Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Mama Ria Merasa Bersalah


"Lalu, bagaimana sekarang, Ar? Kenapa Lina bisa mengambil keputusan sepihak begini? Apa dia tersinggung sama sikap yang Mama tunjukkan padanya. Mama sudah menerimanya, cuma memang masih canggung saja untuk akrab," ucap Mama Ria dengan lesu. Netranya berkaca-kaca, merasa sedih akan kepergian sang menantu yang tanpa pamitan.


"Aku nggak tahu, Ma!" Ardi pun menyahut lesu.


"Kamu temui adik-adiknya dan tanya kemana Lina pergi, Ar! Atau dia pergi karena kamu?" ucap Mama Lina menatap Ardi penuh selidik.


Ardi menggeleng. Mama Ria pun menghela napas lelah. Dia keluar meninggalkan Ardi yang masih terduduk lesu di pinghir ranjang.


"Ada apa, Bu? Ketemu sama Mbak Linanya?" tanya Bi Rumi pada Mama Ria yang baru saja masuk ke dapur.


"Dia pergi, Bi!" Mama Ria duduk di kursi meja makan.


"Pergi? Maksudnya, Bu?" tanya Bi Rumi tak paham.


"Lina pergi dari rumah ini."


Bi Rumi mengangguk. Dia menimbang, apa harus mengatakan pada sang Nyonya atau tidak akan kejadian Lina yang mendengarkan pembicaraan Ibu Maria dan Dokter Ardi minggu lalu.


"Ehm, Bu... Sebenarnya Mbak Lina mendengar percakapan Ibu sama Mas Ardi waktu itu. Apakah dia tersinggung karena percakapan Ibu sama Mas Ardi?" ucap Bi Rumi akhirnya mengatakan apa yang ia ketahui.


"Dia dengar semua yang kami bicarakan, Bi?" Mama Ria berucap kaget. Padahal waktu itu dia sudah berbicara dengan nada cukup rendah.


Bi Rumi mengangguk pasti. Mama Ria menghela napas lelah.


"Astaga! Pantas saja. Kenapa Ardi tidak menjelaskan semuanya pada Lina. Harusnya Ardi tanyakan pada Lina jika dia ingin melanjutkan pernikahan mereka. Aish, aku pusing memikirkan dua anak muda itu," gumam Mama Ria memijat pelipisnya. Harusnya Ardi bertanya pada Lina tentang pertemuan mereka di club malam, agar kesalah pahaman dan prasangka mereka ini tidak berlarut-larut.


"Jangan terlalu dipikirkan, Bu! Mungkin ini ujian pernikahannya Mas Ardi. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka nanti." Bi Rumi mengusap bahu Nyonyanya menenangkan.


...•••••...


Viona yang hari itu ada di rumah, berjalan menuju pintu mendengar ketukan di pintunya. Ia membuka pintu dan sosok Kakak iparnya itu yang berdiri di depan pintu kontrakan mereka.


"Loh Mas Ardi? Ke sini sama Mbak Lina, Mas?" tanya Viona melongok mencari keberadaan Kakaknya.


Ardi kikuk. Mengusap rambutnya lelah.


"Eh... Justru itu Mas ke sini mau cari Mbakmu itu. Lina nggak ke sini?" tanyanya cemas.


"Loh bukannya Mbak Lina sekarang tinggal sama Mas Ardi? Mbak Lina nggak ada bilang mau ke sini?" sahut Viona kebingungan.


"Oh begitukah?" Dokter Ardi mengusap wajahnya lesu.


"Ada sedikit salah paham. Haikal kemana?"


"Haikal kuliah."


"Kabarin Mas kalau Haikal sudah ada di rumah!"


Viona mengangguk saja. Ia sebenarnya cemas juga akan keberadaan Kakaknya itu, tapi tak ingin ikut campur apa masalah mereka. Rasanya agak canggung kalau dia bertanya pada Kakak iparnya itu.


"Kalau begitu Mas pulang dulu, Vio! Tolong segera kabarin kalau Haikal sudah pulang ya!"


Viona sekali lagi hanya mengangguk. Setelah kepergian Kakak iparnya itu, ia segera masuk ke dalam rumah. Menyambar handphonenya yang ada di kamar, dan segera menekan panggilan ke nomor Kakaknya.


"Halo, Mbak Lina sebenarnya kemana? Mas Ardi nyariin ke sini tadi!" ucap Viona ketika panggilan telepon tersambung.


"Mbak gak bisa kasih tahu kamu, Vio. Mbak baik-baik saja kok di sini. Tolong jangan kasih tahu Mas Ardi kalau Mbak ngangkat pangilan kamu ini," sahut Lina di seberang telepon.


"Mbak, sebenarnya kalian itu ada masalah apa? Kenapa gak bicaraiin baik-baik? Kenapa Mbak main kabur-kaburan gini, sih!" Viona menggerutu kesal pada Kakaknya.


"Kamu nggak paham, Vio! Pernikahan kami ini nggak jelas, makanya Mbak memilih pergi sebelum bertambah jatuh dan sakit hati sendiri. Mbak sudah meminta Haikal untuk mengurus surat perceraian kami nanti setelah Mbak melahirkan."


"Mbak, sebenarnya ada apa? Cerita sama aku!"


"Hanya Mbak yang mencintai di dalam pernikahan ini. Sedangkan, Mas Ardi masih belum bisa melupakan cintanya pada perempuan lain, dan... Mama Ria juga nggak menyukai Mbak sebagai menantunya.... "


Isak tangis di seberang telepon dapat Viona tangkap. Ia ikut merasa sedih dan ingin menangis mendengar sedu sedan Kakaknya di seberang telepon sana.


"Astaga, Mbak! Kenapa baru cerita sekarang? Mbak pasti tersiksa banget beberapa bulan ini. Kalau memang itu keputusan terbaik untuk kalian, Vio akan mendukung keputusan itu. Sekarang yang terpenting Mbak jangan banyak pikiran dan jaga kandungan baik-baik ya!" ucap Vio bergetar karena ikut menahan tangis.


"Terima kasih, Dek! Kalau kamu kangen sama Mbak bisa minta anterin Haikal nanti, ya! Mbak tutup dulu teleponnya, ya!"


"Iya, Mbak. Assalamualaikum!"


Sambungan pun terputus setelah Kakaknya menyahut salam. Viona terpekur, dan mengusap sudut matanya yang berair. Ia ikut merasa sakit mendengar Kakaknya menangis seperti itu. Selama ini, ia belum pernah mendengar Kakaknya menangis sampai tersedu sedan begitu. Pasti Kakaknya sudah banyak menanggung kesakitan hidup ini sehingga ia tak mampu lagi sekarang.


"Semoga nanti kamu dapetin lelaki yang mencintaimu dengan tulus, Mbak!"


...Bersambung.... ...


Maaf, ya aku nggak bisa update tiap hari karena bulan puasa sibuk banget 🙏 nanti akhir Mei aku bakal adain GA kalian pantengin terus ya story ini, kalau bosan tinggalkan saja, aku gak maksa dan gak usah komen yg bikin down penulis tolong ya 🙏🙏 karena mikirin alur dan menyusun kata ini gak mudah banget, gaesss jadi harap jadi pembaca cerdas