
...Biar kalian gak kecewa² banget sama kisah si Lilis, dah ini aku kasih dulu lah bab Lilisnya, padahal ini mau aku bawa ke lapak lain, tapi udshlah aku kasih satu bab saja dari kisah si Lilis ...
Aku si dosen berwajah jutek, itu menurut para mahasiswaku. Kenalkan, perempuan berusia 28 tahun ini masih jomblo hingga sekarang. Pernah menyukai teman sepermainannya si Dokter Raditya Putra Al-Ghifari, tapi itu dulu. Lalu, beranjak usia ke-17 tahun ia menyukai Narendra Pramudia--kakak kelasnya si ketua OSIS tampan dan murah senyum, tapi cintanya ditolak saat ia menyatakan perasaan. Lalu, di usia ke--22 tahun ia menyukai sang ketua BEM di kampusnya, tapi karena satu kesalahan kecil yang ia buat membuat si Novan Andreas selalu menatap tajam dirinya apabila mereka berpapasan. Hingga, kini usianya ke-28 dia masih menyimpan perasaan itu pada seorang Novan Andreas. Sayang, hingga 5 tahun ini dia tidak pernah lagi mendengar kabar tentang lelaki itu.
Hingga Mamanya yang ngebet sekali menginginkan dirinya segera menikah menutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang dokter spesialis anestesi, Dokter Ardiansyah, Sp. An. Semuanya lancar-lancar saja pada mulanya, acara pertunangan, kencan malam minggu mereka, hingga sampai persiapan pernikahan. Namun, pada akhirnya pernikahan itu batal juga karena Dokter Ardiansyah yang memutuskannya, ya kalau Lilis sendiri sih gak merasa sakit hati, cuma ya lebih kepada kecewa. Sayang aja gitu, sudah keluar modal banyak, dan semua sudah rampung juga, tapi malah batal nikah. Ya, urusan hati memang gak bisa dipaksakan sih. Lilis sendiri juga gak bisa bohong kalau dia masih berharap kembali dipertemukan dengan Novan Andreas, si lelaki yang namanya selalu dia sebut dalam doanya.
Ternyata, takdir menjawabnya. Sebulan setelah batalnya pernikahannya, dan telinganya yang sudah kebal akan gosip miring tentang kenapa pernikahannya bisa batal, dia dipertemukan dengan Novan Andreas di sebuah acara seminar. Lelaki itu tidak melihatnya, tapi Lilis nelihatnya. Lelaki berkulit putih itu tampak matang dengan stelan jas hitam dan celana bahan senada.
"Ya ampun, ganteng banget kan, Lis? Itu Pak Novan!" ucap Ibu Ambar rekan dosennya.
Lilis hanya mengangguk. Tidak mengalihkan pandangannya dari sosok yang sedang berbicara di atas podium itu. Aura tegas dan pemimpin itu memang sudah melekat di diri Novan Andreas. Diam-diam Lilis mengulum senyum ketika lelaki di atas podium itu sedikit bergurau.
"Astaga, bisa ngelawak juga dia, Lis? Kalau belum menikah saya mau jodohinlah sama anak saya," ucap Ibu Ambar lagi, yang kali ini Lilis tolehi.
"Enak saja! Ini jodoh saya, Bu! Gak boleh ditikung, semoga saja kamu masih lajang ya, Mas!"
Akhirnya, acara seminar itu selesai dua jam kemudian. Semua peserta seminar sudah mulai keluar dari ruangan itu. Lilis segera berjalan menuju sosok Novan yang sedang berbincang bersama para tamu lain. Lilis tahu dia nekat, tapi bmumpung ada kesempatan.
"Mas Novan!" panggil Lilis ketika sosok itu hendak berlalu bersama seorang lelaki yang mengikutinya di belakang.
Lilis mengepal genggamannya yang ada di sisi tubuh, menarik napas dan menghembuskannya.
"Maaf, kamu siapa? Apakah kita kenal?"
Oh, dan kalimat yang lelaki itu keluarkan membuat semua kata yang sudah Lilis susun jadi berantakan. Dia mendelik sedikit kesal, masa si Novan gak kenal dirinya, sih!
"Mas Novan gak inget saya?" tanya Lilis sedikit sangsi.
Gelengan lelaki itu membuat Lilis menunjukkan wajah kecewa, tapi ia segera kembali ceria. Perempuan itu berdiri lebih dekat hingga mereka hanya berjarak beberapa centi meter. Lilis sedikit berjinjit, dan mendektakan kepalanya di telinga Novan Andreas lalu berbisik pelan.
"****** ***** warna pink!"
...Bersambung.... ...
...Gimana-gimana? penasarankan? ok, bab berikutnya kita kembali ke dokter ardi....