
Setelah percakapan serius yang dilakukan Lina dan Dokter Ardi--sang suami, mereka pun memutuskan akan pulang hari itu juga. Karena banyak hal yang harus mereka urus di Jakarta.
"Terima kasih ya, Div! Sudah mau menampung Mbak di sini dan maaf sudah merepotkan kamu," ucap Lina pada Diva yang mengantarkannya sampai ke depan pagar di samping mobil yang sudah siap untuk berangkat.
"Sama-sama, Mbak. Nggak apa-apa, kita kan keluarga. Aku nggak merasa direpotkan, dan malah senang karena ada Mbak di sini aku jadi punya teman ngobrol," sahut Diva mengulas senyum.
"Kamu hati-hati ya di sini. Jaga diri baik-baik, oh ya ini Mbak ada sedikit uang buat jajan kamu." Lina menyodorkan amplop putih pada perempuan muda di hadapannya.
"Eh, apa ini? Nggak perlu, Mbak! Aku ikhlas kok bantuin," tolak Diva menggeleng.
"Nggak apa-apa. Ini uang jajan dari calon kakak ipar buat calon adik iparnya," ujar Lina terkekeh memaksa meletakkan amplop itu ke tangan Diva.
"Duh, sosweetnya Mbakku ini. Terima kasih ya, Mbak. Mbak juga jaga diri baik-baik, dan semoga dedek bayi nanti lahir dengan selamat dan kalian diberi kesehatan." Diva tak menolak lagi apa yang diberikan oleh Lina tadi.
"Mbak pamit ya, Div!" Lina memeluk erat Diva.
"Kalau libur mainlah kamu ke Jakarta, pintu rumah terbuka lebar untuk kamu."
"Tuh kan jadi mewek, Mbak!" ucap Diva mengusap sudut matanya yang berair setelah Lina melepaskan pelukan mereka.
Lina terkekeh melihatnya. Ia pun berjalan masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sang sopir yang dibawa oleh suaminya dari Jakarta sana. Lina melambaikan tangan pada Diva.
Dokter Ard pun ikut melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada Diva setelah mengucapkan terima kasih pada perempuan muda itu karena telah menjaga istrinya selama di Bandung.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan kontrakan Diva. Menuju jalan raya dan menghabiskan kurang lebih dua jam perjalanan. Selama perjalanan, Lina mengantuk, dan tertidur bersandar di bahu Dokter Ardi. Ketika mereka sampai di Jakarta, dan mobil terparkir di depan rumah, Mama Ria sudah menunggu gelisah di teras depan. Wabita baya itu langsung mendekati pintu mobil yang dibuka. Dokter Ardi yang keluar dengan menggendong Lina yang tertidur menimbulkan tanda tanya bagi Mamanya.
"Kenapa sama Lina?" tanya Mama Ria cemas.
"Cuma tidur, Ma. Ayo, masuk!" sahit Ardi sambil menggendong sang istri yang terlelap. Ia membawa Lina ke kamar mereka yang sudah ia minta pindahkan ke lantai bawah pada Bi Rumi.
"Beneran cuma tidur aja dia, Ar?" Mama Ria duduk di ujung ranjang di mana Lina dibaringkan oleh Ardi tadi.
"Iya, Ma. Cuma ketiduran aja tadi capek kayaknya di perjalanan. Mama nggak perlu khawatir!"
"Kalian sudah meluruskan semuanya, kan?"
"Kita bicara di luar saja ya, Ma!"
Mama Ria mengangguk. Berjalan keluar kamar mengikuti putranya. Mereka memilih ruang tamu untuk menjadi tempat ngobrol.
"Bagaimana kelanjutan hubungan kalian, Ar?" tanya Mama Ria tanpa basa basi. Dia terlalu penasaran dan juga harap-harap cemas.
"Kami sudah meluruskan semuanya, Ma. Kesalapahaman, prasangaka, dan juga perasaan kami sendiri. Kami akan memulai semuanya dengan benar dan belajar bersama membantu na rumah tangga ini," ucap Dokter Ardi mantap.
Mama Ria mengembuskan napas lega. Mengucap syukur atas berita baik yang dka dengar itu.
"Syukurlah. Mama minta maaf karena sudah membuat Lina tidak nyaman selama dia tinggal di sini, Ar! Mama hanya terlalu kecewa, tapi sekarang Mama sudah menerima Lina sebagai menantu di rumah ini."
"Semuanya butuh proses, Ma. Mama nggak salah, aku yang tidak bisa jujur dan malah ambil keputusan sendiri sehingga timbul kekacauan itu. Aku juga minta maaf belum bisa jadi anak yang berbakti," ucap Dokter Ardi berdiri dan menghampiri Mamanya. Memeluk wanita paruh baya yang telah membawanya ke dunia ini hingga kini ia dewasa.
Pintu kamar terbuka, yang membuat Lina langsung menoleh dan mengukir senyum simpul pada sosok pria yang mengenakan celana training hitam dan baju kaos berkerah itu.
"Sudah bangun, putri tidur?" tanya Dokter Ardi terkekeh, duduk di ujung ujung ranjang.
"Apaan sih! Namaku bukan putri tidur ya, Dokter Ardiansyah Yang Dimabuk Rindu!"
"Heh!" Doiter Ardi mencubit gemas hidung mungil istrinya yang sudah berani mengejeknya itu.
Lina tertawa nyaring karena berhasil mengejek sang suami. Dokter Ardi tidak tinggal diam, dia menggelitiki telapak kaki Lina yang membuat wanita itu memekik dengan kegelian.
"Sudah, Mas! Hahaha, sudah aduh! Perutku sakit!"
Dokter Ardi langsung menghentikan kegiatannya yang menggelitiki telapak kaki Lina, dan segera memeriksa perut buncit istr uji nya dengan cemas.
"Sakit gimana? Kamu mau melahirkan?" tanya Dokter Ardi cemas.
Lina menggeleng, masih berusaha menetralkan deru napasnya yang tadi tertawa. Ia beranjak dan mengambil posisi duduk, hinggal selimut yang tadi menutupi tubuhnya kini terjatuh sebatas pinggang.
"Nggak apa-apa, Mas. Tadi agak keram aja karena aku ketawanya," ujar Lina menenangkan sang suami.
Dokter Ardi menghela napas lega mendengar jawaban dari Lina. Ia terlalu khawatir tadi, takut terjadi apa-apa.
"Mandi sana! Setelah itu makan, kamu belum makan siang tadi," ucap Dokter Ardi membantu Lina turun dari ranjang.
Lina menurut. Dibantu masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintunya setelah sang suami keluar. Hampir sepuluh menit ia habiskan untuk membersihkan diri, dan kelyar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk karena ia lupa membawa pakaian tadi. Begitu keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sebatas paha, dan rambut basah tergelung handuk, netranya langsung bertatapan dengan netra Doiter Ardi yang duduk menunggunya duduk di sofa kamar.
"Ma--Mas masih di sini?" ujar Lina gugup.
Oh tentu saja. Selama ini biasanya dia selalu berganti pakaian di kamr mandi, dan biasanya juga pria itu tidak menungguinya selesai mandi seperti ini.
Lina langsung berjalan menuju lemari pakaian dengan degup jantung berdebar-debar di bawah tatapan dalam sang suami yang masih tak mengalihkan tatapan dai tubuhnya. Lina malu, pasti tubuhnya terlihat amat gendut di mata pria itu.
Sedangkan, Dokter Ardi sendiri menelan ludah sedari melihat wanita itu keluar hanya berbalut handuk. Tubuh putih mulus dan berisi Lina, tampak seksi di pandangannya. Kontan saja ia merasa kegerahan apalagi hormon testoteronnya meningkat pesat karena sudah lama ridak tersalurkan.
"Sial! Aku tegang hanya dengan memandanginya!"
Tanpa Ardi sadari, kakinya sudah melangkah mendekati sang istri yang berdiri di depan lemari memilih pakaian. Ia berdiri di belakang Lina, Ardi menghirup dalam aroma shampo dan sabun yang menguar dari tubuh istrinya.
"Kamu menggodaku, sayang!" bisiknya serak di samping telinga Lina.
Wanita itu kontan saja terkejut dan memekik, "Mas!"
Ciuman langsung dia dapatkan dari sang suami yang sudah mengurungnya di antara lemari dan tubuh besar pria itu sendiri. Lina tak menolak, dia menikmati sensasi ciuman lembut dan dalam yang suaminya itu berikan. Mereka saling menyalurkan perasaan lewat ciuman lembut itu.
...Bersambung.......