
Berbulan-bulan pun berlalu, kini sudah tiga bulan sejak kepergian Lina dari rumah Dokter Ardi. Satu sisi dia lega, tapi terkadang dia merasa rindu. Kandungannya sudah berusia tujuh bulan sekarang. Waktu ternyata berjalan tanpa terasa.
"Mbak Lin mau makan apa? Aku mau belanja ke pasar hari ini," ucap Diva minggu pagi pada Lina yang sedang berkutat dengan buku-buku motivasi yang dibelikan oleh Viona sebulan lalu ketika adiknya itu berkunjung kemari.
"Apa saja, Div. Mbak makan kok kalau yang sehat-sehat."
"Mbak mau di rumah aja atau mau ikut aku ke pasar?" tanya Diva lagi, yang sudah naik ke atas motornya.
"Mbak di rumah saja, nggak apa-apa? Mbak mau beres-beres rumah sama nyuci baju," ucap Lina menyengir lebar.
"Eh nggak usah! Mbak, duduk saja sambil baca bukunya, nanti beres-beres sama nyuci biar aku saja. Mbak lagi hamil nggak boleh kerja berat-berat!" peringat Diva dengan melotokan matanya.
"Nggak berat kok, Div. Nyapunya juga gak luas banget, nyuci juga pakai mesin jadi gak bakal capek." Lina menyahut dengan kekehan geli melihat raut wajah Diva.
"Huh. Ya sudah deh kalau menurut Mbak itu nggak bikin capek. Jangan ngerjain hal lain selain nyapu sama nyuci, nanti yang jemur biar aku saja, ok?"
Lina mengacungkan jari tanda setuju.
"Ya sudah. Aku berangkat dulu, Mbak!"
Lina mengangguk. Setelahnya motor Diva menghilang di balik tikungan jalan setapak itu.
...••••...
Di tempat lain, Kinar sedang duduk berselonjor di ranjang, menunggui Dokter Radit--suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya. Dua sejoli itu sudah bersiap akan tidur, tapi si Dokter Radit malah memeriksa pekerjaan. Jadi, Kinar menunggui suaminya itu.
"Mas, kemarin aku kontrol 'kan sama Dokter Leni. Katanya Mbak Lina sudah resign? Kenapa? Kok tiba-tiba banget? Padahal kan dia bisa mengajukan cuti hamil aja," tanya Kinar penasaran.
"Kemarin Mas dengar-dengar, Suster Lina mau fokus sama kehamilannya dan mau merawat anaknya sendiri kayak kamu." Dokter Radit menyahut setelah meletakkan laptopnya di meja nakas samping ranjang.
"Oh begitu. Sudah lama nggak tukar kabar sama Mbak Lina. Nanti aku mau telepon ah!"
"Bun!" panggil Dokter Radit mencuil lengan istrinya.
"Apaan, Mas?" tanya Kinar pura-pura tak tahu.
"Itu!"
Dokter Radit mengedipkan matanya genit.
"Jangan pura-pura nggak tahu, ya! Atau mau Mas hukum kayak kemarin?"
Pecahlah tawa Kinar mendengar nada ngegas suaminya itu. Sepertinya Pak Dokter sudah tak sabar.
"Ganjen banget sih! Aku lagi hamil loh ini!" ucap Kinar menghentikan tawanya karena tangan-tangan nakal suaminya itu sudah berkeliaran kemana-mana.
"Kata dokter 'kan aman."
"Ya sudah, ayo!"
Ya, begitulah keharmonisan pasangan itu. Mereka kembali melakukan penyatuan dalam balutan cinta dan saling mencurahkan kasih sayang di antara bara gairah yang membuncah.
...•••••...
"Ar, belum ada kabar ya dari Lina? Kamu sudah tanya adik-adiknya, 'kan?" tanya Mama Ria setelah ia dan Ardi menyelesaikan makan malam.
Ini sudah tiga bulan berlalu. Jujur saja, Mama Ria ikut merasakan kehilangan akan sosok yang beberapa bulan lalu sering memperhatikan hal-hal kecil untuknya. Seperti bertanya, 'apa Mama mau kubuatkan teh hangat buat teman baca buku?' atau perhatian kecil seperti memberikannya selimut ketika ia tidak sengaja tertidur di sofa ruang tamu.
"Sudah, Ma. Viona bilang dia nggak tahu. Sedangkan, Haikal nggak mau kasih tahu dimana Lina sekarang." Ardi menyahut lirih.
Pria itu tampak kurus dan tampak gurat lelah di wajahnya. Banyak pikiran yang memenuhi kepalanya hingga berpengaruh pada kondisi fisiknya.
"Kamu cinta sama dia, Ar?" tanya Mama Ria tiba-tiba.
"Cinta? Aku sayang sama dia, dan rasanya sejak dia pergi seperti ada yang hilang," sahut Ardi jujur.
"Kalau kamu nggak cinta untuk apa kamu pertahanin pernikahan kalian yang tidak jelas ini, Ar? Kamu hanya membuat Lina merasa kalau dia kamu nikahi hanya karena anak yang ia kandung. Kamu tahu? Seorang wanita akan memberikan apapun pada lelaki yang ia cintai. Kalau kamu sendiri nggak tahu sama perasaan kamu itu, wajar kalau Lina ingin pergi. Bagaimana dia tahan bersama lelaki yang tidak mencintainya," ujar Mama Ria memberikan asupan energi untuk putranya agar pria itu paham maksud ucapannya.
"Aku nggak tahu, Ma!"
"Renungkanlah. Biarkan Lina menenangkan dirinya sendiri. Jika kamu sudah tahu akan perasaanmu itu, carilah dia kembali dan bawa pulang ke rumah ini. Mama menerimanya sebagai menantu di rumah ini. Apapun alasan kalian menikah saat itu, mungkin itu adalah sebagian skenario yang sudah disusun untuk takdir kalian." Mama Ria mengusap tangan putranya yang ada di atas meja makan. Memberikan semangat pada anaknya agar bisa mencerna baik apa yang ia katakan ini.
"Terima kasih, Ma!"
Mama Ria mengangguk. Banyak doa dan harapan yang ia gumamkan dalam hati untuk kebahagiaan putranya. Jika bersama Lina bukan bahagia putranya, dia akan mendukung keputusan apapun itu, dan jika Lina adalah kunci kebahagiaan putranya, dia rela bersujud dan meminta wanita itu kembali pada putranya. Karena bagi seorang Ibu, kebahagiaan anaknya adalah yang paling utama di dunia ini. Dia tidak peduli badai hujan atau angin topan sekalipun, selagi putranya aman dan senang maka ia akan memberikan hal yang mampu ia berikan.
...Bersambung.......