Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Mengaku Hamil


Kinar sedang sarapan sendiri lagi hari ini. Dia sengaja untuk menghindari orang tua Dokter Radit, dan lelaki itu sendiri. Dia tidak ingin wajah sendunya ini diperhatikan oleh orang-orang itu.


"Huek!" Kinar langsung menuju kakar mandi di dapur saat desakan mual itu ia rasakan. Suasana hati yang buruk ternyata juga membuat perutnya mual.


"Mbak Kinar, kenapa? Sakit?" Bi Isah yang saat itu ada di dapur menghampiri Kinar yang masih mencoba memuntahkan isi perutnya di wastafel.


"Nggak, Bi! Minta tolong buatin teh madu saja, boleh?" sahut Kinar lirih.


Bi Isah mengangguk.


"Ya sudah saya buatin dulu tehnya, Mbak. Beneran gak perlu panggil dokter?" tanyanya cemas.


Kinar menggeleng. Bi Isah pun keluar dari kamar mandi, dan membuatkan teh madu yang diminta Kinar.


"Kok ramai banget, Bi. Ada acara apa?" tanya Kinar saat dia selesai dengan urusan muntah-muntahnya di kamar mandi.


"Oh, itu. Tim WO yang mau dekor ruangan buat acara pernikahan Mas Radit minggu depan, Mbak." Bi Noni yang baru saja mengantarkan minuman menjawab pertanyaan Kinar yang berdiri di ujung tangga.


Kinar mengangguk. Dirinya lupa, jika tinggal hitungan hari lagi sebelum acara pernikahan Radit dan Lilis. Dia harus bertindak, setidaknya dia harus mencoba mungkin saja ini berhasil.


"Maaf, Bu! Bisa kita bicara?" Kinar menghampiri Ibu Sonia yang sedang mengawasi orang-orang wo yang sedang mengatur dekor.


"Oh tentu. Ayo kita ke ruang tengah saja. Septi, saya tinggal ya!" sahut Ibu Sonia, sambil memanggil si ketua wo.


Perempuan bernama Septi hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban. Kinar pun membuntuti langkah Ibu Sonia yang menuju ruang tengah.


"Mau bicara apa, Kin?" tanya Ibu Sonia ketika mereka sudah duduk berhadapan.


Kinar menyodokan benda kecil yang dari tadi ia genggam. Ia letakkan benda itu di atas meja dan mendorongnya mendekat pada Ibu Sonia.


"Kamu hamil?" tanya Ibu Sonia sedikit kaget, memegang testpack milik Kinar itu.


"Terus apa maksudnya kamu memberitahu saya ini?" tanya Ibu Sonia setelah menguasai keadaan. Dia hampir saja keceplosan dan berteriak riang menghampiri Kinar, dan lupa jika sekarang dia sedang menjalankan rencana.


"Saya mohon Ibu batalkan pernikahan Mas Radit karena saya sedang mengandung anak keduanya," ucap Kinar menunduk, tak berani bertatapan dengan netra Ibu Sonia.


"Ya ampun, Kinar! Ya gak bisalah! Berkas pernikahan sudah diurus, catering sudah dipesan, undangan juga sudah disebar, dan wo juga sudah urus pendekoran ruangan," sahut Ibu Sonia santai. Ia mengulum senyum merasa bangga pada diri sendiri yang bisa berakting begitu baik. Sepertinya dia berbakat jadi pemain sinetron, haha.


"Ibu, tidakkah Ibu tega membiarkan saya melihat pernikahan suami saya sendiri?" Kinar mengangkat pandangan, menatap memelas Ibu Sonia yang berwajah datar.


"Kinar, kamu harus belajar ikhlas sekarang. Tidak semua yang telah direncanakan sesuai dengan keinginan kalian!"


"Bu!" Kinar berucap serak. Air matanya meluncur turun membasahi pipi putihnya.


"Tidak bisa, Kinar!" Ibu Sonia menggeleng.


Ibu Sonia yang tidak tega melihat Kinar yang menangis tergugu pun mendekatinya dan duduk di sofa samping Kinar. Dia memeluk wanita itu dan mengusap punggung bergetar Kinar yang menangis bertambah kencang.


"Sssttt! Sudah dong, Kinar! Nanti dikira saya ngapa-ngapin kamu lagi. Ibu hamil gak boleh banyak nangis loh, nanti dedek bayinya cengeng waktu lahir," ucap Ibu Sonia menenangkan.


Bukannya berhenti menangis, tangis Kinar malah bertambah kencang. Dia meluapkan perasaan sesaknya beberapa hari ini di pelukan wanita baya itu. Oh, dia jadi rindu Ibunya. Biarkan dia merasakan sejenak pelukan seorang Ibj yang begitu hangat ini.


"Ka--kan Ibu me--memang ngapa-ngapain saya," ucap Kinar dengan terbata-bata.


Ibu Sonia tak menyahut lagi. Tetap mengusap punggung dan puncak kepala Kinar bergantian, menenangkan si ibu hamil yang sedang termehek-mehek itu.


"Hadeh! Ibu hamil dan hormonnya!"


...Bersambung.......


Hadiah sama votenya mana ini? Itu yang lupa like minta dikasih cinta kayaknya 😴