Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Quality Time (1)


Waktu berjalan begitu cepat dan tat disadari. Kini sudah berjalan enam tahun pernikahan Doktet Radit dan Kinar. Radit masih dengan tugasnya di rumah sakit, sedang Kinar memilih untuk mengurusi anak-anaknya dan meniti karir di bidang fashion bersama mertuanya.


"Ayah, Bunda mana?" tanya Alan yang sudah berusia lima tahun setengah.


Radit yang sedang membaca laporan rumah sakit di ofa ruang tamu menoleh pada putra pertamanya itu. Hari ini weekend, dia memang tidak bekerja. Jadi, waktunya ia habiskan di rumah menjaga anak-anaknya, sedang Kinar pergi bersama Mamanya. Papanya sendiri memilih memancing bersama teman-temannya.


"Bunda lagi pergi sebentar sama Nenek, Sayang?" sahut Radit menutup map yang tadi ia baca.


"Adik-adikmu kemana?" tanya Radit pada Alan yang berdiri menatapnya dengan wajah polosnya.


"Mereka jahil, Yah! Masa naruh cacing di sandal Bi Isah. Untung Bi Isah gak jantungan," sahut Alan melaporkan kelakuan kedua adik kembarnya yang jahil.


"Sekarang dimana mereka?" Radit berdiri dari tempat duduknya.


"Di pos satpam mau ngerjain Pak Dodi katanya." Alan menjawab dengan berjalan lebih dulu mengajak sang Ayah melihat kelakuan dua adiknya itu.


"El, nanti lau dimalah Yah, imana?" tanya seorang bocah berusia tiga setengah tahun itu pada kembarannya. Mereka berdiri di depan pintj pos satpam. Tidak ada orang di dalam pos itu, mungkin Pak Dodi sedang membuat kopi di dalam. (El, nanti kalau dimarah Ayah gimana?)


"No, Mas Al. Jan katih tau Yah bial dak dimalah," jawab sang bocah satunya. (No, Mas Al. Jangan kasih tahu Ayah biar tidak dimarah.)


"Ot!" Althan Putra Ghifari menunjukkan jarinya yang membentuk huruf O.


"Mas Al iatin lau ada Bang tama Yah, ya. Atu yang culi pelmennya, ot?" (Mas Al liatin kalau ada Abang sama Ayah, ya. Aku yang curi permennya, ok?)


Althan mengangguk. Sedangkan, Elthan--kembarannya itu mulai mengendap-endap masuk ke dalam pos satpam menghampiri meja di dalam ruang berukuran kecil itu. Althan berjaga di belakangnya juga ikut berjongkok mengendap-endap.


"Ehem!"


Suara deheman itu terdengar. Althan dan Elthan yang berjongkok di balik meja saling menoleh.


"Duh, Mas Al. Tanan belisik anti taunan," ucap El setengah kesal. (Duh, Mas Al. Jangan berisik nanti ketahuan.)


"Atu ndak belisik, El!" sangkal Al pada adiknya itu. (Aku nggak berisik, El!)


"Ehem!"


"Tuh tan, Mas Al belisik. Aem aem telus anti taunan tita," ucap El merengut dengan wajahnya yang begitu menggemaskan bagi orang dewasa yang melihatnya. (Tuh kan, Mas Al berisik. Ham hem terus nanti ketahuan kita)


"Ih dibilanin butan atu. El tok eyel." Kembali Al menyangkal dengan netranya yang menampakkan kekesalan. (Ih dibilangin bukan aku. El kok ngeyel)


"A--"


"Pak Dodi, ada yang maling ini!" teriak Radit yang sudah berdiri bersandar di kusen pintu pos satpam dengan netra menatap datar pada dua bocah yang masih berjongkok di samping meja.


"Yah!" Kedua bocah tiga tahun itu langsung berdiri dengan wajah terkejut yang begitu lucu.


Pak Dodi yang baru saja kembali dengan gelas kopinya menutup mulut menahan tawa karena aksi dua bocah kembar Dokter Radit itu. Sedangkan Alan ikut berdiri di samping Ayahnya dengan wajah mengejek pada dua adiknya.


"Apa, hem? Ayo bilang, siapa yang ngajarin nyuri?" tanya Radit dengan wajah tegasnya.


"Bang tok bilang Yah!" rengut El menatap kesal Alan. (Abang kok bilang Ayah!)


"Eh, malah marahin Abang dia, sini kalian berdua Ayah mau ngomong!"


Radit berjalan lebih dulu menuju bangku kayu yang ada di halaman rumah. Diikuti oleh ketiga putranya yang berdiri dengan kepala tertunduk di hadapan sang Ayah yang duduk dengan wajah tegas.


"Ayah tanya siapa yang ngajarin kalian buat nyuri, hem?" tanya Radit dengan wajah tegasnya.


"Ndak ada, Yah. El mau maem pelmen kalena pelmen unya El diimpen Unda," ucap El dengan wajah tertunduk. (Nggak ada, Ayah. El mau makan permen karena permen punya El disimpen Bunda)


Radit mengangguk. Lalu beralih pada Althan.


...Bersambung.......


...Vote sama hadiahnya ya jangan lupa...