
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Setelah jam 3 sore, Zainal meminta Bagas untuk menjaga Rendra terlebih dahulu. Sebab Zainal ingin menjemput kedua anaknya yang saat ini sedang berada di rumah mertuanya sembari mengantar Santi pulang. Zainal berjanji selepas magrib akan kembali datang ke rumah sakit untuk bergantian dengan Bagas untuk menjaga Rendra.
Bagas tidak masalah, sebab Zainal memang juga mempunyai kewajiban terhadap anak dan istrinya. Berbeda dengan dirinya yang saat ini masih saja melajang, Bagas belum terfikir untuk mencari pendamping hidup.
" Sayang kamu mau ikut ke rumah bapak sekalian atau mau pulang dulu." Tanya Zainal dengan pandangan tetap lurus melihat kedepan, sebab saat ini Zainal sedang mengendarai mobil.
" Sepertinya ikut saja mas lagi pula kalau mas mau mengantar aku pulang terlebih dahulu harus bolak-balik dong. Tidak ada salahnya aku ikut menjemput anak-anak, lagi pula memang aku sudah lama aku tidak ke rumah ibu dan bapak." Jawab Santi memilih untuk ikut kerumah orang tuanya.
" Baiklah kalau begitu, nanti kita mampir minimarket terlebih dahulu ya. Tidak enak datang berkunjung ke rumah mertua, mas tidak membawa apa-apa."Seru Zainal sembari tersenyum.
" Iya Mas."Jawab Santi dengan singkat.
Santi sangat bersyukur sekali dengan perubahan Zainal yang benar-benar drastis. Dulu sebelum mereka bercerai, jangankan untuk membeli oleh-oleh untuk kedua orang tua Santi. Datang ke rumah orang tua Santi pun sangatlah jarang, belum tentu 3 bulan sekali Zainal mau berkunjung ke rumah mertuanya.
Mobil Zainal berbelok ke minimarket, dan turunlah Zainal sendirian masuk ke minimarket untuk membeli oleh-oleh yang akan dia bawa ke rumah mertuanya. Santi sengaja meminta untuk menunggu di mobil saja, sebab dia ingin beristirahat sejenak di dalam mobil.
Tidak menunggu waktu lama, Zainal pun sudah keluar dengan membawa dua kantong plastik putih yang berisi bermacam-macam kebutuhan dapur untuk kedua mertuanya. Tidak lupa Zainal juga membelikan jajanan untuk kedua anaknya.
" Banyak banget mas? Mas beli apa saja?."Tanya Santi saat melihat Zainal meletakkan dua kantong plastik di bagian belakang mobil.
" Tidak banyak kok sayang, hanya ada gula, teh, minyak sama kue-kue saja. Kalau itu diplastik yang agak kecil isinya makanan ringan atau jajanan untuk anak-anak. Bukannya jajanan anak-anak di rumah sudah habis kan?." Seru Zainal , sebab tadi pagi saat membuka kulkas jajanan sudah tidak ada.
" Oh iya jajanan anak-anak aku bawakan mereka saat mereka berangkat ke rumah bapak semalam. Ya sudah, yuk mas kita langsung menuju ke rumah bapak saja agar kita sampainya tidak terlalu sore. Dan kita bisa cepat pulang lagi. Kasihan Bagas, fia tidak ada teman untuk menunggu Rendra. Apalagi dia setiap malam pasti menginap di rumah sakit, kasihan juga dia juga perlu waktu untuk beristirahat. Mana dia sedang menyusun skripsinyakan?."Seru Santi lagi.
Akhirnya Zainal pun menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju menuju rumah mertuanya. Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Zainal dan Santi hanya diam saja. Zainal membiarkan Santi mengistirahatkan tubuhnya, Zainal hanya melirik ke arah Santi yang saat ini sudah tertidur sambil menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
Setelah hampir 1 jam perjalanan mobil Zainal sudah sampai di depan rumah mertuanya. Dan kedatangannya disambut oleh kedua anaknya yang saling berlarian untuk menghampiri Zainal dan Santi.
" Kok papa sudah jemput? Kiki sama adik kan mau menginap lagi. Kita belum puas ikut memanen ikannya." Seru Kiki memprotes kedatangan mama dan papanya.
" Iya sayang, tapi besok kalian harus sudah masuk sekolah. Terus kalau kalian menginap di sini sekolahnya bagaimana.?"Tanya Santi dengan lembut.
" Kata nenek sekolahnya bisa dari sini ma, tapi tidak ada baju sekolah. Tadi Kiki lupa mau telepon Mama untuk bawakan baju sekolah ke sini."Jawab Kiki dengan wajah cemberut.
" Loh ini kan papa bawa untuk kakek dan nenek, kenapa dimakan sama Kiki dan Koko?." Tanya Zainal dengan nada suara yang lembut.
" Tidak apa-apa Pa. Kata nenek kalau dirumah ini ada makanan, boleh di makan. Yang penting tidak dibuang-buang, mubadzir buang makanan. Kata nenek makananya nanti menangis." Jawab koko sembari mengunyah makanannya.
" Kiki, Koko pelan-pelan sayang. Nanti tersedak loh, kalau mulut sedang mengunyah makanan tidak boleh bicara."Seru ibu Santi yang baru datang dari dapur dengan membawakan segelas kopi hitam untuk Zainal.
Kedua anak Zainal dan Santi hanya menganggukkan kepalanya. Tidak menunggu lama , Bapak Santi yang baru mengantarkan ikan pesanan pelanngganpun sudah pukang. Zainal menyalami bapak mertuanya dengan ramah dan hormat.
" Zainal kenapa bawa-bawa seperti ini segala. Ini di warung Ibu juga ada kok, besok-besok kalau datang tidak perlu membawa barang-barang seperti ini. Uangnya lebih baik kalian tabungkan saja untuk biaya sekolah anak-anak kalian."Seru ibu mertua Zainal.
" Iya Bu tidak apa-apa lagi pula itu juga cuma sedikit kok Bu. Oh iya pak bagaimana panen ikan lelenya, apa belum selesai?."Tanya Zainal kepada bapak mertuanya.
" Tadi bapak hanya memanen 15 kilo saja Nal, pesanan dari pelanggan hanya segitum Bapak tidak mau memanen semuanya, salnya kalau dipanen semuanya tidak ada yang mau membelinya. Apalagi pasar sekarang memang sepi, jadi permintaan ikan pun berkurang. Makanya tadi Bapak cuma memanen 15 kilo saja dan dilanjut besok lagi."Jawab bapak mertua Zainal.
Zainal mengangguk paham dengan apa yang disampaikan oleh Bapak mertuanya. Dari dulu bapak mertuanya memang pekerja keras, dulu bertahun-tahun menjadi sopir pribadi sampai bisa membuka usaha warung sembako di rumah yang lumayan besar. Sekarang di saat dia sudah berhenti menjadi sopir, justru beternak ikan di belakang rumah yang hasilnya juga lumayan. Meskipun tidak berternak banyak, yang penting bapak mertua bisa mempunyai kesibukan.
" Kalian mau menjemput anak-anak?." Tanya bapak Santi.
" Iya pak, soalnya mereka besok harus sudah masuk sekolah dan kami juga tidak bisa berlama-lama Pak. Karena nanti selepas magrib, mas Zainal harus ke rumah sakit untuk bergantian dengan Bagas menjaga Rendra."Jawab Santi.
" Oh iya, Bagaimana kabarnya Rendra, Nal?. Maaf ya Zainal, bapak sama ibu belum sempat datang menjenguk Rendra. Bukan berarti Bapak tidak mau tetapi Bapak sama Ibu memang benar-benar sedang sibuk."Ucap mertua Zainal merasa tidak enak sebab selama Rendra di rumah sakit mereka sama sekali belum menjenguknya.
" Iya Pak Bu tidak apa-apa. lagi pula jika pun Bapak dan Ibu menjenguk Rendra Rendra juga belum bisa diajak komunikasi. Tapi hari ini Alhamdulillah dia sudah bisa membuka matanya dan berbicara meskipun suaranya pelan."Jawab Zainal.
Cukup lama Zainal berbincang - bincang dengan bapak mertuanya dan segelas kopi buatan Ibu mertuanya juga sudah habis. Zainal dan Santi meminta izin untuk pamit pulang, dengan terpaksa anak-anaknya juga ikut pulang sebab besok harus bersekolah.
Setelah berpamitan, Zainal dan keluarganya masuk ke mobil dan Zainal segera mengendarai mobil menjauh dari pekarangan rumah mertuanya. Baru juga 15 menit perjalanan, kedua anaknya sudah tertidur. Zainal dan Santi hanya saling melempar senyuman melihat kelakuan kedua anaknya.
" Kita mampir ke tempat pengisian bahan bakar dulu ya sayang."Seru Zainal kepada.
" Iya Mas."Jawab santai singkat.
Setelah menemukan tempat pengisian bahan bakar, Zainal membelokkan mobilnya dan masuk dalam antrian. Namun saat sedang mengantri bahan bakar, Zainal melihat seseorang yang sangat dia kenali sedang menjajakan barang dagangannya.
* Bukannya itu Anita? benar sekali itu Anita? Kenapa hidupnya jadi seperti itu, bukannya dulu kerja jadi pelayam cafe tapi kenapa sekarang jadi penjual roti? Dan kemana Pak Iwan, bukannya dia waktu itu hamil ? Apa dia sudah melahirkan?.* Gumam Zainal dalam batinnya dan bertanya beruntun tanpa tidak ada yang menjawabnya.
*************