
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Ting Tong
Suara bel berbunyi, bik marni langsung berlari menuju pintu utama dan segera membukanya. Dia terkejut melihat siapa yang datang, pak burhan memang sedang kekamar mandi sehingga tamunya bisa masuk.
" Mau cari siapa ?" Tanya bik marni pura - pura .
" Saya mau cari pemilik rumah ini, Anisa. Mana anisa , bilang sama anisa bahwa zainal datang mencarinya untuk membuat perhitungan !" Bentak zainal dengan geram.
Setelah pulang dari rumah santi tadi, zainal pergi kerumah anisa. Dia tahu jika saat ini santi dekat dengan anisa , zainal menyangka jika anisa sudah mempengaruhi santi agar tidak mau rujuk dengan dirinya. Zainal akan membuat perhitungan dengan anisa, anisa terlalu ikut campur dengan kehidupannya.
Bik marni akhirnya mempersilahkan zainal untuk masuk dan duduk diruang tamu. Bik marni langsung menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar anisa berada. Anisa sendiri sedari tadi memang hanya dikamar sembari berkirim pesan dengan Risa teman masa kecilnya. Riko dihari libur begini kalau tidak pergi dengan anisa dia pasti bermain foodsal bersama abimana.
" Siapa tamunya bik ?" Tanya anisa saat bik marni memberitahu jika ada tamu yang mencarinya.
" Kakaknya mantan suami mbak anisa ituloh mbak. " Jawab bik marni.
" Mas zaianal ?" Tanya anisa langsung menebak nama zainal.
" Iya benar, padahal tadi dia menyebutkan namanya tapi bibik lupa. Maklum sudah tau mulai pikun " Ucap bik marni sambil terkekeh.
Anisa juga ikut terkekeh,dengan segera dia turun kelantai satu untuk menemui zainal. Anisa sama sekali tidak takut menemui zainal, dia terlihat biasa saja menemui zainal. Padahal dia sendiri tidak tahu apa tujuan zainal datang kerumahnya.
" Akhirnya keluar juga kamu dari persembunyianmu" Seru zainal dengan menyeringai licik.
" Siapa juga yang sembunyi, aku dari tadi ada dikamar karena ini memang rumahku. Jadu wajar dong kalau aku ada didalam kamar? Kamu sendiri ngapain datang kemari ? Mau pinjam uang lagi ?" Tanya anisa asal tebak saja.
Brakkkk...
Tiba - tiba zainal marah dan menggebrak meja dengan keras sampai menimbulkan suara yang mengagetkan. Jantung anisa masih jedag jedug karena kaget. Zainal menatap anis dengan nyalang, di ambang pintu pak burhan sudah bersiap dengan tongkat satpamnya. Dia akan bergerak jika zainal akan menyakiti anisa.
" Hai... Wanita sombong dan sok kaya ! aku datang kesini bukan karena uang, karena aku punya cukup banyak uang. Aku datang kesini karena kamu sudah lancang dab ikut campur dengan kehidupan ku dan santi. Kamu sudah mempengaruhi santi agar dia tidak mau aku ajak rujuk ! Dasar wanita kurangajar kamu anisa!" Seru zainal penuh dengan penekanan.
Haaahhh ?
Anisa hanya melongo mendengar tuduhan zainal yang sama sekali tidak benar. Anisa tahu jika zainal pasti mengajak rujuk santi tetapi santi menolaknya sehingga zainal marah dan uring - uringan tidak jelas begini.
" Atas dasar apa kamu menuduhku mempengaruhi mbak santi ? Kamu ada bukti ? Jangan buat aku marah dan mengusirmu secara paksa dari rumahku, aku paling tidak suka rumahku dimasuki tukang fitanah seperti mu. p0⁰ Ucap anisa sambil berkacak pinnggang.
Zainal tidak takut dengan ancaman anisa, justru saat ini dia juga berdiri dan berkacak pinggang dihadapan anisa. Anisa sendiri sangat kagum dengan keberanian zainal si manusia tidak tahu malu. Seorang ayah yang dzolim, selama berbulan - bulan tidak menafkahi anaknya padahal berpenghasilan tinggi.
" Jangan kamu kira saya ini takut dengan ancaman kamu anisa. Kenapa kamu mempengruhi santi agar tidak mau rujuk dengan ku " Ucap zainal lantang.
" Aku tidak pernah mempengaruhi mbak santi untuk menolak ajakan rujukmu mas. Bahkan kamu meminta rujuk saja aku tidak tahu. Apa tidak malu mengajak mantan istri yang sudah disia - siakan. Nafkah anak - anak tidak ditunaikan, sekarang kok mintak rujuk . Apa tidak malu tuh ? Kalau aku sih sudah malu banget , tapi beda sih kalau sama orang yang tidak tahu malu. " Ucap anisa sengaja agar didengar zainal.
Kedua tangan zainal mengepal dan hendak melayangkan pukulan diwajah anisa. Namun dengan cepat pak burhan yang sedari tadi berjaga - jaga menghalaunya denga tongkat yang sedari tadi dia pegang. Pak burhan secara sadar langsung memukul tangan zainal sampai zainal mengaduh kesakitan.
" Aduh... Aduh.. Sakit ! Dasar satpam gila, awas kamu kalau sampai tanganku patah aku akan mematahkan tanganmu juga. Cuma jadi satpam saja sudah belagu , pekerjaan itu seperti saya. Seorang menejer dan gajinya besar. " Seru zainal dengan sombongnya.
" Sombong, dipecat tahu rasa kamu nanti zainal. Biar jadi penganguran seperti rendra. Apa mau aku minta pak abidin untuk memecatmu !" Ucap anisa dengan santainta.
Anisa mengenal pak abidin ? Zainal menelan salivanya sendiri. Tidak bisa membayangkan jika dia menjadi pengangguran, mau dapat uang darimana untuk biaya hidupnya. Tidak menyangka ternyata anisa mengenal beberapa orang kaya dan salah satunya pak abidin pemilik perusahaan tempat zainal bekerja.
Zainal mulai ketakutan dan diapun menunduk takut, ternyata rencananya membuat perhitungan dengan anisa gagal total dan justru dia sendiri yang ketakutan dengan ancaman anisa.
" Sebelum aku mengusir paksa sekarang lebih baik mas zainal pergi dari rumahku. Boleh bertamu tapi tidak untuk membuat keributan. " Ucap anisa dengan tegas.
Zainal langsung keluar dari rumah anisa tanpa mengucapkan sepatah katapun. Anisa tersenyum jahil melihat zainal yang pulang tanpa pamit serta menahanalu dan zainal juga ketakutan.
" Pak, besok - besok kalau post ditinggal kunci saja gerbangnya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi." Ucap anisa.
" Iya mbak. Maaf tadi bapak lupa karena buru - buru kekamar mandi. Besok tidak lagi - lagi seperti ini mbak." Ucap pak burhan meminta maaf.
" Iya pak kali ini dimaklumi. Ya sudah, terimakadih ya pak tadi sudah menolong ku. Sekarang bapak boleh kembali ke post lagi , jangan lupa makan siang dulu pak. " Ucap anisa ramah.
Selesai bicara seperti itu anisa naik kelantai atas untuk beristirahat. Dia sengaja tidak menghubungi suaminya saat ada zainal tadi. Tidak mau mengganggu waktu suaminya yang sedang bermain dengan teman - temannya.
Sementara itu disepanjang - panjang jalan zainal terus menggerutu dan mengomel tentang anisa yang semakin kurangajar. Para pengendara lain mengira jika zainal itu stres atau gangguan kejiwaan.
" Anisa aku marah dengan mu, lihat saja anisa aku akan membuat perhitungan dengan mu. Aku tetap yakin santi itu seperti itu karena pengaruh buruk anisa. Padahal dulu santi itu penurut dan mengiyakan segala ucapanku" Ucap zainal keras.
Motor zainal melaju dengan kencang tanpa takut akan terjatuh. Motor sampai didepam rumah zainal. Dengan kesal zainal meletakkan motornya begitu saja tanpa membawanya naik keteras terlebih dahulu.
" Sial ! Istri tidak punya dan rumah juga berantakan, makanan tidak ada. Tahu begitu tadi aku mampir beli nakanan sekalian. Kacau... Kacau ! Santi kenapa kamu tidak mau rujuk padahal jika kita rujuk kamu tidak perlu capek - capek bekerja" Seru zainal seperti mendongeng untuk dirinya sendiri.
Mau kerumah ibunya untuk meminta makan juga malas, karena disana pasti akan bertemu dengan rendra. Terlebih nadin yang saat ini sedang mengandung benihnya.
" Sebenarnya nadin tidak salah , tapi kenapa aku marah juga sama dia. Apalagi saat mengingat aku bergelut diatas ranjang sama dia,meskipun aku melakukan itu tanpa sadar tetap saja aku merasa jijik dengan tubuh nadin, sudah banyak pria yang menjamahnya. Aku takut terkena penyakit menjijikan itu.
*********