Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Bertemu juga


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sudah 4 jam Zainal dan Bagas mengitari tempat yang pernah diceritakan oleh Anisa. Setiap sudut jalan yang ada lampu merahnya sudah mereka periksa semua, namun sampai jam 9 malam Zainal dan Bagas belum juga menemukan keberadaan Rendra. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan akan mencari Rendra keesokan harinya lagi.


Saat sedang melintasi jalanan, Zainal melihat ada gerobak pedagang roti bakar. Zainal teringat kedua anaknya, sehingga dia pun turun dari mobil dan membelikan roti bakar untuk oleh-oleh anaknya.


" Kamu mau Gas?". Tanya Zainal menawari Bagas roti bakar.


" Tidak mas, aku masih kenyang sekali. Nanti tidak ada yang makan kalau mas beli untukku. Sudah belikan saja untuk kedua keponakanku. Aku tunggu dimobil saja ." Jawab Bagas menolak secara halus.


Zainal memesan dua roti bakar selai coklat dan selai strawberry sesuai dengan apa yang disukai oleh anak-anaknya. Saat sedang menunggu pesanannya dibuatkan, Zainal duduk di kursi plastik yang sudah disediakan oleh pedagang roti bakar. Sayup-sayup dia mendengar seseorang sedang menceritakan seorang pengemis yang saat ini sedang sakit.


" Kasihan sekali sudah 2 hari ini pengemis itu sakit dan tidak ada yang merawatnya. Hanya beberapa warga saja yang mencoba menolongnya. Tadi siang saat mau saya antar ke pusekemas dia tidak mau, dan saya coba tanyakan keluarganya katanya dia sudah tidak punya keluarga lagi. " Ucap bapak A.


" Jadi dia itu hidup sebatang kara ? Kasihan sekali hidupnya, mana jalan juga susah. " Seru bapak B.


Zainal tercekat saat mendengar pengemis itu susah berjalan. Fikirannya berkelana tertuju ke Rendra sang adiknya yang saat ini juga diperkirakan menjadi seorang pengemis.


Mendengar kedua bapak - bapak itu menceritakan seorang pengimis, membuat Zainal ikut mendekat dan menanyakan soal pengemis yang mereka bicarakan. Zainal menyakini jika pengemis itu adalah Rendra, adiknya yang sudah dua bulan ini menghilang.


" Maaf pak, apa saya boleh tahu pengemis yang bapak maksud tadi?". Tanya Zainal dengan sopan.


" Memangnya mas ini siapa ya? Apa hubungannya dengan pengemis?." Tanya bapak A kepada Zainal.


" Maaf pak perkenalkan nama saya Zainal. Saya sedang mencari keberadaan adik saya yang sudah 2 bulan ini menghilang. Dan dia juga waktu menghilang masih duduk dikursi roda atau dia tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Info terakhir ada yang melihat dia di lampu merah ujung jalan sana." Ucap Zainal mencoba menceritakan apa yang terjadi.


Kedua bapak itu saling menganggukkan kepalanya pertanda memahami apa yang sudah diceritakan oleh Zainal. Mereka pun bersedia memberitahu alamat pengemis yang tadi dia ceritakan, masalah itu adiknya Zainal atau bukan yang penting mereka sudah memberitahukan alamatnya.


" Tapi sepertinya orang itu tidak ada di tempatnya mas. Jam segini biasanya dia mangkal di lampu merah dia memang sengaja keluarnya malam-malam begini. Mungkin waktu siang dan sampai sore dia pergunakan untuk istirahat." Ucap bapak A memberitahu Zainal.


" Siapa nama pengemis yang Bapak maksud itu? Kalau adik saya bernama Rendra." Tanya Zainal ingin lebih memastikan lagi.


" Wah kalau soal itu saya kurang paham mas, kami di sini hanya memanggilnya dengan panggilan mas pincang. Itu juga karena dia sendiri yang memintanya. Sebab dia memang pincang atau berjalan harus menggunakan alat bantu. Tapi saat ini dia menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan tidak memakai kursi roda seperti yang mas maksud." Seru bapak A kembali menjelaskan.


Terlalu lama menunggu di mobil, membuat Bagas akhirnya turun dan menghampiri Zainal. Dilihatnya pesanan Zainal sudah selesai dan bahkan sudah ada di tangan Zainal tetapi kenapa Zainal belum juga masuk ke mobil.


" Belum selesai ya Mas?." Tanya Bagas menghampiri Zainal.


" Sudah ini Gas. Maaf ini mas lagi bicara sama mereka. Mereka membicarakan seorang pengemis yang sakit dan pincang. Mas khawatir itu Rendra, sepertinya kita harus mencarinya sekarang juga Gas." Seru Zainal memberitahu Bagas.


Bagas pun ikut duduk bergabung dengan Zainal dia ingin mendengar semua cerita dari kedua bapak itu dengan lebih jelas lagi. Kedua bapak itu menceritakan keadaan pengemis yang dia maksud. Hati Bagas dan Zainal sangat teriris saat bapak itu menceritakan keadaan pengemis yang memprihatinkan itu.


" Tapi saya tidak tahu itu saudara kalian atau bukan, tapi coba saja kalian datangi kontrakannya. Kalau jam segini biasanya memang dia tidak ada. Dia sedang mengemis sembari mengumpulkan botol bekas. " Ucap Bapak B.


Bagas mengambil ponsel di kantong celananya lalu membuk galeri di ponselnya. Dia baru ingat jika dia menyimpan foto Rendra di galeri ponselnya. Segera Bagas menunjukan foto itu kepada kedua bapak yang ada dihadapannya.


" Apa ini orangnya pak?" Tanya Bagas sembari menunjukan foto Rendra.


" Haahh... Iya mas benar ini orang nya. Tapi ini ganteng dan putih sekali. Sekarang kulitnya gelap dan lebih kurus dengan rambut lebih panjang." Ucap bapak A tadi dengan antusius.


Hanya butuh waktu 5 menit saja mereka sudah menemukan kontrakan Rendra. Mereka terpaksa berjalan kaki sebab mobil tidak bisa masuk, hanya bisa dilalui kendaraan 1 motor saja.


" Mas, kontrakannya kosong. Lihat mas kontrakan ini sama sekali tidak layak dijadikan tempat tinggal. Jadi selama ini mas Rendra tinggal di gubuk ini." Seru Bagas tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Sekarang lebih baik kita segera cari Rendra di jalanan. Jika tidak ketemu juga, besok kita kembali lagi ke sini dan langsung datangi kontrakan ini. Pasti besok saat kita kesini dia masih ada di rumah ini, sebab kata kedua bapak tadi Rendra itu keluar di malam hari dan akan di rumah kontrakannya dari pagi sampai sore hari."Ucap Zainal segera mengajak Bagas untuk mencari Rendra di jalanan.


" Baik mas, sekarang kita cari mas Rendra di jalan siapa tahu nanti bisa ketemu."Ujar Bagas setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zainal.


Zainal dan Bagas kembali menyusuri gang sempit yang tadi sudah sempat dia lewati. Mobil mereka terpaksa diparkirkan di pinggir jalan, setelah sampai di mobil, Zainal bergantian mengambil alih kemudi. Dia melajukan mobilnya dengan pelan sembari memperhatikan sekitarnya siapa tahu ada Rendra di sana.


Sudah satu jam lebih Zainal dan Bagas memutari jalanan, namun Rendra belum juga ditemukan. Sepertinya mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan akan datang lagi besok dan langsung menuju kontrakan Rendra.


Namun tiba-tiba saat melewati lampu merah yang terlihat masih ramai pengendara. Bagas melihat seorang pria sedang memegang kantong plastik besar berdiri tidak jauh dari lampu merah sembari menggunakan tongkat yang diapit di pangkal lengannya.


" Mas lihat itu sepertinya mas Rendra. Cepat tepikan mobil kita Mas ."Seru Bagas dengan antusias sembari menunjuk kearah seberang jalan.


" Tidak bisa Gas, ini di lampu merah lebih baik kamu turun dan coba temui orang itu. Siapa tahu dia itu memang Rendra. Sepertinya memang Rendra, nanti mas akan mencari jalan untuk putar arah." Seru Zainal dengan cepat.


Tanpa pikir panjang Bagas pun turun dari mobil dan langsung berlari menuju orang yang dia maksud sebagai Rendra. Betapa terkejutnya Bagas melihat orang yang saat ini berdiri di hadapannya ternyata benar Rendra. Namun Rendra tidak menyadari keberadaan Bagas, sebab dia masih fokus menghadap ke arah mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang dihadapannya.


" Terimakasih, terimakasih " Saat ada orang yang memberikan uang selembar sepuluh ribuan.


Hati Bagas semakin teriris dan iba dengan kehidupan keras yang dijalan oleh Rendra.


" Mas Rendra." Seru Bagas memanggil Rendra.


Deg


Hantung Rendra seakan berhenti berdetak saat dia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Terlebih suara itu sangat Rendra kenali. Dengan segera Rendra mencari sumber suara dan memalingkan wajahnya ke samping. Ternyats dia tidak salah mengenali suara adiknya, Bagas sudah berdiri disampingnya dan hanya berjarak sekitar dua meter saja.


" Bagas " Lirih Rendra dengan sangat pelan.


Melihat keberadaan Bagas yang sudah berada di dekatnya membuat Rendra shock dan kaget, sehingga dia menjatuhkan kantong plastik yang sedari tadi dia pegang. Rendra pun mencoba untuk menghindari Bagas. Namun jalanan cukup padat dan keadaannya yang tidak memungkinkan untuk berjalan cepat, sehingga Bagas dengan mudah menangkap Rendra.


" Mas Rendra tunggu ! jangan pergi !."Seru Bagas sembari mencengkal lengan Rendra.


" Lepaskan mas Gas. Mas mau pergi mas tidak mau merepotkan kamu dan Mas Zainal terus menerus.Tolong lepaskan dan biarkan mas pergi." Seru Rendra meminta Bagas untuk melepaskan lengannya.


" Tidak !! Aku tidak akan pernah lepaskan. Sekarang lebih baik mas ikut aku pulang karena aku dan mas Zainal selama 2 bulan ini mencari keberadaanmu mas. Sampai kami melaporkan ke polisi namun sampai detik ini belum ada kabar dari polisi. Selama 2 bulan ini kami mencari keberadaanmu mas, bahkan mas Zainal sering pulang cepat dari kantor karena dia mencari ingin keberadaanmu. Bahkan aku sering tidak kuliah karena mencarimu ! Jika kamu peduli dengan kami, tolong dengarkan kata-kata kami. Ikut pulang dengan kami sekarang. Kita tunggu di sini Mas Zainal sedang putar balik mobilnya. Pokoknya aku tidak mau tahu mas Rendra harus ikut kami pulang." Ucap Bagas terpaksa bicara tegas agar Rendra bisa ikut dengannya untuk pulang.


Rendra menangis tergugu, ternyata selama 2 bulan kepergiannya ini, kakak dan adiknya mencari keberadaannya. Bahkan bagas sampai meninggalkan kuliahnya. Selama ini dia sudah berpikir secara egois, jika dia pergi pasti Zainal dan Bagas akan bahagia. Tidak merasa terbebani, tetapi semuanya salah justru menghilangnya dia membuat Bagas dan Zainal kerepotan mencarinya.


" Mas tidak mau merepotkan kalian Gas." Seru Rendra lagi mencoba menolak pulang.


" Kamu kira dengan kamu pergi seperti ini tidak tambah merepotkan ? Haahh.. !! Jangan egois kamu mas.!" Bentak Bagas dengan kesal.


Tidak tahu lagi bagaiman caranya agar Rendra bisa menyadari kekeliruannya. Dengan dia pergi dari rumah tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan semakin menambah masalah.


Mobil yang dikendarai Zainal kini sudah ada di hadapan Rendra dan Bagas. Dengan segera Bagas menarik Rendra untuk masuk kemobil, meskipun sudah malam jalanan masih cukup ramai sehingga Zainal tidak bisa menghentikan mobilnya terlalu lama.


*************