
Setelah menyusui Alan, dan bayi mungil itu kembali tertidur, Kinar beranjak keluar dari kamar Alan, dan menemui Ibu Sonia. Kinar diantar ke sebuah kamar yang berada di ujung lorong lantai dua.
"Ini kamarmu, Kinar!" ucap Ibu Sonia membukakan pintu.
"Loh saya gak gabung sama kamar para ART, Bu?" tanya Kinar bingung. Dia mengikuti Ibu Sonia masuk ke kamar. Memperhatikan kamar luas dan beberapa parabot yang begitu berkelas.
"Gak. Kamu kan harus siap sedia kalau Alan nangis mau menyusu, makanya kamarmu gak jauh dari kamar Alan," sahut Ibu Sonia.
"Terima kasih, Bu." Kinar meletakkan tas selempangnya di atas ranjang king size.
"Istirahatlah dulu, nanti kalau sudah sore saya akan bangunkan kamu," ujar Ibu Sonia. Kinar mengangguk, setelahnya Ibu Sonia berlalu keluar.
...****...
Radit menatap serius pria paruh baya di hadapannya. Seorang psikiater yang masih teman ayahnya, Om Hendra.
"Dokter Radit mengalamami philophobia. Sejenis trauma karena takut jatuh cinta, benar?" tanya Om Hendra serius.
"Ada beberapa kasus yang sama dengan Dokter Radit. Memang sulit saat kepercayaan tak bisa kita berikan lagi pada seseorang. Namun, jika Dokter Radit ingin menghilangkan trauma itu, harus dibarengi niat dan tekad yang kuat," ucap Om Hendra lagi.
"Apa yang harus saya lakukan, Om?" tanya Radit serius.
"Mengakui perasaan itu sendiri, jangan memendam kesedihan dan amarah yang kamu rasakan, itu adalah kunci pertama. Dokter Radit harus mau mengakui perasaan dikecewakan itu pada orang terdekat, agar mereka paham. Setelah puas mengakui perasaan itu, maka cobalah buang masa lalu dan move on. Mencobalah hubungan yang baru pada orang lain dan berikan kepercayaan padanya secara perlahan." Penjelasan Om Hendra disimak oleh Radit dengan wajah serius.
"Apakah itu akan berhasil?" tanya Radit ragu.
"Anda harus mencobanya untuk tahu apakah cara ini berhasil atau tidak, Dit. Harus berani mencoba kembali, jangan hanya terpaku pada masa lalu," jelas Om Hendra.
Radit mengangguk akhirnya. Dia akan mencoba saran dari Om Hendra.
"Saya paham, Om. Terima kasih atas masukan dan sarannya, saya akan coba lakukan apa yang Dokter katakan," ujar Radit dengan penuh tekad.
"Bagus. Semoga berhasil, Dit! Kamu bisa berkonsultasi lagi pada Om jika sudah menunjukkan perubahan itu."
Radit mengangguk, dan bangkit dari tempat duduknya.
"Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu, sampai ketemu di konsultasi selanjutnya, Om!"
Om Hendra mengangguk. Radit berlalu keluar dari ruangan Om Hendra, dan mulai memikirkan langkah awal yang akan dia ambil.
Radit pulang sore harinya. Semenjak dia membawa Alan ke rumah orang tuanya, dia juga ikut kembali tinggal di rumah orang tuanya. Tak banyak pertanyaan dari Papa dan Mamanya mengenai siapa Ibu dari putranya, ia sedikit lega setidaknya. Meski perasaan bersalah itu timbul, karena dia telah memisahkan Alan dan Kinar. Sudah hampir dua mingguan ini juga dia tak bernafsu makan, dan tidur kurang dari 5 jam.
"Alan mana, Ma?" tanya Radit ketika masuk ke dalam rumah, dan mendapati Mamanya sedang bersantai di ruang tamu.
Radit tak suka mendengar jawaban Mamanya. Suster baru? Mamanya tidak menanyakan dulu pendapatnya mengenai seorang suster ini.
"Suster baru? Mama memperkerjakan orang lain untuk mengurus putraku? Ma, mama tahu kan ada banyak kasus tentang pengasuhan anak ke tangan orang lain, kenapa Mama segampang itu percaya," ucap Radit kesal.
"Dia baik dan gak akan mungkin menyakiti Alan, Dit. Sudah, kamu lihat saja sana sendiri, dia lagi di taman belakang," jawab Ibu Sonia santai.
Radit mendengus. Mengarahkan langkahnya ke arah taman belakang. Langkah lelaki itu terhenti melihat punggung seorang perempuan dengan rambut sepanjang tulang selangka. Dia mengenal postur tubuh itu.
"Kinar!" panggilnya tak yakin.
Perempuan itu menoleh, dengan bayi yang sudah tertidur di gendongannya.
"Hai, Dokter Radit! Kita bertemu lagi!" sapa Kinar dengan senyum menyeringai.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Radit sedikit kesal.
"Bisa dong. Kan saya masih tinggal di kota ini, dan masih bernyawa. Kecuali, kalau saya sudah lain alam sama Dokter Radit, itu yang harus dokter tanyain kenapa saya di sini," sahut Kinar santai.
"Kamu--"
"Sudah ya, Dok. Saya mau bawa Alan ke kamar dulu," potong Kinar berjalan melewati Dokter Radit.
"Dia mau balas dendam dengan mengabaikanku," gumam lelaki itu mendengus kesal.
"Bi, panggilin Kinar buat makan malam!" titah Ibu Sonia pada salah satu ART nya.
ART itu mengangguk, meski dia merasa iri pada perempuan bernama Kinar, dia tetap menjalankan titah sang Nyonya.
Kinar ikut makan di meja makan panjang mewah itu. Meski dia merasa ini terlalu berlebihan bagi seorang bawahan sepertinya.
"Makanlah, gak perlu sungkan, Kinar. Radit belum turun mungkin masih belum selesai sholat," ucap Ibu Sonia.
Kinar mengangguk sungkan, dia menoleh pada Dokter Ghifar yang hanya mengangguk dengan senyum ramah. Dokter Radit turun ketika mereka sudah memulai makan malam. Lelaki itu tampak begitu terkejut melihat kehadirannya di meja makan, tapi segera kembali menampilkan ekspresi datarnya.
"Makan yang banyak, Kinar! Kamu kan harus menyusui." Kinar tak bisa menolak ketika piringnya kembali diisi dengan nasi oleh Ibu Sonia.
Hari itu setidaknya Kinar lewati dengan tenang. Tidak tahu esok, atau esoknya lagi. Mungkin saja ada beberapa kejadian tak mengenakkan, apalagi status hubungannya dengan Dokter Radit ini belum jelas. Lelaki itu belum mengucapkan kata talak untuk dirinya, itulah dia bingung akan status hubungan ini.
...Bersambung.......