
"Oke. Beri kesan yang baik, ceklis. Cari kesamaan dengan mertua... Hem, apa ya? Mama suka apa? Ok, simpan dulu!"
Wanita itu sibuk dengan ponselnya sambil bersandar di sofa yang ia duduki.
"Masak bareng. Ceklis. Kasih hadiah? Ok, disimpen, kira-kira Mama Ria suka hadiah apa ya?" gumamnya dengan tangan mengetuk dagu.
"Lagi ngapain kamu?"
"Hah?" Lina terkaget, ketika suara Dokter Ardi yang terdengar di samping telinganya.
Ternyata pria itu sudah duduk di sampingnya dengan mepet, kepala dokter itu bahkan hampir menempel dengan kepalanya melihat ke layar handphone yang Lina pegang.
"Ngapain?" tanya Dokter Ardi menjauhkan tubuh sehingga mereka sedikit berjarak.
"Oh, itu... Lagi baca artikel." Suster Lina menjawab kikuk.
"Minggu depan kamu chek up, 'kan?"
"Iya. Aku konsul sama dr. Siska Maharani, Sp. Og." Wanita itu menyimpan handphonenya di atas meja.
"Ok, nanti kutemani."
Ya, hanya seperti itu percakapan yang mereka lakukan. Hampir 4 bulan mereka menjalani hubungan tak jelas ini. Lina berdoa dan selalu berharap jika memang Ardiansyah itu adalah jodohnya, maka bukakanlah pintu hati pria itu untuknya.
Seperti yang dikatakan minggu lalu, bahwa minggu ini tapatnya hari Senin Lina akan memeriksakan kondisi bayi mereka. Ia ditemani Dokter Ardi menuju ruangan Dokter Siska. Mereka tidak lagi menyembunyikan pernikahan mendadak mereka. Dokter Ardi sendiri yang mengakhinya pada semua orang sebulan yang lalu. Meski tidak serta merta orang-orang menyambut hangat berita itu, ada juga yang beberapa menggosipkan mereka. Namun, baik Lina dan Dokter Ardi sendiri tidak ambil pusing.
Kebetulan yang tidak enak itu ketika ia lihat netra sang suami yang mengarah pada dua orang yang sedang berjalan bergandengan. Merekalah Dokter Radit dan Kinar.
"Mas!" panggil Lina menyenggol lengan Dokter Ardi.
"Hah?" Pria tampak terkejut.
"Masih belum move on ya dari Suster Kinar?" tanya Lina to the poin.
"Yah, susah deh kalau masih belum move on gitu," gumam Lina lirih, ikut masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga.
Hari ini kebetulan mereka pulang di waktu bersamaan. Untuk itulah mereka bisa pulang bersama. Jika biasanya Lina akan naik taksi jikalau ia pulang lebih dulu dari sang suami.
"Ehm, Mas... Bisa berhenti di toko kue itu sebentar?" ujar Lina menunjuk banner yang terpampang di depan jalan saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Kamu mau beli kue?" tanya Dokter Ardi mengarahkan mobil dan memasuki area toko kue itu.
"Iya. Buat Mama Ria. Mama suka kue apa?" Lina merogoh tas kecilnya untuk mengambil dompet, lal menoleh pada Dokter Ardi yang tampak memperhatikannya.
"Beli kue yang terbuat dari kacang. Mama suka itu," jawab pria itu dengan senyum yang amat tipis.
"Mas tunggu di sini saja, biar aku beli sendiri."
Dokter Ardi mengangguk. Lina keluar sendirian dan memilih kue untuk sang mertua. Lima belas kemudian dia kembali dengan sekotak kue yang dibungkus plastik berlogo toko kue itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Ketika sampai, Dokter Ardi langsung meminta izin ke kamar duluan. Sedang, Lina menghampiri Mama Ria yang sedang duduk santai di ruang TV.
"Ma, ini aku beliin kue kacang. Kesukaan Mama, 'kan?" Lina menyodorkan plastik yang ia bawa setelah menyalami tangan wanita baya itu
"Terima kasih," sahut Mama Ria singkat.
"Sama-sama, Ma. Kalau gitu aku ke kamar dulu, ya!"
"Hem!"
Lina mengembangkan senyum bahagianya karena kue pemberiannya dimakan oleh sang mertua. Setelah memastikan hal itu, ia pun berlalu ke kamar untuk membersihkan diri.
"Tuh, Nak! Nenek kayaknya seneng deh Mama kasih kue kacang. Kapan-kapan kita bikin sendiri ya biar Nenek bisa luluh!"
...Bersambung.......