinnya.
Mobil yang membawa ibu Ratri terus mengikuti mobil Rendra dari belakang. Bagi ibu Ratri perjalanan ini terasa lebih lama dari biasanya. Jantungnya terus berdebar-debar seperti ada sesuatu yang terjadi. Setelah 1 jam perjalanan mobil yang dinaiki ibu Ratri sudah sampai di halaman rumah sakit. Dengan segera ibu Ratri turun dan digandeng oleh polisi wanita.
" Ruangannya dimna,Nal?." Tanya ibu Ratri dengan antusius dan tidak sabar bertemu dengan Rendra.
" Ikuti Zainal saja ya bu. Mari pak polisi dan ibu polisi ikuti saya." Seru Zainal dengan ramah dan hormat.
Kedua polisi itu hanya mengangguk serentak, Zainal melangkah masuk kerumah sakit menuju ruang perawatan Rendra. Ibu Ratri menguatkan hatinya untuk melihat keadaan Rendra. Kini langkah kaki mereka sudah berhenti di depan ruangan Rendra, sebelumnya Zainal memang sudah meminta izin dari rumah sakit untuk membawa ibunya menemui Rendra dengan pengawalan 2 atau 3 polisi.
Sebenarnya Rendra tidak boleh sering dijenguk dan tidak boleh banyak orang, dan tidak boleh lebih dari 3 orang.
" Ini kamat rawat Rendra, Nal?." Tanya ibu Ratri dengan mata berkaca-kaca.
Belum juga bertemu dengan Rendra dia sudah ingin menangis. Perasaan seorang ibu tidak pernah salah, saat ini ibu merasakan Rendra akan benar - benar pergi menjauh dari hidupnya.
" Iya bu. Mari masuk, didalam juga ada Bagas kok. Zainal sudah izin dengan dokter yang menangani Rendra jika akan membawa ibu dan polisi. Alhamdulillah mereka mengizinkan." Seru Zainal menjelaskan dan dua polisi itu juga menganggukkan kepalanya.
" Ayok Nal masuk, ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rendra." Ucap ibu Ratri dengan senang.
Rendra, Ibu Ratri beserta dua polisi itupun semua masuk kedalam kamar rawat Rendra. Saat mereka masuk ternyata didalam masih ada Anisa dan Riko. Ibu Ratri kaget melihat keberadaan Anisa, air matanya semakin tidak bisa ditahan saat melihat Anisa. Dia teringat hinaan dan kesalahannya yang sudah dia perbuat dengan Anisa.
" Anisa " Seru ibu Ratri dengan suara serak menahan tangis.
" Ibu." Seru Anisa pelan.
Ibu Ratri dibimbing oleh polisi mendekati ranjang Rendra, dimana Anisa saat ini juga berdiri disamping Rendra.
" Rendra." Seru ibu Ratri setelah melihat Rendra terbaring lemah di atas brankar.
Ibu Ratri menangis terisak melihat keadaan Rendra yang benar - benar memprihatinkan. Rendra hanya bisa meneteskan air matanya melihat ibunya datang menjenguknya.
" Mas Rendra hanya bisa merespon dengan matanya saja bu. Bisa menggerakkan bibirnya tapi tidak tahu apa yang dia bicarakan." Seru Bagas memberitahu Ibu Ratri.
" Rendra, maafkan ibu nak. Maafkan ibu, kamu seperti ini juga karena ibu. Tamparlah ibu nak, cacimakilah ibu. Ibu memang pantas mendapatkan semuanya, jika bisa digantikan saat ini ibu mau menggantikan semua rasa sakit kamu Nak. Maafkan ibu." Seru ibu Ratri terus meminta maaf kepada Rendra.
Rendra hanya bisa merespon dengan matanya saja air mata rinra juga sudah jatuh membasahi pipinya bukan hanya Rendra dan ibu Ratri saja yang menangis Anisa pun ikut menangis melihat pemandangan yang saat ini ada di depannya Baru kali ini Anisa melihat mantan Ibu mertuanya menangis dan mengakui semua kesalahannya.
" Bu mas Rendra pasti sudah memaafkan ibu, yang terpenting saat ini Ibu mengikhlaskan mas Rendra kapanpun Allah akan menjemputnya. Bukan Bagas mau mendahului takdir bu, sepertinya harapan mas Rendra untuk kembali sembuh seperti semula itu sangatlah tipis. Bu bukan Bagas tidak mau mas Rendra sembuh, tetapi semua kembali lagi kepada Allah. Bagas dan mas Zainal sudah ikhlas jika Allah memanggil mas Rendra. Mungkin memang itu jalan terbaik untuk Mas Rendra." Ucap Bagas bicara dengan derai air mata.
Mendengar penuturan Bagas, membuat Ibu Ratri semakin terisak dalam tangisnya. Dia juga bisa melihat jika Rendra benar-benar sudah tidak berdaya bahkan segala macam alat medis pun sudah terpasang di tubuhnya. Dengan penuh keikhlasan Ibu Ratri harus mengiklaskan Rendra.
" Sebenarnya ibu lah yang lebih pantas mendapatkan semua ini Rendra, ibu lah yang seharusnya terbaring di atas ini bukan kamu. Karena ibu lah yang salah atas semua kejadian yang ada pada hidup kamu, seharusnya ibu yang disini. Tetapi jika ini memang sudah kehendak dari Allah, Ibu tidak bisa apa-apa selain mengikhlaskan semuanya. Jika kamu mau memakai Ibu, makilah. Ibu ikhlas dan ridho nak. " Seru ibu Ratri masih dengan isak tangisnya.
Melihat ibu Ratri yang semakin terisak, membuat Anisa mendekati mantan Ibu mertuanya lalu memeluknya. Secara spontan, Ibu Ratri juga membalas pelukan dari Anisa, dan dia juga menangis dalam pelukan Anisa. Anisa membiarkan mantan Ibu mertuanya menangis dipelukannya. Mungkin dengan begitu, hati ibu Ratri akan sedikit lega.
* Ya Allah baru kali ini aku bisa memeluk dan dipeluk oleh beliau. Namun kali ini dengan kondisi yang berbeda, melihatnya menangis seperti ini membuat hatiku juga ikut menangis. * Gumam Anisa dalam batinnya.
************