
"Mbak, ayo masuk ke dalam! Ini mau maghrib loh, ibu hamil gak boleh keluyuran. Nanti Mas Radit juga bentar lagi pulang Mbak dimarahin kalau masih keluyuran gini," ucap Bi Isah menyuruh Kinar yang masih duduk anteng memandangi pingnguin peliharaannya. Sedangkan, si Bapak yang dipekerjakan untuk mengurusi hewan itu hanya terkekeh melihat Kinar yang tak juga mau beranjak.
"Bentar, Bi. Masih pengen lihatin pingnguinnya," sahut Kinar tanpa mengalihkan pandangan.
"Lihatin pingnguinnya besok lagi ya, Mbak! Sekarang ayo masuk, Mas Radit pul--"
"Kinar!" Suara itu milik Dokter Radit.
Kinar segera menoleh, dan mendapati pria itu yang berdiri menjulang di samping kursinya dengan tangan bersedekap.
"Eh, Mas sudah pulang, ya!" kekeh Kinar salah tingkah karena tepergok sang suami.
"Belum, masih di rumah sakit!" sahut Radit dengan netra memicing.
"Dih, judes banget. Yuk, masuk, Mas!" Kinar bangkit dari tempat duduknya dibantu Bi Isah yang memegangi tangannya.
"Ngapain masuk? Katanya mau di sini saja sama si pingnguinmu itu. Ya sudah di sini saja sampai si nyi kun dan kawan-kawannya ngelilingin kamu," ucap Radit dalam mode santai.
"Mas, kok nakutin sih?" sahut Kinar tiba-tiba merinding.
"Gak nakutin. Memang kalau maghrib seneng-senegnya mereka menampakkan diri. Kalau kamu masih mau di sini silahkan saja berteman sama mereka," sahut Radit dan berbalik menuju pintu masuk.
"Ih, gak mau. Mas, tungguin!" Kinar dibantu Bi Isah berjalan menyusul Radit yang sudah masuk ke dalam rumah.
Malam telah datang. Kinar dan Radit pun sudah bersiap tidur di peraduan mereka.
"Mas, kenapa?" tanya Kinar melihat sang suami melamun dengan memperhatikan cincin di jari manisnya.
"Aku merasa bersalah denganmu di awal-awal pertemuan kita. Begitu cuek juga dingin terhadapmu. Maafkan aku, Kinar! Jika tidak ada kamu datang di kehidupanku, mungkin saat ini aku tak akan pernah lagi merasakan perasaan menggebu di dada ini." Radit mengelus puncak kepala Kinar yang bersandar di dadanya, sesekali memberikan kecupan sayang di pucuk kepala sang istri.
"Tegur aku jika aku melakukan kesalahan ya, Bunda!" ucap Radit dengan menjawil gemas hidung Kinar.
"Tegur Bunda juga kalau ngidamnya kelewatan ya, Ayah!" sahut Kinar dengan kekehan usil.
"Gak mau! Selagi aku mampu dan bisa aku akan usahakan memberikan yang kamu inginkan, sayang!"
"Ah, manisnya suamiku!" ledek Kinar menjauhkan kepalaya dari dada sang suami.
"Malah ngeledek!" Radit mendengus pura-pura kesal.
"Hehehe. Sekarang freerezernya sudah gak dingin lagi, kan?" kekeh Kinar.
"Awas kamu, ya! Sini, Mas mau hukum kamu!" ucao Radit merangkuk pinggang Kinar.
"Gak mau! Aku tahu banget ya otak licik Mas itu. Aku mau tidur di kamar Alan sa--"
"Mas!" pekik Kinar karena Radit sudah membawanya berbaring.
"Siapa bilang kamu bisa kabur, hem?" Radit menyelipkan anak rambut yang menutipi sebagian wajah istrinya.
"Boleh kan, sayang!" bisiknya mesra.
Kinar mengangguk dengan pipi bersemu. Dasar pengantin lama rasa baru mereka ini. Masih saja suka malu-malu meong.
"Pelan-pelan ya, Ayah! Nanti dedek kegencet!"
...Bersambung.... ...