Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Honeymoon Jilid 2


Ini hari ketiga mereka di Bali. Kinar kini sedang asik memasak di dapur untuk makan siang mereka. Bi Sri memang tidak diizinkan datang karenamereka tak nyaman menikmati waktu berdua jika ada orang lain di villa ini. Rumah Bi Sri juga tidak jauh dari villa ini. Hanya berjalan 10 meter paling.


"Mas!" Kinar tersentak karena sebuah lengan yang melingkari pinggangnya.


"Kamu wangi!" bisik Radit di balik bahu Kinar.


"Aku mau masak ini, minggir dulu ah!" Kinar menggekiat geli karena embusan napas hangat lelaki itu menerpa lehernya yang terekspos. Karena rambutnya yang ia cepol ke atas dengan sebuah jepitan.


"Kita belum pernah coba di sini, kan? Mau coba sensasinya, sayang?" bisik Radit serak dengan sebuah kecupan singkat di leher sang istri.


"Mas, jangan mulai ya!" ujar Kinar memperingati. Ia sedang mengiris wortel untuk membuat sup.


"Gak boleh nolak!" Radit langsung membalik tubuh Kinar. Melepaskan pisau dapur yang ada di tangan sang istri dan neletakkannya di atas meja kompor.


"Mas!" Kinar memekik terkejut karena dirinya yang digendong dan di dudukkan di atas meja makan persegi panjang di dapur itu.


"Apa, hm?" ucap Radit mengungkung Kinar dengan kedua tangannya berada di samping kanan dan kiri tubuh wanita itu.


"Ini masih siang loh!" Kinar mendengus pada sang suami.


"Kenapa kalau siang, gak ada pengaruhnya, kan?" Radit berdiri di antara kedua kaki sang istri yang terbuka. Mengalungkan kedua tungkai itu ke pinggangnya.


"Tap--"


Ucapan protes Kinar ia bungkam dengan sebuah ciuman lembut. Kinar tak bisa menolak karena sensasi ciuman lembut itu menuntut untuk dibalas. Dua pasang manusia itu saling membalas ciuman. Kedua tangan Kinar sudah mengalung di leher Radit, sedang tangan Radit sudah melucuti kancing-kancing baju piyamanya yang Kinar kenakan.


"Ah...."


Desau suara merdu itu keluar dari bibir Kinar yang sudah dilepaskan oleh Radit. Karena kini bibir pria itu sudah berpindah ke arah leher putih sang istri. Hingga keduanya saling merapatkan diri dan saling menyatu bersama, serta wajah penuh kepuasan terpampang di wajah masing-nasing barulah permainan siang itu sekesai satu jam kemudian.


"Mas yang masak, ya! Aku lapar Mas malah ganggu aku tadi!" gumam Kinar dengan kepala bersandar lelah di bahu sang suami. Dia masih duduk di atas meja makan


"Ok, no problem. Tadi mau masak apa?" tanya Radit mengelus punggung Kinar yang sudah ia pakaikan kembali piyama tadi.


"Sup ayam. Banyakin brokolimya ya, Mas! Aku suka makan brokoli," sahut Kinar mengangkat wajah.


"Siap, Nyonya!" Radit menjauhkan tubuh setelah mengecup singkat kening Kinar.


"Jangan lama!" seru Kinar turun dari meja dan berjalan ke kamar ingin membersihkan diri.


"Ayahmu sudah banyak berubah tuh, Nak! Perhatian dan ya itu mesumnya makin menjadi, ups!" kekeh Kinar sambil mengelus perutnya.


Kinar kembali keluar dari kamar setelah selesai membeesihkan diri dan berganti pakaian dengan sebuah dres rumahan sepanjang lutut. Sedangkan, Radit sendiri masih bertelanjang dada dengan celana piyamanya. Belum mandi sama sekali.


"Sup ala Dokter Radit untuk Nyonya Raditya!" seru lelaki itu meletakkan mangkuk sup di atas meja makan. Oh, tentunya sudah ia bersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa percintaan mereka tadi.


"Alay, ih!" ejek Kinar dengan senyum geli.


"Gak apa-apa! Alaynya cuma sama kamu!" sahut Radit dengan wajah datar khasnya.


"Eh, gak cocok. Ngomongnya kok pakai muka datar, sih!" gerutu Kinar.


"Makan ya, Bun! Gak usah ngomong terus!" Radit menyendooan nasi dan lauk ke piring dan menyerahkannya ke hadapan Kinar. Ia pun menyendok nasi untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi samping wanita itu.


"Assalamualaikum, Ma!" sapa Kinar setelah panggilin video terjawab.


"Waalaikumsallam. Gimana? Senang gak di sana?" tanya Ibu Sonia dengan senyum terkembang.


"Senang, Ma! Tempatnya asri dan sejuk pemandangannya juga indah banget. Alan mana?"


"Ada. Masih main sama Bi Isah. Bentar Mama samperin dulu!" Lalu suara grasak-grusuk di sebwrang sana terdengar. Kinar menunggu hingga tampilan di layar ponselnya kembali menampakkan wajah Ibu Sonia.


"Alan! Sini ada Bunda sama Ayah ini!" seru Ibu Sonia yang duduk di sofa ruang tengah.


Tidak lama, Alan sudah berada di pangkuan Ibu Sonia. Wajah putranya terpampang memenuhi layar ponsel Kinar. Si balita sepuluh bulan itu tampak ingin meraih handphone sang nenek.


"Abang, kangen Bunda gak? Bunda kangen, Nak!" seru Kinar hingga wajah sang putra memperhatikannya. Hanya celoteh tak jelasnya yang keluar.


"Hehehe. Duh gemes banget sih anak Bunda. Kangen Ayah juga gak?" kekeh Kinar mengalihkan ponsel hingga wajah Radit yang tampak di layar. Ya, Radit memang duduk di samping sang istri di atas ranjang mereka.


"Bang, jangan nakal ya di sana! Ayah sama Bunda pulang besok, nanti Ayah bawaain oleh-oleh, ok!" ucap Radit dengan senyum tipis. Wajah sang putranya di seberang sana tampak lempeng, dan kekehan lucunya terdengar nyaring. Duh, Kinar jadi tambah rindu.


"Kamu gak capek kan, Kin? Jangan capek-capek, kamu lagi hamil loh!" Kini wajah Ibu Sonia yang kembali tampak.


"Iya, Ma. Gak ada capek-capek kok lah wong di kamar terus, eh!" Kinar keceplosan dan segera menutup mulutnya dengan tangan. Radit yang duduk di sampingnya hanya bisa terkekeh.


"Hahaha, jujur banget sih, Kin. Ya sudah Mama tutup ya teleponnya. Istirahat kamu jangan mau diajak begadang terus sama Radit, ingat kesehatan!" titah Ibu mertuanya itu.


Kinar mengangguk, "iya, Ma. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsallam!"


Lalu panggilan video pun ditutup. Kinar meletakkan ponselnya di nakas. Kini duduk miring menghadap sang suami yang tersenyum geli.


"Tuh, Mas! Denger kata Mama. Jangan banyak-banyak ajak aku begadang," ucap Kinar dengan wajah sok memperingati.


"Alah, kamu juga mau, pakai acara bilang. Jangan berhenti, Mas... Geli jangan di situ--"


Kinar langsung menutup mulut Radit. Wajahnya memerah, dasar suami gak tahu diri banget. Masa yang begituan dikasih tahu sama si penonton sih.


"Ih gak ada ya!" sungutnya dengan netra melotot.


"Hahaha!" Tawa Radit pun pecah melihat wjaah istrinya yang begitu menggemaskan baginya.


"Ih ngeselin banget sih! Awas jangan dekat-dekat aku!" Kinar memberengut dengan membaringkan diri memunggungi Radit yang masih saja tertawa kecil.


"Bunda ngambekkan. Maaf, ya!" Radit ikut berbaring dan memeluk tubuh Kinar dari belakang.


Diam-diam Kinar mengulum senyum akan sikap manis si suami datarnya itu. Kinar kira si manusia es macam Dokter Radit ini gak bisa merayu, eh ternyata lebih dari itu. Kinar jadi makin menjadi si budak cinta saja. Ck, gak boleh dibiarin ini dia juga harus membuat si manusia es ini jadi bucin juga.


...Bersambung.......


...Hadiahnya yang buanyakkkk gaess, hehe...