Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Mencintai Istri Orang


Hari-hari berasa tak berarti lagi bagi Ardi sejak insiden penolakan yang ia terima. Rasanya masih begitu sakit dan nyeri di dadanya. Lalu, sebulan kemudian ia malah mendapati fakta mengejutkan lainnya, yaitu Suster Kinar yang sedang berbelanja di supermarket bersama Dokter Radit dengan keadaan sedang mengandung. Rasanya pupus sudah harapan Dokter Ardi untuk membuat perempuan itu mau mengubah perasaannya.


"Suster Kinar!" panggil Dokter Ardi.


Perempuan itu baru saja keluar dari salah satu ruang vip, ketika ia memangglnya.


"Eh, iya. Ada yang bisa saya bantu, Dok?"


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dokter Ardi menilik wajah perempuan itu.


Suster Kinar mengangguk. Dokter Ardi pun menuntun jalan dengan berjalan lebih dulu diikuti Kinar di belakangnya. Mereka memilih taman rumah sakit yang asri untuk berbicara. Keduanya duduk di salah satu bangku kayu, dengan memisah jarak beberapa centi meter.


"Anda sudah menikah kan, Suster Kinar?" ucap Dokter Ardi tanpa menatap lawan bicaranya.


"Ba--bagaimana bisa Anda menyimpulkan seperti itu, Dokter Ardi?" tanya Suster Kinar tergagap.


Dokter Ardi tersenyum jumawa, "dan Anda juga sedang mengandung, kan?" tanya lelaki itu dengan netra mengarah pada perut Kinar yang jika diperhatikan di jarak dekat akan terlihat bukitan di perut itu.


Ardi memperhatikan wajah terkejut perempuan itu. Ia tersenyum miris di hati. Bagaimana bisa ia mencintai istri orang seperti ini? Benar-benar gila.


"Bagaimana bisa Dokter tahu?" tanya Suster Kinar.


"Saya tidak sengaja melihat Suster dan Dokter Radit ketika di supermarket sebulan yang lalu," jawab lelaki itu.


"Saya minta tolong agar Dokter tidak membocorkan semua yang Dokter tahu kepada siapapun," ujar Suster Kinar menangkupkan tangan di depan dada.


Lelaki itu menatap perempuan di sampingnya lekat. Mengangguk singkat akan apa yang diminta Suster Kinar.


"Saya akan merahasiakannya, tapi dengan satu syarat...."


"Syarat?"


"Jika Doktet Radit melepaskan Suster Kinar... Maka jangan pernah Suster menolak saya di saat itu nanti!" ucap lelaki itu sebelum bangkit dari temoat duduknya dari berlalu pergi.


Ya, setidaknya ia harus mulai move on dari perempuan itu. Namun, jika Dokter Ardit menyia-nyiakan perempuan sebaik Suster Kinar, maka ia siap untuk kembali merebut hati perempuan itu.


Hari pun terus berlalu sejak percakapan terakhir mereka itu. Setelahnya, ia hanya sesekali menyapa perempuan itu, menjaga batasannya. Dokter Ardi baru saja selesai memeriksa pasien dan berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong. Netranya menyusuri meja-meja kantin yang tampak lengang, dan berhenti pada sosok yang ia kenali.


"Suster Kinar!" Dokter Ardi menepuk pelan pundak perempuan itu.


"Ibu hamil tidak boleh bersedih, Sus!" ucap lelaki itu pelan.


Doktr Ardi menoleh pada arah tatapan Suster Kinar pada meja di ujung. Ia mengangguk paham melihat jika Ibu Sonia dan Dokter Ririn, yang tampak terlibat obrolan santai.


"Apakah selama ini kalian menyembunyikan pernikahan dari orang tua, Sus?"


Dokter Ardi mengangguk mengerti. Ia memperhatikan mendung di wajah perempuan di hadapannya. Ia berharap kebahagiaan untuk perempuan yang ia cintai itu, meski tak bisa memilikinya. Melihat wajah mendung Suster Kinar, membuatnya rasa-rasa ikut merasa sakit.


"Saya duluan, Dok!"


Suster Kinar berlalu meninggalkannya. Namun, belum jauh perempuan itu melangkah tubuhnya jatuh oleng, tapi Dokter Ardi segera menyambar tubuh itu sebelum jatuh ke lantai. Semua orang langsung panik dan mendekati mereka. Dokter Ardi menatap cemas pada noda merah yang mengalir lewat rok putih selutut Suster Kinar.


"Astaga, darahnya banyak banget, Dok!" Suara Ibu Sonia menyadarkan Dokter Ardi. Ia bangkit dan menggendong Suster Kinar untuk segera membawanya ke ruang darurat, tapi sosok Dokter Radit yang segera membuat semua orang menatap penuh tanya.


Dokter Ardi segera menyerahkan Suster Kinar ke gendongan Dokter Radit. Mereka mengikuti hingga sampai di ruang darurat. Hanya Dokter Radit yang dibolehkan masuk. Sedang, yang lain hanya bisa menunggu di luar.


"Dokter Ardi, sebaiknya Anda membersihkan diri dulu!" Lelaki itu menoleh pada Dokter Ririn yang ada di sampingnya.


Ia baru menyadari jika pakaiannya penuh noda darah. Dokter Ardi mengangguk, dan pamit undur diri. Lelaki itu memutuskan menuju ruangannya. Namun, lelaki itu memperlambat langkahnya saat samar-samar dia mendengarkan percakapan di ujung koridor.


"Eh, Lin! Menurutmu ada hubungan apa ya itu Suster Kinar sama Dokter Ardi dan Dokter Radit? Ganjen banget ih masa dua dokter itu dia gaet semua."


"Saya gak tahu, Mbak!" sahut suara yang familiar di telinga Dokter Ardi.


"Kamu kok mau saja sih dekat-dekat sama Suster Kinar itu, Lin. Hati-hati nanti kamu juga ikut ketularan ganjennya."


"Saya sebenarnya pernah lihat waktu Suster Kinar masuk ke ruangan Dokter Leni bersama Dokter Radit, tapi saya gak tahu apa hubungan mereka...."


"Jangan-jangan Suster Kinar hamil gara-gara godain Dokter Radit!"


Dokter Ardi menggeleng. Segera menampakkan dir nya yang tadi bersembunyi di balik dinding.


"Kalian suka sekali membicarakan keburukan orang lain, ya?" ucapnya yang mengejutkan dua orang perawat itu.


Dokter Ardi menatap tajam salah seorang perawat dengan name tag 'Shela' di bajunya. Lalu beralih pada Suster Lina yang menunduk.


"Kamu berteman dengan Suster Kinar, tapi malah menjelekkannya di belakang. Musuh dalam selimut berarti kamu, Suster Lina!" ujar Dokter Ardi dingin.


Setelahnya lelaki itu berlalu pergi. Menyisahkan keheningan di antara dua perawat tadi.


"Maafkan saya, Lin. Kamu jadi dituduh yang tidak-tidak oleh Dokter Ardi."


"Nggak apa-apa, Mbak!"


Ya, Suster Lina bisa apa kalau orang sudah menilainya begitu. Ia tidak ingin repot meluruskan persepsi orang padanya. Biarkan saja orang menilainya seperti apa.


...Bersambung.......


...Nah, kalian sudah mulai ketebak belum kemana kisah si dokter ganteng ini bermuara?...