Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Serumah Tapi Tak Menyapa


"Halo, selamat pagi Tante!"


Kinar dan Ibu Sonia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya perempuan cantik dengan pashmina coklat itu menghampiri mereka di gazebo.


"Hay, sudah lama sampainya?" Ibu Sonia memeluk Lilis dengan mencium pipi kanan dan kiri perempuan cantik itu.


Kinar memperhatikan interaksi akrab itu dengan perasaan iri.


"Kinar!" sapa Lilis ramah.


"Oh, hay!" Kinar mengukir senyum pada Lilis yang menyapanya.


"Ini Alan, Tan? Duh gemesin banget sih, sayang!" ucap Lilis menoel-noel pipi berisi Alan yang ditidurkan di karpet berbulu.


"Gemesin Alan apa Radit nih, Lis?" goda Ibu Sonia dengan menyenggol lengan Lilis.


"Gemesin Bapaknya kayaknya deh, Tan!" kekeh Lilis.


Ibu Sonia dan Lilis terus saja membicarakn Dokter Radit, tanpa tahu ekspresi tak enak dari wajah Kinar. Suster Kinar hanya meringis, sesekali menghela napas meredakan perasaan tak enaknya.


"Oh ya kita mau bahas pernikahan ya, kan? Ya udah yuk kita ke dalam dulu," ucap Ibu Sonia tiba-tiba.


"Per-pernikahan?" gumam Kinar tanpa sadar.


Ibu Sonia dan Lilis saling melempar pandangan penuh arti. Ibu Sonia mengulum senyum, dan Lilis memalingkan wajah menahan tawa.


"Iya. Kami masuk duluan ya, Kinar! Nanti kalau Alan sudah bosan kamu bawa masuk saja," ucap Ibu Sonia mengajak Lilis masuk ke dalam rumah.


Kinar menatap dua punggung perempuan berbeda usia itu dengan tanda tanya besar. Pernikahan? Siapa yang akan menikah? Apakah Dokter Radit dan Lilis? Kok dia merasa dadanya berdenyut tak enak begini, ya.


"Gak mungkin kan mereka menikah?" gumam Kinar dengan tak yakin.


"Lihat kan Lis ekspresinya Kinar tadi?" tanya Ibu Sonia menahan kekehan ketika ia dan Lilis berjalan masuk ke dalam rumah, dan menuju ruang tamu.


"Lihat, Tan. Ya ampun wajah Kinar kelihatan banget cemburunya, tapi anehnya kok dia bisa tahan ya gitu mendam perasaan sendiri gitu," sahut Lilis ikut terkekeh.


"Oh, ya gimana rencana pernikahanmu dengan Dokter itu?" tanya Ibu Sonia mendudukkan diri di sofa ruang tamu, diikuti Lilis yang juga duduk di sampingnya.


Lilis menghele napas. Tampak wajahnya merengut sebal.


"Serius deh, Tan. Papa sama Mama apa gak ada calon lain memangnya? Dokter itu nyebelin banget sumpah, dia itu sebelas dua belas deh kayaknya sama Radit. Juteknya itu loh Tan, bikin kesel. Salah dikit marah, aku telat dikit langsung deh dia nyindir-nyidir," sahut Lilis dengan wajah cemberut menceritakan sang calon suami yang dijodohkan dengannya.


"Tapi kan Dokter Ardi ganteng, Lis! Dimana lagi coba kamu dapet cowok mapan dan wajah tampan gitu. Sudah syukurin aja, nanti juga lama-lama juteknya hilang," ujar Ibu Sonia menenangkan anak dari sahabatnya itu, yang sudah dia anggap seperti putri sendiri.


"Kayaknya emang sudah takdirnya aku deh, Tan ketemunya dokter mulu."


Ibu Sonia hanya terkekeh mendengar ucapan Lilis. Mereka mengobrol banyak, dan membahas juga tentang rencana membuat Radit dan Kinar cemburu.


...________...


"Saya mau mandi, Dok!" sahut Kinar tanpa menatap Dokter Radit. Dia akan kembali berjalan, tapi langkahnya dihadang lelaki itu.


"Kinar, sebentar saja!"


Kinar mengembuskan napas kesal.


"Ok, lima menit!" ucapnya ketus.


"Aku minta maaf," ucap Radit mengawali. Menghilangkan kata formal yang sering ia pakai, menggantinya dengan kata aku.


"Aku minta maaf atas keegoisanku, memisahkanmu dengan Alan, juga sikapku yang membuatmu sakit hati dan kecewa selama kita bersama. Aku mau--"


"Sudah lima menit. Saya mandi dulu, permisi!" potong Kinar dan berlalu masuk ke dalam rumah, meningalkan Radit yang hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.


"Kamu beneran balas dendam ya, Kin? Ok, aku akan buat kamu kembali menoleh padaku. Kini saatnya aku yang memperjuangkanmu. Ok, kita lihat saja nanti, sayang!" gumamnya dengan senyum kecil yang terkulum.


"Kita serumah tapi seolah tak kenal!" kekeh lelaki itu.


Sudah hampir dua bulan dia konsultasi dengan Om Hendra, dan juga dia sudah mengalami banyak perubahan di dirinya. Seperti, dia yang kini sering sekali terkekeh dan tersenyum melihat tingkah Kinar dan Alan. Apalagi, putranya itu sudah pandai mengoceh tak jelas. Tentang, Kinar, perempuan itu semakin hari semakin cantik saja di mata Radit, dirinyakan yang terlalu berlebihan atau memang perempuan itu yang tambah cantik semenjak melahirkan. Oh, Radit mulai terkena syndrom jatuh cinta sepertinya. Ok, tidak masalah. Dia akan menikamtinya mulai sekarang.


Radit membuka pintu kamar Alan, tapi dia segera menelan ludahnya melihat pemandangan yang menggoda imannya itu. Kinar sedang menyingkap sebagian bajunya dan oh... Radit tak ingin memalingkan wajah dari pemandangan itu. Perempuan itu sedang memberikan ASI pada putranya dengan duduk di pinggiran ranjang. Kinar menunduk memandangi wajah Alan, sehingga tak tahu jika Radit membuka pintu.


Kinar yang sadar jika merasa ada yag memperhatikannya, segera mengangkat pandangan dan langsung bertemu dengan netra lelaki itu.


"Ngapain kamu, Dok?" tanya Kinar ketus.


Doktet Radit tak menjawab. Fokusnya masih pada tempat putranya minum ASI. kinar yang sadar tatapan lelaki itu kemana, segera menutup bagian dadanya dengan menurunkan baju, tap ternyata aksinya itu mendapat protes dari si balita yang merengek hampir menangis.


"Cup, cup maaf ya, Sayang. Bunda gak sengaja," ucap Kinar mengusap-usap lembut punggung si balita.


"Mau apa, Dok?" tanya Kinar lagi pada Radit yang masih di ambang pintu.


"Cuma mau nengok Alan." Radit berjalan masuk, dan berdiri di hadapan Kinar. Lelaki itu sedikit membungkuk, mengecup kening Alan dan pipinya. Namun, yang tak Kinar duga, Radit juga ikut mencuri kecupan di bibirnya.


"Mas!" ucap Kinar menahan kesal.


Radit segera kembali menegakkan tubuh. Mengangkat alis, cuek akan kekesalan Kinar.


"Kayaknya bagian dadamu sidikit berisi, ya!"


Setelah mengatakan itu, Doktet Radit berbalik keluar. Meninggalkan Kinar yang masih shock akan ucapan lelaki itu. Langsung saja, dia menoleh pada dadanya, memang agak berisi karena dia masih menyusui.


"Dasar lelaki mesum!" ucap Kinar mendelik pada pintu kamar yang sudah tertutup.


...Bersambung.......


...Masih belum semangat ngetiknya gaesss, NT sekarang kenapa sih blum diacc juga padahal karya ini mau end bentar lagi 😩...