
Seminggu Radit merasakan moodnya jelek setelah percakapannya dengan sang Mama sore itu mengenai pernikahan. Dia membuka pintu kamar putranya, ingin menghilangkan letih dengan nemandang wajah Alan.
"Alan sudah tidur?" tanya Radit masuk, dan duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Mas baru pulang?" tanya Kinar balik setelah menidurkan Alan di boxnya.
Radit mengangguk. Menepuk sofa kosong di sampingnya, meminta Kinar untuk duduk.
"Wajahnya kusut banget," ucap Kinar duduk di samping Radit. Menatap wajah letih suaminya.
"Kinar, kamu mencintaiku?" tanya Radit duduk menyamping, menatap netra Kinar dalam, meminta kepastian.
"Kenapa menanyakan hal itu? Mas sudah tahu kan perasaanku waktu itu?" sahut Kinar sedikit bingung.
Radit menghela napasnya. Mengusap wajahnya lelah.
"Tolong katakan itu di depan Mama, Kinar! Agar Mama percaya dan kita bisa mendaftarkan pernikahan resmi ke KUA," ucap Radit sedikit memohon.
Kinar menata bingung lelaki di depannya. Haruskah?
"Kenapa harus mengatakan pada Ibu Sonia?" tanya Kinar tak mengerti.
"Karena Mama akan menikahkanku dengan Lilis bulan depan," jawab Radit dengan lesu.
"Menikah?" gumam Kinar tak percaya.
Radit mengangguk. Mengambil kedua tangan Kinar, dan menggenggamnya erat.
"Iya. Kamu masih ingin mempertahankan hubungan ini, kan? Kumohon akui perasanmu pada Mama," ucapnya setengah memohon dengan wajah lesu.
"Aku gak yakin, Mas?" Kinar menggigit bibirnya gelisah.
"Apa maksudmu dengan gak yakin, Kinar? Kamu gak yakin dengan perasaanmu sendiri?" Radit memicingkan mata, menelisik raut wajah istrinya.
"Aku gak yakin Ibu Sonia akan membatalkan pernikahanm Mas dengan Lilis ketika aku mengakui perasaanku," sahut Kinar lirih.
"Kinar, hanya itu satu-satunya. Kamu harus melakukannya untuk tahu keputusan Mama!" desak Radit penuh harap.
"Akan kucoba."
Maka hari esoknya, Kinar memilih waktu yang tepat untuk berbicara pada Ibu Sonia. Yaitu, ketika Alan sudah tidur siang, dan Ibu Sonia juga sedang santai di ruang tengah.
"Saya ingin bicara, Bu!" Kinar membuka suara menyadarkan Ibu Sonia yang sedang asik dengan handphonenya.
Ibu Sonia pun menoleh, dan mengangguk. Menunjuk sofa di seberangnya menyuruh Kinar duduk.
"Bicaralah! Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ibu Sonia serius.
Kinar menghela napas. Mengatur degup jantungnya yang berdebar gugup. Tangannya saling memilin dengan keringat dingin di telapaknya.
"Ibu pasti sudah mendengarkan penjelasan Mas Radit tentang hubungan kami?" ucap Kinar memulai penjelasan.
Ibu Sonia menanggapinya dengan anggukan.
"Saya mencintai Mas Radit, Bu! Kami ingin mendaftarkan pernikahan kami ke kantor, bisakah ibu nerestui hubungan kami," ucap Kinar memandang yakin Ibu Sonia yang berwajah datar.
"Kamu benar mencintainya atau hanya karena ingin dekat dengan Alan?" tanya Ibu Sonia setelah hening yang cukup lama.
"Kenapa kalian membohongi kami sebagai orang tua dengan begitu teganya? Tidakkah kalian merasa bersalah pada kami, dan mudah sekali kalian mengatakan saling mencintai di saat kalian sendiri menikah siri diam-diam," ucap Ibu Sonia dingin.
Kinar tertegun. Haruskah ia menjelaskan jika pernikahan siri mereka terjadi karena sebuah perjanjian? Apakah Ibu Sonia akan menganggapnya sebagai wanita matrek yang hanya menginginkan kekayaan Dokter Radit.
"Jawab Kinar!" tuntut Ibu Sonia.
Kinar menghela napasnya, "maaf sebelumnya, Bu! Kami menikah siri kala itu di atas perjanjian tertulis...."
"Perjanjian tertulis?" tanya Ibu Sonia tak percaya. Dia memang belum tahu mengenai perjanjian apa yang telah dilakukan oleh Dokter Radit dan Suster Kinar.
"Saat itu, saya sedang dalam lilitan hutang pada pihak bank dan Mas Radit sedang dalam kemelut memikirkan desakan Ibu yang memintanya segera menikah. Untuk itulah Mas Radit menawarkan akan melunasi hutang saya pada pihak bank asal saya mau menikah siri dengannya dan memberinya keturunan," jelas Kinar dengan jujur.
Ibu Sonia terdiam kaku, lalu mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya. Dia menggeleng tak percaya akan apa yang Kinar sampaikan. Bagaimana mungkin dua anak muda itu mempermainkan status pernikahan juga masa depan cucunya dengan sebuah perjanjian gila itu. Harusnya Radit cukup memberikan pinjaman saja pada Suster Kinar agar tak ada perjanjian tak masuk akal itu.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan," ucap Ibu Sonia menggeleng kecewa.
"Maaf, Bu! Saat itu kami memang belum ada perasaan apapun, tapi selama berbulan-bulan hidup bersama, saya mulai mencintai Mas Radit, dan tidak bisa membiarkannya menikah dengan orang lain," ucap Kinar lalu menundukkan kepalanya merasa malu.
"Lalu apakah saya harus percaya pada kalian saat di awal memulai ini semua saja kalian sudah membuat perjanjian konyol seperti itu? Bukan tidak mungkin di saat menikah kalian juga akan membuat perjanjian lebih gila lainnya, seperti akan berpisah dua tahun kemudian saat kalian merasa jenuh dan bosan pada pernikahan," ucap Ibu Sonia dengan nada datar.
Kinar menggeleng. Dia tak akan berpikiran sedangkal itu, pernikahan adalah hal yang sakral. Dia tak mungkin mempermainkan ikatan suci itu untuk kedua kalinya.
"Kami tidak akan melakukan hal sedangkal dan segila itu, Bu!" sahut Kinar yakin dengan penuh tekad.
"Maaf, saya sudah terlanjur kecewa dengan kalian. Pernikahan Radit dan Lilis tetap akan dilaksanakan. Kamu tenang saja, kamu bisa tetap di samping Alan hingga dia berusia satu tahun, dan nanti Lilis yang akan menjadi ibu sambung untuk cucuku."
Setelah mengatakan hal itu, Ibu Sonia bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Kinar yang sudah bertampang lesu dengan netra berkaca-kaca.
Sedangkan Ibu Sonia, tersenyum senang karena telah membuat mendung di wajah Kinar karena ucapannya.
"Rasain kalian! Enak gak dibohongin kayak gitu? Nikmatin saja galau-galaunya selama sebulan ini, selagi aku menyusun persiapan pernikahan," gumam Ibu Sonia dengan langkah riang memasuki kamarnya.
..._______...
"Kinar, bagaimana kata Mama?" Radit menghampiri Kinar di kamar wanita itu saat ia pulang dari rumah sakit.
"Mas!" Kinar langsung memeluk lelaki itu dengan menyembunyikan wajahnya yang basah karena menangis di dada bidang Radit.
"Kinar, ada apa?" tanya Radit kebingungan.
"Ibu Sonia marah sama kita karena perjanjian yang kita lakukan saat menikah waktu itu," jawab Kinar melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dokter Radit.
"Lalu, apa keputusan Mama?" tanya Radit mengusap air mata di pipi Kinar.
"Mas tetap akan dinikahkan sama Lilis, hiks!" Kinar kembali menangis. Entah kenapa beberapa hari ini dia merasa cengeng dan sensitif sekali. Ada hal-hal kecil saja yang menyentuh perasaannya dia akan menangis.
"Kinar, tenang! Kita cari jalan keluarnya ya!" ucap Radit menenangkan Kinar yang masih menangis.
"Gimana kalau Mas nikah sama Lilis?" ucap Kinar disela sesenggukannya menangis.
"Ya berarti istri Mas dua dong!" sahut Radit menggoda yang mana membuat tangis Kinar bertambah kencang.
...Bersambung.......
Hadiah sama votenya janga lupa gaesss