Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Makanan orang hamil


.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Jadi Rendra tadi sudah mengucapkan talaknya untuk Nadin?" Tanya Zainal saat dia selesai mandi sepulang kerja.


Santi memberitahu Zainal jika tadi siang Nadin datang membawa surat panggilan sidang dari kantor pengadilan agama. Dan terjadi perdebatan antara Nadin dan Rendra. Sehingga Rendra mengiyakan perceraian yang diinginkan Nadin, serta Rendra juga langsung mengucapkan talaknya untuk Nadin.


" Iya Mas, Nadin juga sempat marah-marah dan memaki Rendra. Mungkin Rendra juga dengan terpaksa mengucapkan kata talaknya, sebab sepertinya memang pernikahan mereka tidak bisa diperbaiki. Nadin nya saja tidak menginginkan pernikahannya kembali utuh."Ucap Santi sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja untuk Zainal.


Zainal menghela nafas dengan panjang dia sangat merasa kasihan dengan Rendra. Semua istrinya yang menuntut dia cerai, namun mau bagaimana lagi semua juga atas kesalahan dan kekeliruan Rendra. Zainal berharap setelah ini Rendra bisa memperbaiki kehidupannya dan menemukan kebahagiaannya tersendiri.


Santi beranjak ke dapur untuk melanjutkan memasak untuk makan malam. Sedangkan Zainal membawa kopi buatan Santi menuju ruang keluarga, dimana kedua anaknya yang saat ini sedang belajar menggambar dan mewarnai.


Sejauh ini rumah tangga Zainal dan Santi, rukun damai dan bahagia. Zainal benar-benar sudah berubah dan menepati semua janjinya, saat dia ucapkan sebelum kata rujuk diterima oleh Santi.


" Anak-anak Papa lagi gambar apa sih?"Tanya Zainal mendekati kedua anaknya yang asik dengan buku gambar dan pensil warnanya.


" Ini Pa, Koko lagi menggambar pesawat terus langsung koko warnai. Kalau kakak, itu lagi bikin rumah tapi belum selesai."Ucap Koko sembari menunjukkan gambarnya yang tinggal setengah lagi belum selesai diwarnai.


" Kan tadi aku memang terakhir menggambarnya " Jawab Kiki tidak mau kalah.


Melihat kedua anaknya yang tidak mau ada yang kalah mengingatkan masa kecilnya dengan Rendra dulu. Dimana dulu Rendra memang selalu lebih unggul dari Zainal, bahkan Rendra bisa naik sepeda lebih dulu daripada Zainal. Setiap sekolahpun memang tidak mau kalah juga, selisih usia yang hanya 3 tahun membuat Zainal dan Rendra sering ribut dan memperebutkan mainan.


" Papa tadi itu Om Rendra marah - marah sama wanita. Tapi aku tidak tahu siapa wanita itu, apa itu orang jahat ya pa?" Tanya kiki yang memang tahu saat Rendra dan Nadin sedang bertengkar di depan rumah Ibu Ratri.


Zainal langsung menelan salivanya sendiri saat Kiki menanyakan pertanyaan yang tidak semestinya dia tanyakan. Sebab anak seusia Kiki tidak bakal mengerti apa yang menjadi masalah para orang dewasa. Tetapi mereka tadi melihatnya secara langsung jadi mereka pun ingin tahu apa yang terjadi dengan Rendra.


" Memangnya Kiki dan Koko tadi di mana kok bisa tahu kalau Om Rendra sedang marah - marah sama perempuan." Tanya Zainal ingin tahu darimana anaknya bisa tahu semuanya.


" tadi Kiki sama Koko lagi main di teras Pa, karena Tante itu tadi main ke rumah dulu dan ngobrol samaama sambil menunggu Om Rendra. Tapi setelah mereka marah-marah , Kiki sama Koko sama mama disuruh masuk kamar dan tidak boleh keluar kamar." Jawab Kiki bicara dengan jujur.


* Oh jadi tadi sebelum mereka ribut, Nadin sempat ke rumah dulu dan menunggu Rendra di sini ? Hemm pantas saja anak-anak bisa tahu. * Gumam Zainal dalam batinnya.


Adzan maghrib pun berkumandang Kiki dan Koko membereskan buku dan peralatan menggambarnya. Lalu mereka berlarian mengambil wudhu secara bergantian. Santi juga sudah selesai memasak makan malam dan juga akan mengambil wudhu. Semenjak mereka rujuk Santi dan Zainal sering melaksanakan sholat berjamaah dengan anak-anaknya.


Selesai melaksanakan sholat magrib berjamaah keluarga kecil Zainal berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


" Pa kok Om Bagas dari tadi tidak ada di rumah Pa?" Tanya Koko sebelum acara makan malamnya dimulai.


" Om Bagas tadi pagi kuliah dan pulang kuliahOm Bagas harus bekerja. Besok kan weekend pasti Om Bagas dirumah." Jawab Zainal.


" Kiki dan Koko sekarang makan malam dulu ya nanti kita lanjut lagi mengobrolnya."Ucap Santi dengan lembut mengajak kedua anaknya untuk makan malam terlebih dahulu, karena di piring mereka masing-masing sudah terhidang nasi beserta sayur dan lauk pauknya.


" Iya ma " Jawab Kiki dan Koko secara bersamaan.


Acara makan malam keluarga pun berlangsung, tidak ada suara yang mengobrol. Suasana santa hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.


**********


Mereka juga sedang makan malam bersama-sama. Orang tua Riko yang baru tiba di Indonesia tadi sore langsung pulang menuju rumah Anisa. Sebab mereka sudah tidak sabar ingin bertemu sang menantu yang saat ini sedang hamil.


" Kira-kira nanti dedeknya cewek apa cowok." Tanya Mama mertua Anisa dengan antusius.


" Belum tahu Ma, kemarin itu sudah sempat USG. Tapi dedek bayinya malu-malu, dia tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya. Tapi menurut dokter sepertinya laki-laki." Jawab Anisa sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter waktu itu.


" Cewek ataupun cowok sama saja yang penting sehat ."Tambah papa mertua Anisa.


" Aamiin" Ucap serempak semua anggot keluarga yang ada di meja makan.


Acara makan malam pun berlangsung secara ramai, sesekali mereka melemparkan canda dan tawanya. Anisa terlihat bahagia melihat kedua keluarga berkumpul dan tidak ada saling hujat dan rasa kebencian. Bahkan orang tua Riko yang Papanya seorang pengusaha dan mamanya mempunyai geng sosialita, sama sekali tidak membeda-bedakan saat berbaur dengan orang tua Anisa.


Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Malam ini orang tua Riko juga akan menginap di rumah Anisa, begitupun dengan kedua orang tua Anisa. Hanya Abimana dan anak istrinya yang akan pulang, sebab besok pagi mereka ada acara di sekolahan Cantika. Anak Abimana saat ini sudah masuk Pendidikan anak usia dini atau Paud.


" Tante kapan Dedek bayinya keluar ? Cantika kan mau main sama dedek bayi. Tapi dedek bayinya tidak mau keluar juga."Seru cantika sambil mengusap perut Anisa yang memang sudah membuncit.


" Dedek bayinya masih kecil sayang dan belum waktunya dia keluar. Nanti kalau sudah 9 bulan pasti dedek bayinya keluar. Tunggu perut tante gede segini dulu ya. " Seru Anisa sembari melengkungkan tangannya di depan perutnya.


" Harus besar segini dulu tante ? Apa perut tante tidak sakit ? Terus kenapa dedek bayinya ada diperut? Dia masuk lewat mana sih Tante?" Tanya Cantika dengan wajah polosnya.


Semua orang yang ada di ruang keluarga langsung menatap ke arah Cantika semuanya. Mereka ingin tertawa tetapi khawatir cantika akan menjadi ketakutan, sehingga mereka hanya menahan tawanya sembari menutup mulut pakai tangan.


" Coba cantika tanya sama Mama , dulu saat Cantika didalam perutnya mama dan perutnya mama sebesar ini sakit atau tidak? Dan tanya dede bayi masuk lewat mana?."Seru Anisa sambil melirik kakak iparnya agar mau menjelaskan kepada anaknya.


Cantika memang tipe anak jika bertanya selalu mendetail. Jika dia belum paham pasti dia akan terus bertanya sampai dia mendapatkan jawaban yang mudah dia mengerti. Sehingga membuat Anisa melemparkan pertanyaan Cantika tadi kepada kakak iparnya sendiri.


" Tidak sakit Cantika sayang, sebab wanita yang sedang hamil itu rasanya sangat luar biasa nikmatnya. Suatu saat nanti kalau Cantika sudah besar dan sudah menikah, Cantika akan tahu bagaimana rasanya wanita yang sedang mengandung. Jadi Cantika sekarang cukup tahu saja ya sayang, sudah jangan tanya lagi. Karena Cantika masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini. " Ucap Serena menjelaskan dengan lemah lembut.


Cantika pun mengangguk paham dengan apa yang dijelaskan oleh mamanya. Anisa yang mendengar penjelasan dari Serena hanya bisa menahan tawanya. Setelah itu Cantika sibuk dengan permainannya sendiri dan sudah tidak bertanya soal kehamilan.


" Sengaja kan kamu tadi melimpahkan pertanyaan Cantika sama mbak?" Seru Serena sambil pura-pura cemberut.


" Iya memang sengaja. Habisnya aku bingung mau jawab bagaimana mbak. Kalau mau bicara sama Cantika itu harus bisa putar otak dulu, sebab Cantika terlalu cerdas. Makanya aku langsung melimpahkan saja sama mbak Serena dan terbukti kan dia langsung diam dan menerima semua penjelasan mbak Serena. Mbak Serena memang hebat." Ucap Anisa sembari mengangkat dua jempol tangannya.


Serena pura-pura cemberut sambil melengos ke arah lain dan hal itu justru membuat Anisa tertawa. Anisa tahu jika kakak iparnya itu hanya pura-pura marah dan cemberut.


" Dulu sangat mbak Serena hamil itu ngidam apa sih atau makan apa gitu? Sehingga Cantika bisa secerdas itu?." Tanya Riko ingin tahu.


" Makannya yang biasa aja lagi, Riko. Masa iya makan makanan yang super-super, sama saja seperti apa yang dimakan Anisa. " Jwab Serena sambil terkekeh.


Para orang tua hanya mendengarkan yang muda-muda saja. Obrolan mereka sudah menjadi pengobat rindu mereka di kala masa kehamilan mereka dulu. Sedangkan Abimana hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Riko yang sama sekali tidak masuk akal.


" Kamu kira istriku saat hamil dulu makannya ponsel, laptop ,monitor terus makan mercon atau petasan begitu?" Tanya Abimana sambil tertawa.


" Iya tidak seperti itu juga kali Bi. Memangnya orang hamil itu makan seperti itu? " Seru Riko.


" Ya tidak dong " Jawab Abimana singkat dan berhasil membuat semuanya tertawa.


Suasana malam ini memang berbeda dari malam-malam biasanya, keluarga besar semua berkumpul dan saling bersenda gurau dan bercanda. Ditambah lagi dengan tingkah lucu Cantika yang berhasil membuat semua orang tertawa.