Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) She Is Pregnant


Waktu berotasi tanpa disadari. Kini sudah dua bulan berlalu, tidak ada kemajuan pasti akan hubungan Dokter Ardi dan Suster Lina, tapi setidaknya lelaki itu sudah tidak lagi menunjukkan wajah sinisnya pada Lina, meski wajahnya masih berekspresi tidak tertebak.


"Lis, kamu agak berisi deh kayaknya," ucap Suster Shela pada Suster Lina ketika mereka menyusun obat-obatan yang akan diberikan pada pasien.


"Hah? Masa sih, Mbak?" sahut Suster Lina tanpa menoleh.


"Iya, serius."


"Memang lagi doyan makan sekarang, Mbak." Perempuan berambut pendek sebahu itu menyahut santai.


"Suster Lina!" panggil seseorang.


Suster Shela dan Suster Lina menoleh pada seseorang yang tadi memanggil.


"Iya. Ada apa, Suster Peni?" tanya Suster Lina menatap penuh rekannya.


"Kamu diminta Dokter Ardi ke ruangannya," sahut Suster Peni, setelahnya berlalu undur diri.


"Ada apa kamu disuruh ke sana, Lin? Kamu gak ngelakuin kesalahan yang bikin Dokter Ardi tambah gak suka sama kamu, kan?" tanya Suster Shela penuh selidik


Suster Lina menggeleng. Setelahnya segera menyelesaikan sisa pekerjaannya, dan pamit pada Suster Shela untuk menemui Dokter Ardi.


Suster Lina mengetuk pintu yang di depan pintu tersebut tertulis plang nama dr. Ardiansyah, Sp. An. Dua kali ketukan hingga ia mendengar suara dari dalam ruangan itu.


"Masuk!"


Perempuan itu membuka pintu, dan masuk ke dalam setelah menutup kembali pintunya.


"Ada apa Dokter memanggil saya?" tanya Suster Lina to the poin, berdiri di depan meja kerja sang dokter.


"Duduk dulu!" sahut Dokter Ardi santai.


Suster Lina menuruti. Kini, mereka duduk berhadapan, dengan meja kerja sang dokter yang memisahkan jarak.


"Kamu tahu kita sudah menikah, kan? Saya sudah urus surat pernikahan ke KUA. Minggu depan, saya akan menjemput kamu untuk bertemu Mama saya," ujar Dokter Ardi menjelaskan.


"Bertemu Mama Dokter?" gumam Suster Lina sedikit tidak percaya. Meski, dia pernah bertemu sapa dengan Ibu Maria, tapi ia tidak seakrab wanita baya itu dengan rekannya Suster Kinar.


"Kenapa?" tanya Dokter Ardi yang menangkap gelisah di raut wajah Suster Lina.


"Kamu tahu saya gak main-main dengan pernikahan ini. Meski ini diawali dengan kesalahan, saya bertanggung jawab atas kehormatanmu sebagai wanita. Maaf, jika nanti selama pernikahan ini saya belum bisa mencintai kamu. Biarkan waktu yang terus berjalan menjadikan saya nyaman dan rasa cinta itu kelak hadir. Jika tidak hadir juga, mungkin kita memang tidak berjodoh," lanjut Dokter Ardi dengan bijak dan tegas.


"Saya paham, Dok!" Suster Lina menunduk, menatap kedua tangannya yang berpangku.


"Panggil dengan sebutan 'Mas'! Saya berbicara sebagai suami kamu sekarang," ujar Dokter Ardi lagi.


Suster Lina mengangguk paham. Hening terjadi beberapa detik.


"Ehm, kalau sudah aku akan keluar," ucap Suster Lina berdiri.


"Sudah makan siang?" tanya Dokter Ardi ikut berdiri dari tempat duduknya.


"Eh, tapi nanti dilihatin orang-orang!" sahut Suster Lina cepat.


"Memang kenapa? Mereka gak ngasih makan perut kita. Jadi, berhenti merisaukan omongan orang, gak bakal ada habisnya, Lina!" Lelaki itu mendelik dengan dengusan kesal.


Pada akhirnya, Lina pasrah saja mengikuti langkah Dokter Ardi yang mengarah menuju parkiran.


"Kita makan di restaurant ujung jalan saja, bosan saya makanan di kantin," ucap lelaki itu sebelum mereka masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu melaju menuju jalananan.


Mereka memilih restaurant yang menyajikan makanan khas Indonesia. Tempat itu tampak ramai di jam makan siang seperti ini.


"Mau pesan apa?" tanya Deh kter Ardi ketika mereka sudah mendapatkan meja.


"Nasi putih lauk ayam geprek saja, Mas!"


Lelaki itu mengangguk. Lalu mengatakan pesanan mereka pada sabg waitres yang segera mencatat, dan kembali pergi. Tidak sampai lima menit, pesanan mereka diantar.


"Kenapa? Makanannya gak enak?" Dokter Ardi meneliti raut wajah perempuan di depannya yang tampak menahan sesuatu.


"Ng--nggak kok, Mas!" Suster Lina menyahut di sela desakan mualnya dan rasa ingin muntah yang bergejolak. Padahal dia sudah mengidamkan ayam geprek ini, tapi kenapa ketika sudah di hadapannya malah ia merasa mual.


"Ehm... Aku ke toilet dulu, Mas!" Suster Lina langsung berlalu dengan menutup mulutnya menuju toilet.


Dokter Ardi masih mengikuti kepergian Suster Lina dengan netranya. Lima menit kemudian, Suster Lina kembali dengan wajah yang sedikit pucat juga keringat dingin di pelipisnya. Rambut perempuan itu juga tampak basah, dan juga baju bagian kerahnya, terciprat air sehabis dia mencuci mulut tadi.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dokter Ardi yang sudah menandaskan makanannya.


"Masuk angin kayaknya," sahut Suster L na lesu, sambil mencari minyak kayu putih di sakunya.


"Makananmu masih banyak itu, habiskan!"


"Sudah kenyang, Mas!" Suster Lina menggeleng lesu. Mengendus-enduskan minyak kayu putih ke hidungnya, agar aroma ayam geprek di piringnya tak membuatnya kembali mual.


"Bungkus saja kalau begitu. Nanti bisa kamu bawa pulang dan kasih sama Viona atau Haikal."


Lina hanya mengangguk saja. Badannya lemas sekali sehabis memuntahkan semua makan siangnya yang hanya tiga suap nasi tadi.


Mereka kembali ke rumah sakit setelahnya. Dokter Ardi membantu Suster Lina dengan memegang bahu perempuan itu keluar dari mobil.


"Masih kuat jalannya? Izin pulang saja kalau memang gak enak badan? Atau mau saya periksa dulu?" ujar lelaki itu tampak cemas.


"Masih kuat. Mungkin istirahat sebentar di ruang khusus," sahut Suster Lina segera memisahkan diri dan memberi jarak dengan Dokter Ardi. Terlalu dekat seperti tadi membuat jantungnya berdebar kencang.


Suster Lina segera memutuskan untuk membeli beberapa benda pipih pendeteksi kehamilan di apotek yang tidak jauh dari rumah sakit ketika ia pulang kerja. Dia sudah telat hampir 2 bulan, dan Suster Lina merasa was-was jika benar kalau dia kini sedang berbadan dua. Semoga saja tidak, dia tidak ingin pernikahan yang belum bertemu titik muaranya ini harus dipertahankan hanya karena dirinya yang sedang hamil.


Namun, ternyata takdir tidak mau berpihak padanya kali ini. Saat benda pipih kecil itu menunjukkan dua garis merah, Lina hanya bisa mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia hamil? Hamil anak dari pria yang ia cintai, tapi pria itu tidak mencintainya. Bagaimana ini? Apakah ia harus memberitahukan pada Dokter Ardi atau merahasiakan saja kehamilannya, hingga mereka menemukan titik terang tujuan pernikahan ini?


...Bersambung.......


...Maaf, cuma bisa up satu bab seharinya karena kesibukan tertentu. Jadi, kalau yg minta crazy up sini kirimin buka puasa dulu, hehe V 😅...