Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Keadaan Rendra


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Rendra masih merenungi hidupnya, namun kali ini Rendra datang kesalah satu club malam untuk meluapkan semua kekesalannya dengan minuman keras. Rendra sekarang sudah tidak punya apa - apa lagi, istri tidak punya, pekerjaan tidak punya dan rumahpun tidak punya. Dia menumpang dirumah Bagas, rumah yang saat ini ditempati Rendra itu sudah atas nama Bagas. Rendra sudah tidak punya apa-apa lagi, harta warisan bagian nya juga sudah terjual semua.


Setelah cukup puas berada di klub malam, Rendra pun akhirnya pulang. Uang yang ada di rekeningnya secara perlahan pun habis. Bahkan malam ini dia hampir menghabiskan 1 juta untuk meminum, minuman haram yang harganya cukup mahal.


Dalam keadaan setengah mabuk, Rendra pulang dengan mengendarai motornya sendiri. Dia memang datang ke klub malam sendirian tanpa mengajak teman-temannya. Saat di tengah perjalanan tiba-tiba perut Rendra terasa mual dan Rendra pun menghentikan motornya untuk memuntahkan isi perutnya.


Hoooeeekk Hooeeekk


Rendra muntah di pinggir jalan, bahkan keadaan jalan pun sudah mulai sepi karena saat ini sudah jam 1 malam. Badan Rendra sempoyongan ,lalu dia kembali menghidupkan mesin motornya. Namun baru beberapa meter dia melanjutkan perjalanan, Rendra kembali memuntahkan isi perutnya.


" Aahhh sial kenapa pakai muntah segala. Aku benci hidup ini, aku benci dengan ibuku. Aku benci ibu ku, karena ibuku sudah menghancurkan hidup dan kebahagiaanku. Hikks.. Hikksss... " Rendra menangis dipinggir jalan.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis dan menyesali semua perbuatannya. Seandainya waktu bisa diulang kembali, pastinya Rendra akan memperbaiki dirinya dan akan bersikap tegas kepada ibunya. Namun semua itu tidak mungkin terjadi lagi. Rendra masih tergugu di pinggir jalan sembari menundukkan kepalanya.


Setelah dirasa cukup dia menangis dan memuntahkan isi dalam perutnya. Rendra bangkit dan kembali menghampiri motornya, Rendra kembali menghidupkan mesin motornya dan melanjutkan perjalanan. Dia mengendarai motornya dalam keadaan setengah mabuk, namun Rendra masih sanggup mengendarainya meskipun tidak seimbang.


Karena badannya yang memang tidak stabil, membuat Rendra mengendarai motornya dengan tidak seimbang bahkan sesekali dia hampir saja terjatuh. Sepertinya nasib baik sedang tidak berpihak kepada Rendra. Dengan mengendarai motor dalam keadaan setengah mabuk, mengakibatkan Rendra mengalami kecelakaan.


Brraaaakkkkk


Suara benturan keras terdengar oleh penduduk sekitar, sehingga mereka beramai-ramai melihat keadaan Rendra. Rendra mengalami kecelakaan tunggal dengan menabrak pembatas jalan.


" Ada kecelakaan tunggal, pemotor menabrak pembatas jalan. Dan motornya rusak parah, sedangkan orangnya terpental sampai jauh." Ucap salah satu warga yang melihat kecelakaan.


" Sekarang mana korbannya ?" Tanya temannya.


" Itu , lagi mau dibawa kerumah sakit" Jawab warga itu.


Beruntung ada warga melihat kejadian itu sehingga dengan cepat Rendra dibawa ke rumah sakit. Saat dibawa kerumah sakit Rendra tidak sadarkan diri, warga yang membawa Rendra kerumah sakit langsung mencoba membuka ponsel Rendra.


" Bagaimana pak ? Apa bisa ponselnya dibuka?" Tanya salah satu warga yang tadi ikut membawa Rendra kerumah sakit.


" Sebentar pak. Ini bisa dibuka tapi kita bingung mau menghubungi nomor yang mana. Oh iya coba aku lihat di log panggilan nya saja. " Ucap pria yang menolong Rendra.


Warga itu pun mengecek log panggilan yang ada di ponsel Rendra. Mereka menemukan 3 jam yang lalu Rendra menghubungi nomor atas nama Bagas. Dengan segera warga pun menghubungi nomor Bagas untuk memberitahu jika Rendra kecelakaan.


[ Halo mas, ada apa ? Kenapa jam segini mas Rendra belum pulang juga ?] Tanya Bagas dari seberang sana mengira jika Rendra yang menghubunginya.


[ Maaf sebelumnya apa Mas ini mengenal bapak yang mempunyai nomor ponsel ini?] Tanya warga itu dengan sopan.


[ Iya Pak. Yang mempunyai ponsel itu kakak saya, namanya Rendra. Memangnya dia di mana Pak? Ada apa dan kakak saya?]


[ Maaf Mas, tadi kakak mas kecelakaan tunggal di jalan Angsa dan saat ini sudah kami bawa ke rumah sakit Medika. Mas bisa ke sini untuk melihat keadaan kakaknya ]


[ Astagfirullahaladzim. Baik pak, baik terima kasih atas informasinya. Tolong jangan pulang dulu sampai saya datang ke sana, terima kasih sekali lagi pak ]


[ Iya Mas sama-sama. Saya tunggu di rumah sakit]


Setelah sambungan telepin terputus, Bagas langsung bersiap dan mengeluarkan motornya untuk langsung melaju ke rumah sakit di mana tempat Rendra dirawat. Dia sampai lupa untuk mengabari Zainal terlebih dahulu. Setelah 40 menit perjalanan, akhirnya Bagas sampai di rumah sakit. Dengan segera dia menanyakan ke pihak informasi ruangan Rendra dirawat. Ternyata saat ini Rendra masih ada di ruangan UGD.


" Maaf Pak. Apa Bapak tadi yang menghubungi saya?." Tanya Bagas dengan sopan kepada salah satu diantara dua orang yang saat ini sedang menunggu Rendra di ruang UGD.


" Ini keluarga dari bapak Rendra yang tadi kecelakaan ya Mas." Tanya salah satu warga yang bernama Ali.


" Iya Pak. Benar, saya Bagas adik dari pasien yang bernama Rendra yang tadi kecelakaan di Jalan Angsa." Jawab Bagas dengan jujur.


" Oh iya Mas, sekarang pasien atas nama Rendra masih di ruangan UGD. Sudah hampir 1 jam dokter melakukan tindakan tapi belum keluar juga." Ucap pak Ali memberitahu Bagas.


Bagas mengangguk paham dengan apa yang dijelaskan oleh Pak Ali. Setelah keluarga dari Rendra datang akhirnya pak Ali dan temannya pun izin untuk pulang. Tidak lupa Bagas mengucapkan rasa terima kasih banyaknya kepada Pak Ali dan temannya, karena sudah bersedia mengantarkan Rendra ke rumah sakit.


Setelah menunggu hampir 15 menit akhirnya Rendra dipindahkan ke kamar rawat inap. Rendra masih saja belum terbangun dari pingsannya, mungkin juga akibat efek obat yang diberikan oleh dokter.


Setelah mengurus kamar perawatan untuk Rendra, Bagas menemui dokter yang tadi menangani Rendra untuk menanyakan kelanjutan masalah luka yang dialami oleh Rendra.


" Jadi kakak saya akan mengalami kelumpuhan ?" Tanya Bagas kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh dokter yang tadi menangani Rendra.


" Iya mas. Benturan yang cukup kuat sehingga mengakibatkan kelumpuhan, ada bebera syaraf yang rusak. Tapi ini tidak permanen, masih bisa disembuhkan asalkan rajin terapi dan pengobatan secara teratur. Insya allah akan bisa berjalan lagi ." Ucap Dokter menjelaskan secara mendetail.


Bagas hanya bisa menghela nafas dengan berat, begitu berat cobaan hidup Rendra. Sudah terpuruk tertimpa tangga juga, Bagas keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Dia memikirkan bagaimana kehidupan Rendra kedepannya nanti jika dia tidak bisa berjalan.


Kini Bagas sudah berada di kamar rawat Rendra. Bagas melihat ke arah Rendra yang berbaring, tanpa terasa air mata Bagas menetes juga. Bagas sangat kasihan melihat nasib kakaknya, setelah berpisah dari Anisa masalah Rendra berdatangan dan secara bertubi-tubi.


" Apa mungkin ini hukum karma untuk Mas Rendra? Karena dulu mas Rendra sudah menyakiti wanita sebaik dan selembut mbak Anisa. Bahkan wanita yang sudah berkorban untuk keluargaku sendiri. " Uap Bagas pada dirinya sendiri.


Bagas melihat Rendra mulai menggerakkan tangan dan matanya. Bagas pun langsung mendekati Rendra dan memanggilnya.


" Mas Rendra. Mas kamu sudah sadar mas ? Apa yang mas rasakan? Katakan sekarang, bicara sama Bagas biar Bagas panggil dokter dulu ya." Ucap Bagas terlihat begitu senang melihat Rendra yang sudah terbangun.


" Bagas.. Bagas ini di mana Gas?." Tanya Rendra dengan terbata-bata.


" Ini di Rumah Sakit mas. Mas Rendra tadi kecelakaan di jalan Angsa, dan ada warga yang melihatnya sehingga warga membawa mas Rendra ke rumah sakit. Tadi mereka juga yang menghubungi Bagas, sekarang mas Rendra istirahat dulu. Bagas panggilkan dokter dulu agar bisa memeriksa keadaan Mas Rendra." Seru Bagas.


Rendra tidak bisa menolak, dia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing dan sakit. Bahkan saat ini kepala Rendra juga sedang diperban di bagian kiri. Rendra mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja dia alami. Dia mengingat semuanya, jika tadi dia dari klub malam dan pulang dengan tubuh yang sempoyongan lalu terjadilah kecelakaan tunggal itu.


Bagas kembali masuk bersama dokter yang tadi menangani Rendra . Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Rendra.


" Sepertinya tidak dokter, soalnya tadi saat terbangun mas Rendra mengenali saya ." Jawab Bagas sesuai dengan yang tadi terjadi.


" Oh begitu. Alhamdulillah, jadi luka yang ada di kepala bagian kiri ini tidak berakibat fatal untuk ingatan Pak Rendra. Ya sudah kalau begitu pak Rendra sekarang istirahat, besok pagi saya akan datang ke sini lagi untuk memeriksa keadaan Pak Rendra." Ucap dokter dengan ramah dan sopan.


" Iya dokter, Terimakasih." Jawab Bagas, sedangkan Rendra hanya meringis sambil memegang kepalanya yang terasa sakit dan pusing.


Setelah dokter itu keluar, Bagas meminta Rendra untuk beristirahat saja. Bagas belum cerita jika kaki Rendra ada yang bermasalah, mungkin saja Rendra juga belum tahu karena dia terlihat masih biasa saja.


" Bagas, kok kaki ku rasanya tidak enak banget ya?" Seru Rendra.


" Maksudnya?" Tanya Bagas sebenarnya paham maksud Rendra.


" Susah dijelaskan rasanya Gas" Ucap Rendra sembari merasakan nyeri disekujur tubuhnya.


" Sudah lebih baik sekarang mas Rendra istirahat saja, mungkin saja itu efek dari obat yang diberikan oleh dokter." Ucap Bagas berbohong. Bagas tidak akan memberitahu Rendra sekarang, tapi besok saat Rendra sudah sedikit membaik.


Rendra mengikuti apa kata Bagas. Diapun kembali memejamkan matanya lalu terlelap lagi mengarungi mimpinya.


*******


Pagi harinya sebelum Rendra terbangun dari tidurnya, Bagas lebih dulu menghubungi Zainal untuk mengabarkan jika saat ini Rendra dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan.


" Apa? Rendra kecelakaan dan saat ini dirawat di rumah sakit?."Tanya Zainal terlihat kaget dan syok dengan berita yang disampaikan oleh adiknya,Bagas .


" Iya Mas, tadi malam sekitar jam 2 aku mendapat telepon dari orang yang menolong mas Rendra. Mas Rendra kecelakaan tunggal. Mas Zainal jika mau datang ke sini, jangan lupa tolong bawakan baju ganti untukku ya Mas. "Ucap Bagas. Dia tidak tega untuk pulang dan meninggalkan Rendra sendirian sehingga meminta Zainal yang membawakan pakaian gantinya .


Zainal hampir saja tidak percaya saat mendapati kabar yang baru saja disampaikan oleh Bagas. Rendra kecelakaan, bahkan semalam memang Zainal dan Rendra sama sekali tidak bertemu. Sebagai seorang kakak sudah pasti Zainal ikut prihatin dengan apa yang menimpa adiknya itu.


" Baiklah nanti mas bawakan pakaian ganti kamu. Kamu tunggu saja di rumah sakit." Ucap Zainal.


" Iya Mas saya tunggu. Terima kasih." Jawab Bagas singkat.


Setelah panggilan telepon terputus, Zainal pun memberitahu Santi jika saat ini Rendra sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Dengan segera Santi langsung mengajak Zainal untuk menjenguk keadaan Rendra. Kebetulan memang santi baru saja pulang dari mengantar anak-anaknya ke sekolah.


" Ya sudah, sayang kamu siap-siap dulu dan jangan lupa bawakan makanan untuk Bagas. Aku mau ke rumah Bagas dulu untuk mengambilkan pakaian ganti dia." Ucap Zainal.


" Iya Mas aku siapkan dulu makanan untuk Bagas." Jawab Santi lalu dia kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan makanan Bagas yang akan dia bawa ke rumah sakit.


Betapa Malangnya nasib Rendra, istri tidak punya, pekerjaan tidak punya, uang pun tidak punya. Dan kini harus terbaring di rumah sakit karena kecelakaan yang disebabkan oleh dirinya sendiri.


Hanya butuh waktu 10 menit saja Zainal dan Santi sudah menyiapkan semua barang keperluan yang akan dia bawa ke rumah sakit.


" Terus mas Zainal hari ini tidak berangkat bekerja?."Tanya Santi ingin tahu.


" Hari ini aku sudah izin, tadi saat di rumah Bagas aku sudah menelpon atasanku dan meminta izin sehari saja untuk mengurus semua keperluan Rendra selama dia dirawat di rumah sakit. Kasihan Bagas jika harus dia sendiri yang mengurus semua ini." Jawab Zainal bersungguh-sungguh.


" Oh ya sudah kalau begitu. Kita segera berangkat sekarang saja ya mas, tapi sebelum jam 11.00 siang aku harus sudah pulang ya mas. Karena aku harus menjemput anak-anak ke sekolahan terlebih dulu. Tidak apa-apa kan Mas?." Tanya Santi meminta persetujuan Zainal.


" Iya tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita berangkat nanti keburu siang." Ajak Zainal.


Zainal dan Santi berangkat dengan mengendarai motor Zainal. Sampai saat ini Zainal belum mau mengambil mobil karena tabungannya memang belum cukup, dia ingin membeli secara cash saja. Zainal tidak mau kredit karena akan membuat dia semakin pusing. Mungkin dia akan membeli mobil second dengan harga yang terjangkau dengan tabungannya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, Santi dan Zainal sudah sampai di parkiran Rumah Sakit tempat Rendra saat ini dirawat. Mereka segera masuk ke rumah sakit dan mencari ruangan rawat Rendra yang tadi sudah dikirim lewat pesan oleh Bagas.


" Mas Zainal, mbak Santi?" Seru Bagas saat mendapati Santi dan Zainal masuk kekamar rawat Rendra.


" Iya Gas. Rendra bagaimana keadaan kamu?" Tanya Zainal prihatin dengn keadaan Rendra.


Rendra seperti sehabis menangis karena matanya terlihat sendu. Zainal mendekati Rendra dan mengusap punggung adiknya itu.


" Aku lumpuh mas." Ucap Rendra sambil kembali terisak.


Deg


Zainal dan Santi secar bersamaan langsung memandang kearah Bagas untuk mencari kebenaran dari Bagas. Bagas hanya bisa mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan perkataan Rendra.


" Tapi hanya sementara, jika Mas Rendra rajin terapi dan berobat kemungkinan besar dia akan cepat bisa berjalan seperti semula."Ucap Bagas kembali menjelaskan.


" Tapi itu mustahil Bagas ! kamu tahu sendiri aku sekarang seorang pengangguran. Bahkan aku tidak punya uang sedikitpun, uangku sudah habis. Selama bertahun-tahun aku bekerja aku tidak memiliki tabungan. Semua uangku habis karena Ibu, ini semua karena ibu ! Dan untuk berobat dan terapi itu semua pakai biaya Bagas !" Bentak Rendra dengan penuh emosi.


Terlihat sekali emosi Rendra yang meluap begitu saja saat mengetahui dirinya saat ini tidak bisa berjalan. Bahkan untuk berobat pun dia tidak punya biaya, di sini dia semakin menyalahkan ibunya. Karena semenjak dia bekerja ibunya yang sudah mengelola keuangannya.


" Sabar Ndra, kami berdua yang akan membantu biaya kamu berobat. Tapi tolong kamu jangan menyalahkan ibu karena kecelakaan yang kamu alami tidak ada hubungannya dengan ibu. Kamu tahu sebdirikan saat ini ibu itu sedang dipenjara, dia sudah mempertanggungjawabkan semua kesalahannya di dalam penjara sana."Ucap Zainal mencoba memberi dukungan untuk Rendra.


" Tapi aku sekarang lumpuh mas, aku hanya menjadi beban untuk kalian berdua saja. Kalau begini lebih baik aku mati saja." Ucap Rendra dengan berderai air mata.


" Jangan bicara seperti itu Rendra, kita semua ini keluarga. Mas Zainal kakak kamu dan Bagas adik kamu, dan aku sebagai kakak ipar kamu juga akan membantu agar kamu bisa cepat sembuh. Jangan putus asa dan jangan berkecil hati, harus semangat supaya kamu bisa cepat sembuh. Aku tidak masalah mas Zainal membantu untuk kesembuhan kamu." Ucap Santi bicara dengan begitu bijaknya.


Zainal tersenyum senang melihat keikhlasan sang istri yang merelakan sedikit rezeki suaminya untuk membantu pengobatan Rendra. Begitupun dengan Bagas, dia salut dengan perubahan Santi yang dulunya sombong, pelit sekarang sudah benar-benar berubah. Santi menjadi sosok wanita yang lebih dewasa dan sosok wanita sebagai pengganti seorang ibu untuknya.


" Tapi apa aku masih bisa disembuhkan " Tanya Rendra masih saja merasa berkecil hati.


" Insya Allah mas Rendra bisa sembuh seperti sedia kala. Au juga akan membantu sedikit biaya untuk mas Rendra mungkin memang tidak banyak tapi aku janji akan membantu mas Rendra sampai mas Rendra bisa sembuh." Ucap Bagas terlihat sangat serius saat berbicara.


Ketiga audara lelaki kandung itu pun saling berpelukan dan saling menguatkan. mlKelihat pemandangan yang ada didepannya itu membuat Santi juga ikut terharu serta meneteskan air matanya.


* seandainya dari dulu kami semua hidup rukun seperti ini mungkin tidak akan ada yang namanya kesombongan, amarah, sakit hati dan perpisahan.* Gumam Santi dalam batinnya.


********