Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Pak Dokter Patah Hati


Ardi menysuri koridor dan berhenti di depan pintu bertuliskan vip. Ia membuka pintu itu dan langsung mendapati sosok yang ia kenal sedang membereskan peralatan makanan di atas troli dororng.


"Loh, Suster Kinar?" Dokter Ardi berucap setengah kaget mendapati perempuan yang ia sukai ada di ruangan Ibunya.


Perempuan itu menoleh dan melempar senyum manisnya pada Dokter Ardi. Lelaki itu menahan debaran di dadanya dengan mengepal sebelah tangannya karena mendapatkan senyuman manis dari suster cantik itu.


"Wah jadi perempuan cantik yang selalu Mama bilang itu ini?" ucap Dokter Ardi mendekati brankar Mamanya.


Mamanya tersenyum penuh arti. Dokter Ardi menggeleng paham akan rencana di kepala Mamanya.


"Benar. Cantik kan,  Ar?" tanya Mamanya dengan senyum yang begitu lebar.


"Wah, Mama kalau yang ini gak usah ditanya. Berasa lihat bidadari yang turun dari langit!" sahut lelaki itu dengan senyum tertahan.


"Dokter Ardi berlebihan," sahut Suster Kinar menunduk.


"Gimana, Sus? Anak saya ganteng, kan?" tanya Ibu Maria lagi pada Kinar yang telah menyelesaikan tugasnya dengan piring bekas makan pasiennya.


Ardi ikut menoleh menantikan jawaban perempuan itu. Ia juga penasaran akan pendapat sang pujaan hatinya itu.


"Eh! Jadi Dokter Ardi ini anaknya Ibu Maria?" tanya Kinar balik.


"Iya,  ini Mama saya, Sus. Terima kasih loh sudah merawat Mama saya dengan baik," sahut Ardi dengan senyum tulusnya.


"Itu sudah tugas saya, Dokter."


Dokter Ardi mengangguk. Lalu ide brilian tiba-tiba muncul di kepalanya, membuat ia bersemangat.


"Makan siang bareng saya yuk, sus?" ajaknya.


"Eh!"


Suster Kinar menampilkan wajah kagetnya yang tampak menggemaskan bagi Dokter Ardi.


"Sudah... makan sana sama anak saya,  Sus! Hitung-hitung pendekatan," ucap Ibu Maria dengan senyum menggoda. Ardi melempar senyum senang akan bantuan Mamanya itu.


Lalu anggukan dari Suster Kinar membuat Ardi bersorak senang dalam hati. Mereka pun berjalan berdampingan menuju kantin rumah sakit.


"Suster kinar sudah punya pacar?" tanya Dokter Ardi tanpa basa-basi.


"Uhuk!"


"Minum dulu, Sus!" Ardi langsung menyodorkan air minum milik perempuan itu.


Lalu keheningan terjadi beberapa saat.


"Maaf, kalau petanyaan saya tadi lancang!" ucap Dokter Ardi memulai kembali obrolan.


Perempuan di depannya masih menunduk tanpa suara. Dokter Ardi mengangguk paham, mungkin perempuan itu masih terlalu shock akan pengakuan tiba-tibanya.


"Ah, suster tak perlu menjawabnya sekarang. Saya akan menunggu jawabannya seminggu lagi," ucap Dokter Ardi lagi.


"Tidak, dok!" sahut Suster Kinar cepat.


Kini Suster Kinar mengangkat kepalanya, menatap wajah rupawan Dokter muda di depannya.


"Saya akan menjawabnya sekarang!"


"Oh, baiklah." Dokter Ardi mengangguk, dengan senyum tipis. Lelaki itu menanti dengan jantung berdebar.


"Saya menghargai perasaan Dokter Ardi, tapi saya tidak bisa berbohong dengan perasaan saya hanya untuk menyenangkan dokter, bukan?" ucap Suster Kinar hati-hati.


Dokter Ardi mengangguk singkat. Wajah lelaki itu tampak mulai murung, karena ia tahu akan jawaban dari perasaannya. Ah, konsekuensi dari mencintai berarti ia sudah siap juga untuk patah hati.


"Saya mengagumi sikap ramah dokter,  tapi hal itu bukan membuat perasaan saya juga sama dengan perasaan yang dokter miliki. Maaf... saya tidak bisa membalas perasaan yang dokter miliki," ucap Suster Kinar menatap tak enak lelaki di hadapannya.


Dokter Ardi tertawa kecil yang tampak dipaksakan.


"Ah, saya baru saja ditolak ini, Sus? Kok rasanya ada yang  nyeri ya?" ujarnya terkekeh miris.


"Maafkan saya, Dokter!" sahut Suster Kinar menunduk.


Dokter Ardi mengangguk paham.


"Ah, tidak apa-apa! Lebih baik saya ditolak lebih dulu dari pada saya nantinya terus berharap karena tidak mengakui perasan saya lebih awal, dan saya menghargai kejujuran Suster Kinar.


Dokter Ardi tampak sudah kembali bersikap ramah. Lelaki itu menyembunyikan kekecewaannya dengan baik.


"Terima kasih sudah menemani saya makan, Suster Kinar. Tolong jangan jadikan beban atas pengungkapan perasaan saya, ya!"


"Sekali lagi saya mohon maaf, Dokter Ardi!"


"Tidak apa-apa! Saya paham kok kalau perasaan memang tidak bisa dipaksakan," ucap lelaki itu maklum.


"Saya duluan ya, Sus! Oh, ya makanannya sudah saya bayar."


Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Suster Kinar. Wajah yang tadi tersenyum pada Suster Kinar, kini sudah menunjukkan raut sedihnya. Netra lelaki itu berkaca-kaca dengan nyeri yang menusuk di dadanya. Kenapa sih patah hati begitu semenyedihkan ini? Kalau tahu akan sesakit ini, ia mungkin tak akan mau menyelam lebih dalam, tapi ini sudah terlanjur tenggelam. Perasaannya kini sudah tak karuan lagi. Entah bagaimana hari esok ia bisa menghadapi perempuan itu karena perasaannya yang tertolak.


...Bersambung.......


...Kalau ada typo kasih tahu ya gaesss...