
Kinar baru saja selesai menunaikan sholat Isya setelah menidurkan Alan. Dia hendak membaringkan tubuh, saat tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.
"Dokter Radit, apa yang dokter lakukan di sini?" tanya Kinar kaget, berdiri di samping ranjangnya.
"Dokter lagi?" Lelaki itu memicingkan mata.
Kinar mendengus kesal.
"Kata Mama kamu sakit. Masih pusing kepalanya?" tanya lelaki itu perhatian.
"Jangan sok perhatian, Dok. Bersikap saja dingin seperti biasanya. Saya sudah terbiasa kok," sahut Kinar ketus.
"Kinar!" Radit menegur. Tidak suka akan nada ketus dari suara wanita itu.
"Keluar, Dok! Nanti ada yang lihat dokter di sini. Keluar sekarang!" ucap Kinar menunjuk pintu yang sudah tertutup.
"Pintunya ku kunci, dan kuncinya sudah kulempar keluar tadi," ucap Dokter Radit santai.
Kinar melotot tajam, memaki lelaki itu dalam hati.
"Dokter Radit, apa-apain sih? Apa maumu?" Kinar menggeram marah, mengunuskan tatapan kesalnya pada Dokter Radit yang berdiri santai di dekat pintu kamar.
"Aku mau minta maaf. Sekarang jantung ini selalu berdebar setiap mengingat dan berdekatan denganmu, Kinar. Maukah kamu kembali merajut kisah bersamaku juga Alan?" ucap Dokter Radit dengan nada lembut. Lelaki itu berjalan mendekat, hingga kini mereka hanya berjarak satu meter.
"Hahaha jangan bercanda, Dok! Dokter sendiri yang bilang tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu, sekarang kenapa malah menggombal receh yang begitu memuakkan," sahut Kinar dengan mengejek. Dia tidak suka lelaki itu menggombal, rasanya kok menggelikan.
"Kinar, saya serius?" ucap Radit tegas.
"Hah, benarkah? Saya juga serius gak mau lagi dipermainin sama Dokter," ucap Kinar cuek. Menyedekapkan kedua tangannya, dengan pandangan menghindari tatapan Dokter Radit.
"Aku akan membicarakan hubungan kita pada orang tuaku, dan meresmikan pernikahan kita, Kinar. Aku tahu kamu masih marah, tapi aku akan bilang pada orang tuaku agar segera meresmikan pernikahan kita, demi Alan yang semakin bertambah usia," ucap Radit lagi.
"Kalau dokter bisa buktiin keseriusan dokter dan melupakan masa lalu, saya akan mempertimbangkan semua omongan dokter, tapi jika tidak... Maaf saja saya akan pergi dari rumah ini setelah usia Alan satu tahun. Sesuai seperti kesepakatan di awal, bahwa saya bebas setelah memberikan dokter keturunan," sahut Kinar akhirnya. Memberikan pandangan serius pada Dokter Radit.
"Ok, kita bisa saling pegang omongan masing-masing. Kamu yang gak lagi menghindariku, dan aku yang akan berusaha merebut kembali hatimu, dan mendapatkan maafmu," ucap Radit dengan senyuman lega.
Kinar mengangguk, setelahnya dia menunjuk pintu kamar.
"Sudah. Sekarang buka pintunya!" ucap Kinar ketus menurunkan kedua tangannya di sisi tubuh.
"Gak bisa!" Radit menyahut cuek.
"Gak bisa gimana? Mas tinggal buka pakai kunci aja kok dibuat ribet sih," ujar Kinar mendelik kesal pada Dooter Radit yang bertampang santai.
"Gak bisa karena kuncinya tadi sudah kubuang di luar situ," sahut Radit menunjuk pintu balkon yang terbuka. Kinar tak melihat lelaki itu melempar kuncinya.
"Doktet Radit bodoh! Jangan bohong, cepat buka pintunya nanti kalau ada yang lihat kita berdua di sini gimana?" teriak Kinar kesal.
"Ya gak gimana-gimana dong," sahut Radit santai.
"Gak akan macam-macam kok, cuma mau satu macam," ucap Radit berjalan mendekati ranjang.
"Hey, mau apa? Jangan berani ya, Dok!" Kinar merapatkan selimut. Menatap penuh peringatan pada Radit yang menyeringai licik.
"Dokter lagi, dokter lagi?" ucap lelaki itu mendengus.
"Panggil aku seperti waktu itu, Kinar!" titah Radit membungkukan tubuhnya, hingga kinj wajah mereka berdekatan sejajar.
"Gak mau! Kita kan sudah gak sedekat itu," tolak Kinar memalingkan wajah. Efek dari dokter Radit masih semendebarkan seperti biasanya. Ini bahaya untuk jantungnya.
"Saya masih suami kamu ya!" ucap lelaki itu menari dagu Kinar hingga kini mereka kembali bertatapan.
"Hey siapa bilang? Emang saya ngakuin dokter sebagai suami?" Kinar mendelikkan matanya.
"Kinar, saya belum memberi talak ya jadi kamu masih berstatus istri saya," ucap lelaki itu setengah kesal.
"Ya sudah ta--"
Ucapan Kinar terhenti karena Radit sudah membungkam mulut wanita itu dengan menempelkan bibir mereka. Hanya menempel, tanpa ciuaman panas.
"Sudah kustempelin tuh!" ucap Radit santai.
Kinar masih diam karean shock, tapi segera sadar Dokter Radit kembali akan menciumnya.
"Jangan berani ya, Dok!" ancam Kinar menunjukkan kepalan tangannya ke depan wajah Radit.
Radit terkekeh. Dia menegakkan kembaki tubuhnya. Berjalan memutari ranjang, dan berbaring santai di ranjang kosong samping Kinar.
Kinar melotot dan memukul lengan lelaki itu, "keluar, Mas! Kembali ke kamar kamu sana!"
Radit mengabaikan Kinar. Dia membalik tubuhnya memunggungi Kinar, dan menarik selimut yang Kinar kenakan tadi.
Kinar menghela napas. Sepertinya lelaki itu tak akan mau menurut. Dia bangkit hendak tidur di sofa saja, tapi belum sempat dia bangkit dari ranjang tangannya sudah dicekal dan tubuhnya jatuh di atas tubuh Dokter Radit.
"Mau kemana?" tanya Radit dengan netra menajam
"Lepas, Mas! Aku mau tidur si sofa aja," ucap Kinar mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dokter Radit. Posisi ini tidaka aman, jantungnya seperti meledak dengan debaran kencang.
"Gak ada. Kita tidur di sini, seranjang!" tekan Radit, dan menjatuhkan tubuh Kinar di sisinya. Hingga kini dirinya yang berada di atas tubuh perempuan itu. Keduanya saling menatap netra masing-masing.
"Ma--Mas mau apa?" Kinar berucap terbata.
"Mau buka puasa, boleh?" gumam Radit tak mengalihkan netranya dari bibir ranum yang sudah beberapa bulan inj tak ia jamah.
Kinar melotot, hendak protes tapi bibirnya sudah kembali diserang oleh Radit. Sentuhan bibir lelaki itu lembut menyalurkan perasaannya. Kinar yang terbuai pun membalas ciuman Radit, dan keduanya terbakar hasrat yang beberapa bulan telah terpendam. Dengan sadar, saling menyalurkan perasaan rindu masing-masing, keduanya kembali mengarungi manisnya surga dunia itu.
...Bersambung.......