
Setelah hampir lima hari sakit, Dokter Ardi memutuskan kembali untuk membujuk Haikal agar mau membuka suara akan keberadaan Lina. Sejak dua bulan ia mendapatkan beberapa pukulan dari Haikal karena pemuda itu menganggap jika Ardi yang telah menyakiti Kakaknya dan membuat Kakaknya pergi.
Ardi segera turun dari mobilnya ketika melihat Haikal hendak naik ke jok motornya. Ia berjalan mendekat ke arah Haikal yang belum menyadari kehadirannya.
"Haikal!" panggilnya.
Pemuda yang sedang memasang helm di kepalanya itu menoleh. Tatapan tajam langsung Ardi dapatkan dari adik iparnya itu.
"Mau apalagi Mas Ardi ke sini? Kalian sudah tidak ada hubungan lagi. Berhenti mengganggu kehidupan Mbak Lina!" ucap Haikal kasar.
"Siapa bilang kami tidak ada hubungan lagi. Kami masih suami istri, dan Lina juga sedang mengandung anak kami."
Haikal mendengus akan jawaban Dokter Ardi.
"Kalau Mas Ardi masih bersikap egois dan mau menang sendiri seperti ini wajar kalau Mbak Lina meminta pisah dari Mas Ardi," ujar Haikal dengan dengusan mengejek.
"Haikal, maaf! Tolong, katakan kemana Lina pergi!" Dokter Ardi akhirnya memilih jalur terakhir, memohon. Ya, dia harus menurunkan sedikit harga dirinya di depan adik iparnya jika ia ingin kembali pada istrinya.
"Untuk apa? Surat cerai kalian akan aku kirim dua bulan ke depan. Mas Ardi gak perlu risau, cukup diam saja dan menandatanganinya." Haikal hendak menstarter motornya, tapi Dokter Ardi menahannya.
"Haikal!" Dokter Ardi menatap memohon.
"Mas nggak mau cerai dari Mbakmu! Mas.... " Dokter Ardi tak bisa menyelesaikan uacapannya.
"Apa? Mas cuma ingin anak yang dikandung Mbak Lina, 'kan? Tenang, Mas Ardi bisa dapatkan anak itu setelah Mbak Lina melahirkannya nanti," sahut Haikal sinis.
"Mas menginginkan Mbakmu, bukan hanya anak yang dia kandung. Nggak tahu kapan perasaan rindu dan cinta ini berkembang di dalam hati, tapi sekarang Mas menyadarinya. Mengingat Mbakmu yang tidak ada di samping Mas, rasanya ada yang sesak di dada...."
Haikal kembali mendengus.
"Terlambat, Mas! Mbak Lina yang sudah tidak menginginkan Mas lagi."
Dokter Ardi menggeleng. Menolak apa yang dikatakan Haikal akan Lina yang tidak menginginkannya lagi.
"Haikal, tolong... Beritahu Mas dimana dia berada, dan Mas akan berusaha sendiri. Kalau memang dia sudah tidak menginginkan Mas lagi... Mas akan menuruti apa yang membuatnya bahagia," ujar Dokter Ardi terbata. Tidak rela jika memang dia sudah terlambat dan ternyata Lina sudah menemukan tambatan hati lain.
"Huh! Mas tahu? Mbak Lina sudah banyak merasakan pahitnya kehidupan ini, sejak usianya belasan tahun dia sudah harus berjualan untuk mengisi perut kami sejak kepergian orang tua kami. Jadi, aku mohon Mas berhenti menyakiti perasaannya!" Haikal akhirnya tidak tega juga. Ia tahu di kota jauh sana, Kakaknya juga merasakan perasaan rindu dan cinta yang sama pada lelaki di depannya ini. Diva selalu mengabarkan keadaan dan apa yang sedang Kakaknya lakukan.
"Mas akan usahakan dan membuatnya bahagia, Kal!" ujar Dokter Ardi dengan janji penuh tekad.
"Baiklah. Sekarang Mas pulang dan berbenah diri, alamat Mbak Lina akan kukirim via whatsaap nanti. Mbak Lina nggak akan suka kalau lihat wajah pucat dan jenggot di dagu Mas itu!" ucap Haikal datar.
Dokter Ardi mengembangkam senyum penuh kelegaan.
"Terima kasih, Kal! Terima kasih banyak. Kalau begitu Mas pamit, ya!"
Haikal mengangguk. Dokter Ardi pun berlalu masuk ke dalam pajero hitamnya dan menjalankan kendaraan itu menuju pulang. Ia sudah hampir seminggu mengambil jatah cutinya. Ingin mengistirahatkan diri dan menjemput pulang wanita yang tanpa sadar sudah merasuk ke dalam relung jiwanya. Semoga niat baiknya ini bisa membuat Lina mau kembali dan memulai kisah baru bersamanya. Membayangkan hal itu, entah kenapa selalu saja degup jantungnya berdetak cepat. Ardi rasa, dia memang sudah jatuh hati pada wanita itu.
...Bersambung.......