Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Zainal sakit


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hooeekk.... Hoeeekkkk... Hoeeekkkk


Zainal terus memuntahkan isi dalam perutnya, sudah 3 hari ini setiap pagi zainal selalu muntah dan mual. Dia sudah periksa kedokter tapi dokter tidak menemukan penyakit pada tubuh zainal. Tidak ada yang dapat dilakukan zainal jika rasa mual kembali datang selain memuntahkan isi dalam perutnya.


Berbanding terbalik dengan nadin, dia yang hamil bahkan tidak pernah lagi merasakan mual. Dan makan apapun itu tidak masalah, tidak ada rasa mual jika mencium bau - bau yang tajam. Rendra dan ibunya memperlakukan nadin seperti ratu dalam rumah mereka.


" Bu.... Ibu.... Tolong buatkan aku susu hamil !" Teriak nadin dari arah ruang tamu.


Sedangkan nadin sendiri saat ini sedang tiduran di sofa sambil memainkan ponsel nya. Dengan kaki sambil dia goyang - goyangkan.


Dari arah dapur ibu ratri lari tergopoh - gopoh menghampiri nadin dengan membawa segelas susu hangat untuk nadin. Melihat ibunya diperlakukan seperti pembantu oleh nadin, membuat rendra kasihan dan ibu kepada ibunya.


" Ini susunya , padahal cuma susu loh din . Kamu kan bisa buat sendiri. Ibu itu sedang mencuci piring bekas sarapan tadi, jadi besok - besok kamu dong urus diri kamu sendiri. " Ucap ibu ratri mulai protes dengan kelakuan semena - mena nadin.


" Kalau banyak protes aku tidak akan memberikan kamu uang belanja bu. Minta saja sama anak kamu yang pengangguran itu. Aku kurang enak gimana coba ? Uang harian untuk keperluan makan sudah aku kasih 100 ribu itu sudah lebih dari cukup kan ? Karena kita cuma bertiga. Untuk tiap bulan ibu yang mencuci dan menyetrika bajuku juga aku kasih imbalan 1 juta? Terus masih saja protes ?" Ucap nadin berlagak sok paling kaya dihadapan ibu mertuanya. Padahal ya memang kaya.


Rendra mendekati nadin dan ibunya, rendra terlihat tidak suka dengan cara nadin memperlakukan ibunya. Mau banyak protes juga serba salah, karena saat ini memang nadin yang menjadi sumber keuangannya. Selama menikah dengan nadin rendra sama sekali tidak keluar uang, bahkan untuk rokok saja dia minta nadin.


" Din, tolong jangan perlakukan ibu seperti ini. Kasihan ibu sudah tua. Bagaimana kalau kita cari pembantu saja, kasihan ibu kalau harus mengerjakan ini dan itu tanpa ada istirahatnya . Tolonglah din, ibu ini mertua kamu bukan pembantu kamu. " Ucap rendra mencoba menasehati nadin.


" Ok tidak masalah aku ambil pembantu dan aku yang akan membayarnya . Tapi untuk kebutuhan rumah kamu yang mencukupi mas, dan satu lagi. Ibu tidak akan mendapat uang bulanan dari ku " Ucap nadin tegas.


Deg...


Jantung rendra dan ibu ratri seakan berhenti berdetak. Bagaimana bisa nadin punya ide gila seperti itu, kalau dia tidak memberikan uang belanja sama saja ibu ratri kehilangan sumber uangnya. Selama ini uang 100 ribu itu dia belanjakan hanya 50 - 70 ribu saja, sisanya dia sisihkan untuk menambah untuk dia beli barang - barang yang dia butuhkan. Meskipun sudah hidup susah gaya hidup ibu ratri masih saja sok kaya, bahkan dia masih ikut arisa. Uang 1 juta dari nadin itu yang dia pakai untuk bayar arisan.


" Jangan begitu dong din, kamu kan tahu aku ini tidak punya penghasilan. Kalau kebutuhan rumah kamu serahkan sama aku, dapat uang darimana aku bisa memenuhi semua kebutuhan itu nadin ku sayang, sedangkan rokok saja aku minta sama kamu, sayang . " Ucap rendra berkata dengan manis sambil memeluk nadin dari samping.


Nadin jengah dengan kata - kata manis rendra , berbulan - bulan menikah tapi tidak ada sedikitpun tanggung jawabnya dari rendra, menikah hanya modal sosis saja.


" Makanya kalau bicara itu difikir dulu, enak saja nyuruh ngambil pembantu. " Jawab nadin dengan ketus.


" Lagipula uang kamu banyak loh din, kalau tidak kamu tambahin saja uang bulanan untuk ibu. Hitung - hitung kamu bayar ART juga kan , lagipula kamu disini tinggal dirumah ku loh din. Anggap saja kamu bayar sewa tempat tinggal juga" Ucap ibu ratri sambil tersenyum seakan dia merasa paling benar.


Hahaaahhhaaaaaaa Bukannya mengiyakan permintaan ibu ratri , nadin justru tertawa terpingkal - pingkal. Bagaimana dia tidak tertawa jika permintaan ibu ratri saja tidak masuk akal. Bagaimana dia minta tambahan uang dan perhitungan soal tempat tinggal, sedangkan untuk kebutuhan sehari - hari saja semua dari nadin.


" Oh jadi ibu mau perhitungan sama nadin ? Selama nadin tinggal disini semua kebutuhan rumah itu sudah nadin loh bu, sampai listrik juga nadin. Baiklah nadin akan bayar sewa 1 bulan 1 juta, tapi nadin tidak mau menanggung biaya hidup kalian berdua, kalau mas rendra oke tidak masalah karena dia masih suamiku. Tapi suami kere jadi aku masih berbaik hati mau menanggungnya. Tetapi tidak untuk ibu!" Ucap nadin dengan tegas.


Setelah bicara seperti itu nadin mengambil susu yang masih utuh belum dia minum. Dia bawa masuk kamar dan akan meminumnya dikamar. Dia benar - benar kesal dengan sikap ibu mertuanya, sudah miskin tapi banyak gaya.


" Ibu... Aku lemas sekali " Ucap zainal yang baru saja datang dengan wajah yang sangat pucat, beruntung saat ini weekend sehingga zainal tidak perlu bolos kerja.


Meskipun zainal pria yang tidak bisa dibilang baik soal percintaan, akan tetapi kariernya bagus. Dia mempunyai pekerjaan yang bagus dan gaji yang bagus. Sayangnya zainal itu pelit dengan keluarganya tetapi royal dengan teman - temannya diluaran sana. Tak jarang saat nongkrong dengan teman - temannya zainallah yang membayar tagihannya. Sehingga uang nya hanya habis untuk nongkrong dengan teman - temannya dan hanya sekitar 5 % gajinya yang dia tabung. Nafkah untuk kedua anaknya pun sudah tidak dia tunaikan lagi.


" Ya ampun zainal kamu kenapa ? Ini wajahmu pucat sekali loh nal. ?" Tanya ibu ratri khawatir sekali dengan keadaan zainal.


" Aku dari tadi muntah - muntah bu. Perutku terus mual " Jawab zainal dengan suara lemah sekali.


" Ndra kamu buatkan teh hangat untuk mas mu " Perintah ibu ratri dan rendra hanya bisa mengangguk patuh.


Mendengar ada suara zainal membuat nadin segera keluar kamar, tidak tahu kenapa sedari semalam nadin sangat ingin melihat wajah zainal. Dia sendiri heran kenapa justru zainal yang dia ingin lihat , bukan suaminya sendiri.


" Mas zainal kenapa bu ?" Tanya nadin menghampiri ibu mertuanya.


" Tidak tahu din, tapi dia seperti orang yang sedang hamil muda. Mungkin bawaan bayi yang kamu kandung itu " Ucap ibu ratri keceplosan.


" Hah...maksud ibu ? Bayi ku , apa hubungannya bayi ku sama mas zainal ?" Tanya nadin dengan penuh rasa penasaran.


Ibu ratri salah tingkah dan gugup, bisa - bisanya mulutnya itu asal bicara.


" Emm...maksud ibu kehamilan anita. Iya anita jugakan hamil seperti kamu, huhh ibu ini panik jadi salah bicara. Mana lagi tadi rendra disuruh buat teh kok lama banvst " Ucap ibu ratri mengalihkan topik pembicaraan.


* Semoga saja nadin tidak curiga,ini juga mulut kenala asal bicara * Gumam ibu ratri dalam batinnya.


Rendra datang dengan membawa segelas teh hangat untuk zainal dan memberikannya langsung kepada zainal.


" Minum dulu mas " Ucap rendra memberikan teh kepada zainal.


Zainal dengan lemas menerimanya dan langsung meminumnya. Melihat wajah zainal yang terlihat pucat , tiba - tiba membuat nadin merasa iba dengan keadaan kakak iparnya itu.


" Bagaimana kalau kita bawa mas zainal ke rumah sakit saja, kasihan dia terlihat lemas dan pucat. Kalau terus - terusan begitu nanti dia bisa dehidrasi. " Ucap nadin mengusulkan zainal dibawa kerumah sakit.


" Aku tidak mau kerumah sakit, aku tidak apa - apa. Sekarang tolong aku antar kekamar ku ndra. Aku mau istirahat disini saja, kalau butuh apa - apakan tinggal panggil. Kalau dirumahku sendiri sepi tidak ada orang yang harus aku mintain tolong " Ucap zainal seenaknya saja.


Namun tidak ada penolakan dari ibu ratri maupun rendra , mereka menuruti kemauan zainal. Rendra segera memapah zainal masuk kekamarnya. Dirumah ini kamar zainal memang paling besar, karena dari dulu zainal sudah menjadi anak emas ibu ratri. Bahkan kamar zainal saja sampai sekarang tidak boleh ditempati oleh siapapun.


* Kenapa dengan hatiku ? Melihat mas zainal yang lemas seperti itu kok aku sangat khawatir sekali. Padahal mas zainal itu hanya kakak iparku saja. Perasaan apa ini ? Kalau cinta sudah pasti bukan, tapi aku terlihat peduli dengan mas zainal * Gumam Nadin dalam batinnya.


" Kamu kenapa ?" Tanya ibu ratri mengagetkan nadin.


" Tidak apa - apa. Sudah sana beres - beres rumah. Habis itu masak yang enak, uang 100 sehari kok cuma dapat ikan sama tempe yang lainnya kemana ?" Seru nadin .


" Makam tinggal makan saja banyak protes " Ucap ibu ratri.


Dia memilih meninggalkan nadin dan masuk kedapur untuk segera memberskan pekerjaannya. Berdebat dengan nadin memang tidak akan habisnya.


" Din, minta uang dong " Ucap rendra yang baru saja keluar dari kamar zainal.


" Kalau mau uang itu kerja dong jangan diam saja dirumah . " Ucap nadin kesal.


" Ini juga mau cari kerja din,mas ada janji sama teman mas. Katanya dia ada pekerjaan untuk mas, makanya mas minta uang untuk pegangan. Malu dong ketemuan du cafe tapi tidak pegang uang " Ucap Rendra masih saja sombong.


Nadin mendengus kesal, diapun berjalan masuk kamarnya dan keluar lagi dengan membawa uang 200 ribu dan menyerahkannya kepada rendra. Mata rendra menyipit saat melihat jumlah uang yang diberikan oleh nadin.


" Kalau cuma 200 ribu dapat apa din ? Cuma dapat satu gelas kopi sama nasi goreng saja " Ucap rendra memprotes.


" Kalau tahu miskin jangan banyak gaya !" Bentak nadin dengan kesal.


" Mau tidak ? Kalau tidak mau aku ambil lagi ini " Seru nadin kesal.


Dengan terpaksa rendra mengambilnya dari tangan nadin. Rendra menyambar kunci motornya, rendra tidak diperbolehkan bawa mobil nadin. Hanya saat pergi bersama nadin saja dia diperbolehkan membawa mobil nadin.


***********