
Radit, baru saja pulang dan memasuki rumahnya. Dia berjalan ke dapur, hendak mengambil air minum. Namun, langkahnya dia hentikan karena mendengar obrolan dari dua wanita paruh baya yang bekerja sebagai ART.
"Sumpah, kayaknya Nyonya pilih kasih banget gak sih sama si Suster Kinar itu?" ucap salah satu ART sambil membasuh beras di wastafel.
"Iya, bener banget. Masa dia tinggal di rumah utama, kan dia juga bawahan kayak kita. Lah kita yang sudah bekerja bertahun-tahun saja masih ditempatin di rumah seberang," sahut ART satunya.
Radit berdiri bersandar di dinding pembatas antara dapur dan ruangan lainnya. Tangannya bersedekap, menilik tajam dan mendengarkan dengan saksama obrolan dua wanita paruh baya itu.
"Atau jangan-jangan Suster Kinar ini orangnya cari muka, dia mungkin juga rayu-rayu Nyonya biar diizinin tinggal di rumah utama," ucap temannya lagi.
"Ih, padahal anak baru sudah belagu banget cari muka ya!" sahut ART yang sedang meyiangi sayuran.
"Kalian di sini untuk kerja atau mau bergosip?" ucap Radit datar menyadarkan dua orang ART itu.
Dia berjalan menuju kulkas, dan mengambil air es di sana. Menegaknya langsung tanpa menuang ke gelas.
"Eh, Mas Radit! Ma--maaf, Mas."
Radit menilik tajam dua orang ART itu. Setelahnya berlalu dari dapur, dan berjalan menuju kamarnya.
"Dasar perempuan! Suka banget gosipin sesama kaumnya sendiri," gumam lelaki itu.
Kinar membantu beberapa ART membereskan bekas makan malam mereka. Meski sudah dilarang oleh Ibu Sonia, dia tetap saja tak enak.
"Wah enak banget ya yang bisa makan bareng sama tuan rumah," ucap ART berusia kisaran kepala 4 yang sedang mencuci piring kotor.
"Iya, mau juga aku loh!" sahut temannya yang lain.
Ada 3 ART di dapur itu. Kinar tidak kenal mereka, dia hanya kenal dengan Bi Isah dan juga Bi Noni. Hanya dua orang itu yang bersikap baik dan ramah kepadanya. Sedang, tiga ART ini tampak menunjukkan ketidaksukaan mereka terang-terangan.
"Enak juga ya kerja cuma kasih ASI, tapi gaji gede makan ditanggung, beuh apa kabar kita yang di dapur ini," ucap salah satu ART lainnya.
"Maaf, Bibi ngomongin saya ya?" ucap Kinar yang mulai kesal akan sindiran-sindiran tiga orang itu.
"Hah? Gak kok. Kenapa? Kamu merasa ya? Duh bagus deh, eh maksudnya maaf deh!" ucap ART yang sedang mencuci piring itu. Ok, Kinar ingat namanya. Dia Bi Deni--si wanita baya yang mulutnya ceriwis sekali di antara dua temannya.
Tidak ingin ada keributan, Kinar memilih berlalu dari dapur. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar Alan. Putranya yang kini sudah berusia tujuh bulan. Rasanya baru kemarin dia melahirkan bayi mungil itu, tapi sekarang dia sudah bukan bayi lagi, sudah balita. Sudah sering mengoceh tak jelas, dan kadang menggapai-gapai benda apa saja yang menarik perhatiannya dengan tangan mungil mengepal itu. Duh, padahal hanya ditinggal makan malam saja, tapi Kinar sudah rindu pada Alan.
"Alan sudah dikasih makan, Bi?" tanya Kinar pada Bi Isah. Ya, balita itu memang sudah makan bubur bayinya sekarang.
"Sudah, Mbak. Mungkin nanti hausnya sejam lagi, kayaknya belum ngantuk juga dia," sahut Bi Isah bangkit dari ranjang.
"Kalau begitu saya keluar ya, Mbak!" pamit Bi Isah yang dijawab Kinar dengan anggukan.
"Hey, belum mau bobok, Nak?" ucap Kinar menoel pipi gembul putranya.
Kinar hanya terkekeh mendengar celoteh tak jelas balita itu.
"Uluh, uluh... Ngomong apa sih, Nak?" Kinar menciumi wajah balita itu dengan gemas.
Alan sudah semakin pandai kalau mengoceh, oh jangan lupakan juga aksi suka ngambeknya yang mirip si Ayahnya itu. Telat saja, Kinar menyusuinya, balita itu akan meraungkan tangisnya. Kinar juga sudah membiasakan Alan makan nasi yang ia hancurkan seperti bubur, sesuai anjuran Dokter anak yang sering datang sebulan sekali atas permintaan Ibu Sonia.
Mengenai hubungan kedekatannya dengan Ibu Sonia, sebenarnya Kinar agak merasa sungkan. Ibu Sonia seperti masih sering kali berwajah tak bisa ia tebak. Kadang dia datar, kadang ramah, kadang juga Kinar kena tegur oleh Ibu Sonia jika dia sering telat makan. Oh, sebenarnya dia sengaja, karena tidak ingin makan semeja dengan tuan rumah ini, apalagi dengan Dokter Radit. Dia masih merasa sakit hati dengan Dokter itu.
Pernah juga Kinar ketiduran ketika sedang menjaga Alan, dan dia kena semprot habis-habisan sama Ibu Sonia. Kinar masih ingat sekali ucapan Ibu Sonia yang sebenarnya tidak terlalu kasar, tapi dia malah baperan dan tersinggung hingga dia menangis.
"Kamu ini, Kinar! Kalau kamu ngantuk kamu bisa meminta Bi Isah atau saya yang menjaga Alan sebentar, bukannya malah kamu tinggal sendiri Alannya. Bagaimana kalau dia jatuh dari ranjang?"
"Maaf, Bu. Saya ketiduran."
"Astaga, kenapa kamu malah menangis? Saya gak marahin kamu, Kinar! Saya cuma ingetin untuk lain kali jangan diulangi, ya!"
"Maaf, Bu!"
"Ok, gak apa-apa. Lain kali kamu harus lebih hati-hati. Kalau memang ngantuk banget, setidaknya kamu pindahin dulu Alan ke boxnya, ya."
"Sudah. Jangan menangis, malu nih dilihat Alan!"
Begitulah kejadiannya. Sejak itu, Kinar selalu waspada dalam menjaga putranya. Bukan takut dimarahin, dia lebih kepada memikirkan keselamatan putranya. Dia memang agak teledor waktu itu. Untuk itu dia akan lebih berhati-hati lagi.
...Bersambung.......