
Hari-hari pun berlalu tanpa manusia itu sadari. Ada tawa, bahagia, sedih, dan kecewa kadang dirasakan oleh setiap insan. Tinggal manusia itu sendiri bagaimana harus menyikapinya agar tak terlalu berlarut akan rasa semu itu.
"Besok, kamu ikut pindah bersamaku ke rumah Mama," ucap Dokter Ardi ketika ia meminta Lina menemuinya di ruangannya untuk menanyai kondisi kehamilan sang istri. Ya, istri. Ardiansyah, sudah menerima takdirnya yang harus menikah dengan sebuah kesalahan satu malam itu, di saat lalu pernikahan indah sudah dirancang begitu apik oleh sang Mama.
"Ehm... Maksudnya kita tinggal serumah, Mas?" Suster Lina menyuarakan kebingungannya.
"Iya. Kamu gak perlu risau, uang kuliah Viona dan Haikal akan saya kirim setiap bulannya." Dokter Ardi kembali bersuara. Mereka tampak kaku, berbicara seperti seorang rekan kerja yang sedang membahas kondisi pasien dan tugas.
"Nggak. Nggak usah, Mas! Vio dan Haikal tanggung jawabku. Mas gak perlu ikut memberi mereka uang jajan, gajiku cukup kok untuk mereka." Lina menyangkal cepat dengan gelengan. Dia tidak setuju. Tidak ingin lebih menjerumuskan sang dokter itu pada kemelut kehidupannya.
"Kita sudah menikah. Jadi, Vio dan Haikal juga adikku sekarang." ucap Dokter Ardi tegas dengan netra menatap tanpa ekspresi perempuan yang duduk di depan meja kerjanya.
Pada akhirnya Lina mengangguk juga. Setelah selesai perbincangan itu, Suster Lina pamit undur diri yang diangguki singkat oleh Dokter Ardi. Tidak ada hal romantis layaknya seperti pasangan suami istri di antara keduanya. Ya, mau bagaimana? Mereka bukan dua orang yang saling mencintai dalam pernikahan ini. Di sini, hanya Lina lah yang menjadi pihak yang mencintai.
Besoknya, yang bertepatan dengan hari weekend, Dokter Ardi menjemput Lina dan juga meminta izin pada Viona dan Haikal untuk membawa Lina tinggal bersamanya. Di antara dua adik istrinya itu, hanya Vio yang bersikap ramah padanya, kalau Haikal dia tampak sekalu menunjukkan aura permusuhan pada dirinya. Mungkin Lina sudah menceritakan mengapa mereka bisa menikah mendadak begitu. Ardi paham, adik lelaki istrinya itu tidak terima akan apa yang telah ia lakukan pada kakak lelaki remaja itu.
"Kamu gugup?" tanya Dokter Ardi ketika mobi yang ia kendarai sudah berhenti di depan halaman rumah megah milik orang tuanya.
Suster Lina yang duduk di samping kemudi mengangguk singkat. Ya, siapa yang tidak gugup coba ketika ini kali pertama ia bertemu muka secara langsung dengan ibu mertua. Apalagi, penampilannya yang tampak sederhana ini menurut Lina. Kulot cokelat susu, juga kemeja setengah siku yang ia kenakan tamoak begitu sederhana. Meski wajahnya cukup cantik, tapi penampilannya ini menunjukkan dimana kelasnya berada.
Mereka akhirnya turun dari mobil, tas besar berisi pakaian Lina sudah Ardi serahakan pada Bi Rumi--ART keluarga mereka.
"Assalamualikum, Ma!" Ardi mengucapkan salam menghampiri Mamanya yang duduk santai di ruang tamu di hari weekend itu.
"Waalaikumsallam!" Ibu Maria menjawab salam dan mendongak pada Ardi yang berdiri tak jauh dari kursi.
"Kamu bawa siapa, Ar?" Ibu Maria menatap penuh selidik pada perempuan dengan penampilan sederhana yang berdiri di samping putranya.
"Kenalin, Ma! Dia Lina istriku!" ucap Dokter Ardi menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin.
Ibu Maria membelalakkan matanya.
"Istri? Kapan kalian menikah? Jangan bercanda, Ardi!" seru Ibu Maria meninggi karena kekagetannya. Wanita baya itu sampai bangkit dari posisi duduknya tadi, hingga kini ia berdiri.
Ibu Maria menggeleng, memijat pelipisnya yang rasanya berdenyut.
"Astaga, kamu selalu saja suka seenaknya sendiri, Ardi. Gak pernah kamu libatin Mama di setiap keputusan yang kamu ambil, kamu anggap apa Mama ini, Ar?" lirih Ibu Maria penuh kecewa.
"Maaf, Ma!" Dokter Ardi menunduk. Dia salah. Ardi tahu itu.
"Mama sudah bilang padamu dua bulan lalu, kalau kamu mau menikah kamu gak perlu minta restu Mama atau kenalin dia kepada Mama. Jadi, terserah kamu dan keputusanmu itu, Mama gak mau lagi urus kehidupan kamu," ucap Ibu Maria dingin dengan netra tajam pada kedua pasangan itu.
"Ma! Please, jangan gini. Dia istriku sekarang, tolong sambutlah dengan suka cita! Mama boleh kecewa dengaku, tapi jangan mengabaikan istriku, Ma!" Dokter Ardi menatap Mamanya memohon. Dia tidak bisa membiarkan orang lain merasakan kemarahan Mamanya, padahal yang salah di sini adalah dirinya.
"Itu urusanmu, Ar! Mama gak peduli!"
Ibu Maria langsung berlalu pergi masuk ke kamarnya. Meninggkan dua pasangan itu yang menunduk.
"Mas, kayaknya Ibu Maria gak setuju akan pernikahan kita, dan gak bisa nerima aku di sini. Jadi, aku akan tetap tinggal di kontrakanku sampai anak ini lahir, dan nanti kita bisa memutuskan untuk mengakhiri pernikahan ini," ucap Lina ketika hening beberapa detik.
"Jangan ngomong asal, Lin! Masa depan gak ada yang tahu. Jadi, jangan mendului takdir Tuhan!" Dokter Ardi mendelik tak suka.
"Maaf!"
"Sekarang aku antar kamu istirahat dulu, ayo!"
"Tapi--"
"Mama gak akan sekejam itu pada menantunya, Lin. Kamu cukup bersikap baik, dan Mama akan luluh juga nantinya."
Lina mengangguk paham. Baiklah, jadi ia punya misi nih untuk meluluhkan hati sang ibu mertua yang sedang marah pada sang anak, tapu dia juga ikjt imbasnya karena menikahi sang anak. Hadeh, ribet juga ya. Namun, baiklah, Lina akan mengekuarkan semua jurus andalannya dalam menghadapi ini.
...Bersambung.......
...Maaf, ya dua hari gak up 🙏 sibuk di dunia nyata ini, apalagi bulan puasa gini agak keteteran, gaess...