
Ternyat, besok paginya saat Ardi dan Lina turun untuk sarapan, mereka tidak mendapati Ibu Maria di meja makan. Lina langsung merasa pengen nyerah saja kalau begini ceritanya.
"Mama kemana, Bi?" tanya Dokter Ardi ketika mereka menyelesaikan sarapan dan sudah rapi untuk bekerja.
"Ibu ada di taman belakang, lagi baca buku, Mas." Bi Rumi menjawab sambil membereskan meja makan.
"Tunggu di mobil, aku mau bicara sebentar sama Mama."
Lina menurut. Berjalan lebih dulu keluar dari rumah megah itu dan masuk ke dalam mobil Dokter Ardi yang sudah siap di halaman depan.
Dokter Ardi berjalan menuju taman untuk menemui Mamanya. Dia menangkap keberadaan wanita baya itu yang duduk di bangku panjang yang ada di taman belakang sedang fokus dengan buku di pangkuannya.
"Ma!" panggil Dokter Ardi duduk di samping Mamanya.
"Hem!" sahut Ibu Maria tanpa menoleh.
"Mama masih marah?"
Ibu Maria mendongak dan menatap putranya datar.
"Huh. Marah? Mama gak cuma marah, tapi juga kecewa dan sakit hati sama kamu," jawab Ibu Maria dengan dingin.
"Maaf, Ma! Untuk batalnya pernikahanku dengan Lilis juga pernikahan mendadakku dengan Lina," ujar Dokter Ardi menunduk bersalah.
Tidak ada sahutan lagi dari Ibu Maria. Ardi akhirnya menghela napas, memilih untuk memberikan Mamanya waktu untuk meredakan amarah di dadanya juga kecewa dan sakit hati itu.
"Mama jangan terlalu lelah, nanti sakit. Aku akan nunggu Mama memafkan aku," ucap Dokter Ardi lagi.
"Aku dan Lina kerja dulu ya, Ma!"
Setelahnya Dokter Ardi berlalu dari hadapan sang Mama yang menunduk mengakihakan perhatian dengan buku di pangkuannya. Setelah putranya itu berlalu, barulah wanita baya itu mendongak, dan mengusap setitik bening di ujung netranya.
"Kamu nggak tahu bagaimana kecewanya Mama sama keputusanmu membatalkan pernikahanmu, Ar! Sakit banget rasanya, padahal Mama sudah capek-capek dan antusias sekali, tapi kamu mematahkan semua itu," gumam Ibu Maria dengan tetes bening yang semakin banyak berjatuhan.
Dokter Ardi dan Suster Lina pun berpisah di parkiran. Mereka tidak ingin mencolok dan menjadi pusat perhatian karena kedekatan mereka ini. Apalagi batalnya pernikahannya belum lama, bisa saja nanti banyak manusia-manusia yang suka menebak dan mengatakan hal tidak-tidak.
Sedangkan, Suster Lina tampak agak longgar tugasnya hari ini. Dia sedang mencari rekannya yang lain ketika netranya tak sengaja mengenali wanita hamil yang hendak masuk ke dalam lift itu.
"Kinar!" panggilnya berjalan menghampiri Suster Kinar yang mendorong stroler.
"Mbak Lina! Bang, say hello dulu sama Tante Lina!"
"Alo! Yah... Yah... Yah.... "
Suster Lina gemas sekali pada balita itu. Ia menoel-noel pipi montok Alan.
"Sini Kin biar aku bantu gendong aja! Dia mau turun itu!" Suster Lina pun mengeluarkan Alan dari stolernya menggendong balita itu.
"Iya, aktif banget ini Alan."
"Mau ke ruangan Dokter Radit atau main di taman rumah sakit?" tanya Suster Lina ketika mereka sudah memasuki lift.
"Dia lagi ada operasi ya? Nunggu di ruangannya aja deh!"
Suster Lina mengangguk. Mengantar Kinar hingga sampai di ruangan Dokter Radit. Ia sudah tahu status hubungan K nar dengan si dokter bertampang dingin itu. Dia ikut menghadiri acara resepsi mereka kala itu.
"Kamu gendutan lo, Mbak!" ujar Kinar ketika mereka sudah keluar dari lift.
"Hah? Masa sih?" Suster Lina berpura-pura terkejut. Padahal penyebab dirinya yang agak isian ini karena dirinya yang sedang mengandung.
"Iya, kayak aku waktu hamil Alan dulu, memang gak kentara kalau aku hamil dulu, kayak gendutan biasa gitu, pipi chubby dan lengan juga ikut lemakkan dikit. Nah Mbak gendutannya gitu, biasa gak tampak gendut banget," kekeh Kinar.
Lina menggelng dengan senyum kecil. Ia menaruh kembali Alan di strolernya, setelah itu pamit undur diri pada Kinar karena dirinya masih harus bekerja.
"Masa sih kentara banget?" gumam Suster Lina sambil menangkup pipinya sendiri.
...Bersambung.......