Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Obrolan Malam


Radit mengetuk pintu kamar Kinar, tak lama setelah itu pintu dibukakan oleh sang pemiliknya. Radit masuk, dan Kinar menutup kembali pintunya.


"Kamu sakit lagi?" tanya Radit meneliti wajah Kinar.


"Gak kok, Mas!" sahut Kinar jujur. Ya, memang dia gak sakit, kan?


"Tapi Bi Isah bilang wajah kamu pucat banget tadi pagi. Kalau sakit biar kuperiksa dan minum obat," ucap Radit dengan nada khawatir di setiap ucapannya.


"Eh gak usah, Mas! Sudah minum paracetamol tadi," sahut Kinar cepat. Dia memang belum mengatakan mengenai kehamilannya kepada Dokter Radit. Dia butuh waktu yang pas dan memikirkan juga mengenai hubungan mereka ini, juga keseriusan lelaki itu.


"Beneran?" tanya Radit memastikan.


Kinar mengangguk. Radit pun tak lagi mendesak.


"Mas sudah makan? Tumben malam banget pulangnya?" tanya Kinar menatap wajah lelah Radit.


"Belum. Ada operasi mendadak habis maghrib tadi padahal mau segera pulang jam 7 tadi, tapi ya mau gimana kalau ada pasien yang butuh pertolongan," jawab Radit.


"Ya sudah ayo aku temani makan! Mas mandi dulu sana, sambil aku panasin lauknya," ucap Kinar mendorong Radit agar segera membersihkan diri di kamar mandi.


"Mas, bagaimana mengenai hubungan kita? Sudah ada jalan keluar? Tinggal dua minggu loh Mas sebelum acara pernikahan yang Ibu Sonia siapkan," ucap Kinar yang duduk di seberang meja makan menemani lelaki itu makan malam yang sudah terlewat.


"Tapi step pertama gak mungkin aku lakuin. Mama dan Papa akan menanggung malu jika aku melakukannya," lanjutnya lagi.


"Lalu aku?" tanya Kinar serak. Dia mana mungkin bisa melihat orang yang ia cintai bersanding dengan wanita lain di pelaminan.


"Kamu mau menunggu untuk dua bulan itu kan, Kin? Kumohon... Aku sudah tidak punya jalan keluar lain karena Mama sudah mendaftarkan pernikahan kami ke kantor," ucap Radit menggenggam tangan Kinar di atas meja.


"Lalu saat kalian menikah aku akan menjadi orang yang menyaksikannya, dan kalian akan tidur di kamar yang sama, Mas!" ucap Kinar dengan netra berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan suaminya tidur di ranjang yang sama dengan wanita lain.


"Ceraikan saja aku, Mas! Hiduplah bahagia dengan Lilis dan lupakan kisah kita, dan Alan akan aku berikan pada kalian," ucap Kinar dengan tercekat.


Radit menggeleng, "tidak, Kinar! Kamu tahu aku sudah pernah ditinggalkan oleh orang yang kucinta, dan aku tidak ingin mengulang kisah lama. Kumohon, pertahankan aku, Kinar! Percaya padaku, aku tidak akan menyentuh Lilis selama dua bulan itu, dan aku jamin hal itu!"


Kinar mengusap pipinya yang basah. Ini tidak mudah, tapi benar kata Radit, dia juga tidak sanggup melepaskan lelaki ini untuk orang lain. Perasaanya terlalu mendalam untuk lelaki di hadapannya itu.


"Baiklah. Dua bulan, Mas! Jika kamu tidak bisa maka maaf aku akan memilih pergi," sahut Kinar akhirnya.


Radit bisa bernapas sedikit lega. Ini tidak mudah bagi merek. Mamanya, kenapa bisa merencanakan hal sebegitu rumit ini. Papanya juga tidak bisa membantunya. Dia sungguh benci sikap Mamanya yang begitu keras kepala dan seenaknya seperti ini. Namun, untuk marah Radit tak kuasa pada wanita yang telah melahirkannya itu. Dia hanya sanggup berdoa semoga Mamanya membatalkan pernikahannya, dan Radit akan menyusun rencana juga untuk membalas Mamanya itu. Mana tega dia membuat sang istri menunggu selama dua bulan, dan ia juga tak akan sanggup membuat sendu kembali netra cantik wanita yang ia cintai. Katakanlah bahwa kini tingkat dirinya dalam mencintai seseorang sudah naik beberapa level. Jika dulu, saat ia menjalin hubungan dengan Ririn dirinya masih suka cuek dan bertampang datar, beda jika dia dengan Kinar. Dia tak segan-segan menghilangkan raut datar dan kecuekannya selama ini. Dia akan berwajah datar jika di hadapan orang lain saja.


...Bersambung.......